Sirak Issyafi’i, Peraih Penghargaan Film Pendek di Hari Kesehatan Nasional
ON. Itulah judul film pendek Sirak Issyafi’i yang meraih pengahargaan khusus film pendek di Hari Kesehatan Nasional (HKN). ON bukan berani hidup atau nyala dalam bahasa Inggris. Tapi onani yang dianggap tabu tapi nyala di kehidupan para remaja.
Mengenakan jumper berwarna biru dongker Sirak Issyafi’I tampak santai menikmati es capucino di kantin Disparporahub, Tas ransel yang berisi laplop dan kotak persegi panjang dikeluarkan olehnya. Dalam kotak tersebut, bukan alat kamera, bukan pula senapan, melainkan barang yang dianggap remaja itu sangat berharga. "Lha, ini throphy dari lomba film pendek mas," ucapnya.
Sambil membersihkan piala berbahan kaca dengan tinggi sekitar 40 sentimeter itu, Sirak tersenyum-senyum saja ketika ada orang yang nyeletuk, "kok bagus, mengkilap gitu". Ya, piala tersebut didapat dari keberhasilannya meraih penghargaan khusus dari lomba di Hari Kesehatan Nasional (HKN) pada November 2015, di Jakarta. "Pialanya bagusan pemenang film pendek dari pada penghargaan untuk Bupati dan Gubenur. Ya banyak yang tanya sih, kok lebih bagus." ungkap Sirak.
Remaja dengan kumis tipis ini bukanlah peraih juara satu, dua atau tiga dalam lomba film pendek tersebut. Dia peraih penghargaan khusus atas dewan juri. Ketika maju di depan juri, Sirak membicarakan apa adanya latar belakang dengan film yang dibuatnya tersebut. "Juri itu senang, karena film ini jujur. Ada di kehidupan nyata. Tidak mengada-ngada dan berfantasi," jelas Sirak.
Lantas, Sirak mulai membuka laptopnya memutar hasil karyanya yang berjudul ON itu. Dalam film tersebut, dikisahkan seorang anak kecil yang tumbuh jadi siswa SMP. Siswa SMP dalam tokoh film karya Sirak itu, nyatanya disisihkan oleh temannya. Karena tak punya pacar dan culun. Memiliki smartphone, siswa SMP ini mulai mengenal film-film dewasa atau istilah familiar bokep. Hampir setiap istirahat, dia melakukan hal kurang baik, yakni onani. Meski nikmat, namun dalam kenyataannya pemeran utama tersebut dihantui gelisah dan rasa bersalah. "Awalnya ragu sih, karena banyak teman-teman bilang filmnya jorok," katanya.
Mengikuti lomba film pendek di Hari Kesehatan Nasional, bagi Sirak adalah iseng-iseng berhadiah. "Mepet buatnya. Satu minggu sebelum deadline pengumpulan karya," ungkapnya. Dia mendapatkan informasi lomba film pendek ini dari media sosial IG dengan tujuh pemilihan tema. Di antaranya makanan sehat, perilaku sehat, hidup bersih, hidup tanpa narkotika, rokok, dan miras. Selanjutnya, gunakan obat sesuai resep dokter, menjaga reproduksi sejak dini, dan imunisasi.
Pemilihan tema reproduksi, bagi Sirak karena banyak peserta yang memilih tetang rokok, narkoba, hidup sehat dan lainnya. Terispirasi film dengan judul ON yakni Onani itu dilatari salah satu temanya dari Jateng sebagai murid baru di SMKN I Bondowoso. "Namanya orang dari Jateng, sering dikibuli kata-kata jorok sama teman-teman. Kamu tahu ON, teman saya itu bilang iya iya saja, padahal tidak tahu aslinya," kenangnya.
Ditambah lagi, dengan kecanggihan handphone saat ini, pornografi semakin mudah diakses. Dia pun mengambil siswa SMP sebagai tokohnya. Karena masa-masa SMP adalah awal mula pria jadi baligh dan pernah mimpi basah. Waktu tiga hari pengambilan gambar dan satu hari editing, Sirak terbantu dari pemeran utama siswa SMP. "Pemeran utamanya, untungnya pakai adek sepupu," tambahnya.
Tanpa crew, remaja lulusan broascasting SMKN 1 Bondowoso lanjut terus merampungkan film pendeknya. Kesulitan dalam mengambil take gambar adalah saat mengarahkan anak-anak sekolah dengan adegan yang dibutuhkan. "Namanya anak desa dari Tamanan, ada kamera, malu-malu itu," ucapnya.
Ada juga hal yang paling menyusahkan dan Sirak hampir putus asa. Yaitu ketika pengambilan gambar menurunkan celana pendek pemeran utama itu. "Saya yakinkan gak mau, katanya malu. Untungnya adek mau, asalkan dibelikan hape android. Ya saya bilang iya, kalau menang dibelikan android," jelasnya.
Remaja dari Tamanan ini, sempat putus asa karena tidak jadi juara. Sebab, tidak ada pengumuman masuk dari emailnya. Bahkan file mentah gambarnya pun dihapus. "Eh ternyata pengumanan 10 besar yang berangkat ke Jakarta itu molor. File mentah itu dibutuhkan di Jakarta, karena ada workshopnya." pungkasnya.
- Radar Ijen, 14/12/15
