RSUD dr Koesnadi Bondowoso Fokus Kembangkan Anti Bisa Ular

RSU dr Koesnadi Bondowoso Fokus Kembangkan Anti Bisa Ular

Jumlah dan jenis ular berbisa ternyata cukup banyak di Bondowoso. RSUD dr Koesnadi berupaya menekan angka kematian akibat gigitan ular berbisa itu.

Pagi itu, disebuah ruangan di RSUD dr Koesnadi, tampak seorang petugas menata puluhan toples berisi ular berbisa yang sudah mati. Ular jenis cobra dan hijau serta ular tanah itu sengaja dimasukan ke dalam toples yang sudah diberi alkohol. Ular itu sebelumnya telah menggigit warga Bondowoso, namun ular itu berhasil ditangkap. Lalu ular-ular itu dibawa ke RSUD dr Koesnadi untuk dijadikan bahan penelitian.

"Setelah melukai korban, ular itu ada yang ditangkap hidup-hidup bahkan ada yang sudah mati lalu diserahkan ke RSU dr Koesnadi," ungkap dr Agus Suwardjito. Direktur RSUD dr Koesnadi Bondowoso, kemarin (11/12).

Tentu saja penangkapan ular itu bukan untuk aksi-aksian semata. "Namun keberadaan ular itu untuk dijadikan penelitian bagi dunia kedokteran di Bondowoso," ujarnya.

Apalagi, sepanjang tahun 2015 ini banyak sekali kasus gigitan ular berbisa di Bondowoso. "Namun pihak rumah sakit di Bondowoso belum memiliki obat atau anti bisa. Tetapi salah seorang dokter di RSUD dr Koesnadi ini berusaha mendatangkan obat dari Thailand," katanya. Karena di Thailand sudah ada obat anti bisa untuk mengobati pasien yang digigit ular di ondowoso.

Sedangkan di Indonesia, lanjut Agus, masih belum dibuatkan obat gigitan ular hijau atau ular tanah. Namun untuk gigitan ular cobra, sudah ada obatnya di Bondowoso. "Untuk mengatasi hal itu, pihak RSUD dr Koesnadi sengaja mengirimkan ular hijau dan tanah dalam kondisi hidup ke PT Bio Farma Bandung. Sebab bisa ular itu akan digunakan untuk pembuatan serum," katanya.

Selanjutnya, pihak Bio Farma Bandung akan memproduksi serum atau anti bisa ular hijau atau tanah secara massal. "Jika Bio Farma sudah bisa memproduksi obat gigitan ular, maka kami tidak perlu jauh-jauh mendatangkan obat dari Thailand," katanya.

Oleh sebab itu, Agus punya kepentingan dengan ular yang ada di Bondowoso. Jika masyarakat bisa menangkap ular hijau dalam kondisi hidup bisa diserahkan ke RSUD dr Koesnadi. "Karena ular itu nantinya akan diambil bisanya dan dijadikan obat," katanya. Namun begitu, sebagian masyarakat juga ada yang menangkap ular namun dimatikan karena takut. "Kami pun menyimpan ular yang telah menggigit korban dan menyimpan ular itu ke dalam toples untuk kepentingan ilmu kedokteran," tambahnya.

Bahkan pihak RSUD dr Koesnadi menyediakan ruangan khusus uniuk penyimpanan ular berbisa yang berhasil ditangkap baik dalam kondisi mati maupun hidup. Apalagi di Bondowoso banyak sekali terdapat ular dari berbagai spesies dan jenis. "Bahkan di setiap desa atau kecamatan terdapat ular yang berbeda-beda," katanya. Selain itu jumlah kasus gigitan ular sepanjang tahun 2015 ini banyak sekali.

"Jumlah kasusnya banyak sekali. Sebab banyak warga kita yang bekerja sebagai petani. Saat di sawah, mereka digigit ular. Juga ada ular yang masuk ke kepekarangan atau rumah warga. Saat itu ada juga warga yang dipatuk ular saat berada di dalam rumah," katanya. Bahkan, ada sebuah kasus unik dan angka, ada orang yang dip atuk oleh dua ekor ular secara bersamaan.

- Radar Ijen, 12/12/15