Kreativitas Fitri Ubah Sandal Jepit jadi Sandal Karakter

Sandal Karakter Tamanan - Bondowoso

Kegagalan seringkali mengantarkan seseorang kepada kesuksesan. Itu pulalah yang dirasakan Fitri. Berkat konsistensinya di dunia kerajinan tangan, dia pun mulai merasakan hasilnya. Produk sandal berkarakter kartun yang dia geluti mulai diminati pasar.

Desa Kalianyar, Tamanan, selama ini dikenal sebagai sentra perajin genting. Mayoritas masyarakat desa yang juga menjadi salah satu desa wisata di Bondowoso itu menggantungkan hidupnya dari genting. Bahkan, banyak warga dari desa sekitar yang juga bekerja sebagai buruh genting.

Saat memasuki kawasan desa tersebut, tak sulit untuk menemukan tempat pembuatan genting. Hampir di setiap depan rumah warga, akan tampak orang yang tengah sibuk memproduksi. Baik itu menjemur, atau pun tengah membakar genting.

Nuansa pembuatan genting itu juga tampak saat memasuki gang kecil menuju rumah Fitri di dusun Kalianyar Tengah. Saat ditemui di rumahnya, Fitri tengah sibuk menjahit kain yang akan direkatkan ke sandal jepit. Ruang tamu rumah Fitri sekaligus juga digunakan untuk tempat produksi. Puluhan produk yang sudah jadi tampak ditata rapi di sudut ruangan.

"Sudah sekitar enam bulan saya membuat sandal karakter ini," ujar perempuan berusia 27 tahun tersebut. Dinamai sandal karakter, karena di bagian atas sandal tersebut ada semacam boneka kecil berbentuk sejumlah karakter kartun. Beberapa di antaranya adalah karakter Kororo, Hello Kitty, Teddy Bear, Keropi, Naruto hingga Bo Boi Boy.

Pembuatan sandal karakter tersebut sebenarnya bukanlah sesuatu yang disengaja sebelumnya. Pada mulanya, dia menggeluti pembuatan bando dan bross. Namun penjualan produknya tak signifikan. Seiring berjalannya waktu, ide pun muncul. "Saya nggak tahu juga mulanya dari mana. Ide bikin sandal karakter ini tiba-tiba muncul," ungkapnya.

Setelah iseng-iseng bikin, ternyata peminat mulai ada. "Awalnya tetangga-tetangga sini yang minta dibuatkan," ungkapnya. Dari situlah, dia mulai menyeriusi pembuatan sandal karakter tersebut. Dan tak pernah disangka sebelumnya, hasil produksinya makin banyak yang meminati.

Saat ini, banyak pedagang sandal yang kulakan kepadanya. Termasuk salah satu pedagang di Jember dan Bondowoso. Bahkan beberapa waktu lalu, ada wisatawan desa wisata dari Surabaya yang kulakan hingga puluhan sandal. Setiap sepasang sandal, dia hanya mematok harga Rp 25 ribu.

Seiring dengan banyaknya pesanan, dia mulai menggenjot produksinya. Namun karena prosesnya yang harus detail, setiap harinya maksimal hanya sekitar 12 pasang sandal saja yang bisa dia selesaikan. "Kalau pas lagi dikejar waktu, saya biasanya minta bantuan saudara-saudara untuk produksi," jelasnya.

Kendati ada bantuan tenaga, dia tak melepas proses pembuatan begitu saja. Fitri selalu memantaunya dengan teliti untuk tetap menjaga kualitas. Berkat ketekunannya itu, kini omzetnya sudah mencapai jutaan rupiah.

Untuk memanjakan pelanggan, dia selalu memberikan kemudahan-kemudahan. Misalnya terkait dengan motif atau bentuk karakter yang akan dipesan. Begitu juga dengan kombinasi warna sandal karakter tersebut. “Kalau untuk bentuk, motif atau pun kombinasi warna bisa dipesan," ungkapnya.

Soal mengombinasikan warna dalam sandal karakter tersebut. Fitri juga tak sembarangan. Dia akan memilih memadukan warna yang benar-benar serasi. Bahkan dari kombinasi warna itu. Fitri hafal mana yang garapannya sendiri, atau garapan dari handycraft milik orang lain.

Di sisi lain, ujian-ujian dalam menjalankan usahanya juga dirasakan oleh Fitri. Misalnya, ketika beberapa waktu lalu, uang hasil penjualan nyantol di salah satu pelanggannya. Padahal modal yang dia miliki masih pas-pasan. "Karena nggak ada modal, akhirnya sempat macet," ungkapnya.

Modal memang menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Fitri. "Dari awal memang modalnya sedikit. Hanya Rp 100 ribu," kenangnya. Bahkan karena minimnya modal tersebut, dia harus menolak sejumlah permintaan dalam jumlah besar. Misalnya ketika dia mendapatkan tawaran dari kerabatnya untuk mengirim produk ke Bali. Sampai saat ini, tawaran itu belum terealisasi. Padahal di Bali, sepasang sandal karakter itu bisa dipatok dengan harga yang jauh lebih mahal berkisar Rp 75 ribu.

- Radar Ijen, 05/01/16