Unggah Foto Hasil Berburu, Cewek ini Di-bully Netizen
BONDOWOSO – Facebook (FB) dengan akun Rina Emuachemuach lagi hangat diperbincangkan oleh warga Bondowoso. Hal ilu setelah di akun tersebut diunggah foto-foto seorang wanita yang menunjukkan sejumlah hewan yang dilindungi hasil buruan. Sontak, banyak warga dunia maya, khususnya yang mencintai satwa dan traveling, berkomentar negatif.
Foto hasil capture dari FB tersebut, tampak Rina Emuachemuach menambahkan lima foto baru bersama Rudy Sopan, pada 8 Desember pukul 8.10. di foto tersebut diberi keterangan, "hasil buruan tadi malam musang, elang, n 3 buah kalong. Lumanyan.... disate hahahy". Dalam foto-foto itu tampak seorang perempuan dengan bangga membawa satu ekor elang dewasa, seorang pria remaja menenteng kalong dan elang, seluruh hasil buruan, serta saat mereka beraksi mengolah hewan itu jadi santapan.
Yanuar Pratama salah seorang pegiat konservasi mengungkapkan, perburuan hewan liar dengan cara menembak kini semakin menjadi-jadi di Bondowoso. "Tak pandang bulu, hewan apa yang di depan mata langsung ditembak saja," ujar pria yang juga ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bondowoso saat mendiskusikan foto perburuan hewan dilindungi di kanun Disparporahub, kemarin (11/12).
Mantan anggota pencita Alam SMAN Tenggarang tersebut merasa miris sekaligus menganggap perburuan sebagai dilema. Sebab, saat ada yang menembak, berburu dan menyantap hewan juga tak bisa disalahkan seratus persen. Artinya, mereka tidak tahu mana hewan yang dilindungi atau tidak.
"Saya sendiri, tidak tahu hewan dengan kategori mana yang dilindungi. Kalau harimau, macan, badak, komodo itu tahu kalau dilindungi," tambahnya.
Padahal tak hanya hewan itu saja yang dilindungi. Belajar dari pengalaman mahasiswa Jember yang menyantap anak kucing hutan yang banyak mendapatkan perhatian publik beberapa waktu lalu, ternyata dia tidak tahu hewan itu dilindungi. Sehingga kondisi tersebut harus menjadi perhatian instansi berwenang, seperti BKSDA, agar terus melakukan sosialisasi ke masyarakat termasuk daerah yang memiliki potensi fauna yang dilindungi ini.
Tak hanya BKSDA, dia yakin tingkat Kades dan Camat, juga belum tahu hewan mana saja yang dilindungi. "Tahunya ya sama seperti saya. Badak, Elang Jawa, Macan atau Komodo," tambahnya.
Slamet Riyadi, ketua Hijau Madani mengungkapkan, sebanarnya aturan-aturan terhadap perburuan hewan liar, terutama yang dilindungi, atau yang berada di kawasan konservasi, sudah sangat tegas. Tinggal saat ini bagaimana sosialisasi terhadap aturan itu yang ditingkatkan. Kalau pun ada pelanggaran, maka sanksi yang ada harus dijalankan.
Terkait dengan maraknya perburuan hewan liar dengan menggunakan senapan angin, dia berharap juga ada ketegasan aturan yang diberikan. "Kalau untuk olahraga berburu, tentu salurannya adalah Perbakin. Disitu juga sudah jelas aturan mainnya. Sekarang tinggal mereka yang berburu secara liar ini yang harus mendapatkan sosialisasi," ungkapnya.
Sementara itu, Harry Patriantono Kadis Disparporahub Bondowoso yang duduk bersama kemarin, mengaku cukup prihatin dengan aktifitas anak-anak muda yang suka dengan perburuan liar itu. "Rata-rata mereka yang senang berburu ini, suka memamerkan foto," tambahnya. Semisal akun facebook dari Rina Emuachemuach adalah siswa Bondowoso, dia ingin bertemu dengan kepala sekolah anak yang bersangkutan. Karena menurutnya, ketidakhadiran beragam fauna di alam Bondowso tentu mengurangi rasa alamiah bagi wisatawan. "Saat saya ngetrail, burung derkuku saja itu jarang. Banyak yang ditembak," tambahnya.
Dalam penelusuran di akun FB Rina Emuachemuach, sudah tidak ada lagi foto tersebut. Di akun tersebut, update terkahir tercatat pada 7 Desember. Diperkirakan, foto tersebut sudah dihapus dan diblok oleh pemiliknya.
- Radar Ijen, 12/12/15
