Menggalakkan Budaya Membaca ala Forum Lingkar Pena Bondowoso
Intens Gelar Taman Baca, Anggota Masih Sedikit
Budaya membaca adalah pintu untuk bisa menulis. Forum Lingkar Pena Bondowoso, mencoba untuk membudayakan hal tersebut. Dengan membuat taman baca, harapannya masyarakat bisa bangkit. Bangkit untuk membaca dan menulis.
Tagline 'Baca Buku Yuk!' tertulis besar di sebuah banner yang terbentang di salah satu sudut alun-alun Bondowoso. Tepatnya di sekitar bangunan Monumen Gerbong Maut. Di samping banner itu, terlihat hamparan buku di atas tikar. Itulah taman baca gratis yang disediakan aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) Bondowoso saat acara Car Free Day (CFD) akhir pekan, kemarin.
Masyarakat yang tengah menikmati jalan-jalan pagi di CFD alun-alun Bondowoso, tentu mengetahui adanya taman baca tersebut. Banyak dari mereka yang menyempatkan diri untuk sekedar melihat-lihat. Jikalau ada yang cocok, biasanya mereka memilih untuk duduk dan membacanya. Sudah empat bulan ini, komunitas ini intens menggelar taman baca di acara CFD Bondowoso.
Selama ini, forum taman baca tersebut dikelola hanya oleh satu orang saja, yakni M Rasyid Hidho. Warga asal Jalan Mayjen Panjaitan, Dabasah, ini berinisiatif menggelar taman baca karena ingin memberi stimulus masyarakat untuk gemar membaca. "Sebenarnya, forum lingkar pena Bondowoso ini sudah ada sejak 2009, namun sempat vakum dan pada Nopember2015 lalu, kami mulai lagi," tuturnya.
Ridho menjelaskan, semangat untuk memunculkan kembali forum ini, karena keaktifannya mengikuti kegiata FLP provinsi. Karena ingin menularkan budaya membaca dan menulis, FLP Bondowoso harus hidup kembali. "Saat ini saya masih sendirian, namun kedepan kami berusaha komunitas ini diikuti banyak orang," tuturnya.
Salah satu tujuan dari FLP adalah munculnya para penulis handal. Ridho mencontohkan, salah satu kader FLP yang sukses adalah Habiburrahman El Shirazy, penulis Ayat-ayat Cinta. Contoh teladan itulah yang ingin ditularkannya kepada seluruh masyarakat Indonesia.
Sementara, Ridho sadar dengan kondisi Bondowoso. Boro-boro menulis, budaya untuk membaca saja, masih sangat lemah. Sehingga untuk awalan, dia melakukan treatmen dengan membuat taman baca. "Harapannya, taman baca ini mnjadi stimulus masyarakat untuk gemar membaca, dan ketika seseorang gemar membaca, akan mudah untuk menulis," tuturnya.
Selama ini, stok buku yang disajikan pada taman baca itu berasal dari sumbangan berbagai penerbit. Jaringan FLP secara nasional, membuat Ridho tersambung dengan berbagai penerbit sehingga banyak buku yang kemudian di suplai untuk taman baca FLP.
Saat menggelar taman baca, para pengunjung tidak hanya bisa membaca buku saja. Mereka bisa sharing mengenai penulisan dan tata cara menulis. Ridho menjanjikan, jika semangat itu terus terbangun, kedepan bisa jadi latihan menulis FLP Bondowoso akan mengundang para penulis nasional.
- Radar Ijen, 19/01/16
