Mahrus Ali, Pemuda Kreatif yang Ciptakan Mesin Sablon Sendiri

Mahrus Ali, Pemuda Kreatif yang Ciptakan Mesin Sablon Sendiri

Meski berasal dari desa, tepatnya dari Desa Petung Kecamatan Curahdami, Mahrus Ali, 31, mampu mengharumkan nama Bondowoso. Lewat karya inovasinya membuat mesin cetak sablon plastik, dia mampu mengangkat derajat para pemuda desa untuk kreatif dalam menghasilkan uang. Dia juga pernah meraih penghargaan sebagai pemuda pelopor se Jawa Timur dan mendapat penghargaan dari Gubernur.

Rumah Mahkrus Ali di Desa Petung Kecamatan Curahdami terasa sejuk dan cerah. Beberapa karyawan tampak sibuk membuat mesin cetak sablon plastik. Perusahaan kecil itu tengah membuat mesin cetak sablon untuk dikirim ke pemesan. Mahkrus sengaja menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya, keluarga, dan para tetangganya dengan membuat mesin cetak sablon plastik.

"Awalnya, saya punya ide untuk bikin mesin cetak sablon sendiri. Dengan mesin itu, maka saya bisa mengajak sanak keluarga dan tetangga saya untuk memperoleh penghasilan," katanya.

Meski hanya berlatar belakang pendidikan SMA dan masih kuliah di FISIP Unibo, Mahrus ternyata tidak bisa lepas dari pekerjaan pembuatan mesin sablon, khususnya mesin sablon plastik. Diapun mencari referensi dari internet dan Youtube untuk pembuatan mesin sablon plastik. Kemudian, dia membeli bahan-bahan untuk pembuatan mesin sablon plastik. "Ternyata, setelah berbulan-bulan berkutat dan fokus membuat mesin sablon, akhirnya terwujud juga mesin cetaknya," katanya.

Mesin cetak sablon plastik yang terdiri dari besi, dinamo dan bubut itupun dijual dengan harga Rp 20 juta per unit ke konsumen. Ternyata, animo masyarakat cukup besar dalam membeli mesin buatannya. Bahkan, pembeli datang dari Pontianak, Bali, Surabaya, Jakarta, Magetan, Jogjakarta. "Mereka mengetahui karya saya dari internet, " ujarnya.

Selain itu, hasil cetakan sablonnya yang khusus ke plastic atau tas plastik sangat bagus. Tak kalah dengan mesin cetak buatan pabrik. Selain itu, mesin sablon buatan pabrikan harganya diatas Rp 50 juta.

"Kami hanya menjualnya Rp 20 juta per unit," katanya. Bahkan saat ini, dia tengah membuat mesin cetak yang ada mikro kontrolnya. Diapun pun mematok harga sebesar Rp 45 juta. "Sebab, mesin cetak yang ada mikro control buatan pabrik sebesar Rp 75 juta," katanya.

Dia cukup bangga dengan karyanya itu. Apalagi, dia mampu mengajak para tetangga dan temannya untuk bekerja membuat mesin cetak sablon plastik. Sampai saat ini, dia sudah menjual mesin cetak sablon sebanyak 10 unit. "Mesin itu terjual ke luar kota bahkan luar pulau," jelasnya.

Diapun memberi garansi kepada pembeli yang membeli mesin buatannya itu. "Kami akan tetap bertanggungjawab dengan mesin buatan saya itu. Saya akan memberi garansi sehingga pem-
beli tidak kecewa," katanya. Bahkan atas hasil karyanya itu, dia pernah menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo sebagai pemuda pelopor bidang teknologi tepat guna (TTG).

Dia berharap para pemuda di Bondowoso untuk bisa berbuat lebih kreatif dan inovasi. Sebab, dengan menghasilkan karya yang kreatif, maka bisa menghasilkan pendapatan tanpa bergantung pada orang lain. Apalagi, karyanya membuat mesin sablon, maka dia mampu memperkerjakan para tetangga dan sanak keluarganya.

- Radar Ijen, 15/01/16