Mama-Mama Gaul (MMG) yang Berkomitmen Membantu Sesama
Ngerumpi dan bikin arisan biasanya banyak dilakukan para ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Namun berbeda dengan komunitas yang menamakan diri MMG atau Mama-Mama Gaul ini. Tak sekedar kumpul-kumpul saja, tapi mereka juga mencetuskan berbagai kegiatan bakti sosial.
Pagi itu, para ibu-ibu rumah tangga ini turun dari mobil di halaman Unit Pelayanan Teknis (UPT) Panti Sosial Lanjut Usia, Sekarputih. Bersama anak-anaknya, mereka langsung saja menuju kantor panti jompo milik Dinas Sosial Provinsi Jatim itu.
Ditemani oleh petugas panti, mereka begitu akrab dengan penghuni panti. Maklum saja, kedatangan ibu rumah tangga berpenampilan ala anak muda tersebut bukan pertama kalinya. "Dulu minta selimut bergaris, sepertinya mereka butuh sandal jepit," ucap salah satu dari ibu rumah tangga tersebut.
Ibu-ibu rumah tangga yang datang ke panti ini bukan dari yayasan social atau sekolahan. Melainkan kumpulan ibu-ibu arisan yang kini membentuk komunitas sosial dengan nama Mama-Mama Gaul atau disingkat MMG. Firdausiana Rama Juwita adalah salah satu dari anggota MMG tersebut. Dia menceritakan bahwa pembentukan awal perkumpulan ini sebetulnya tidak sengaja. Komunitas itu datang dari para orang tua yang sering berkumpul saat menunggu menjemput anaknya pulang sekolah.
Dari sana, mereka sering bercengkrama dan kemudian membentuk arisan. Kumpul-kumpul, jalan-jalan dan berakhir makan-makan, begitulah mereka menjalani kegiatan di komunitasnya. Hingga pada suatu saat, terlintas pemikiran ada kegiatan yang mengarah ke hal yang jauh lebih positif. "Sudah dua tahun MMG ini, tapi pastinya gak tahu. Kami gak resmi, jadi gak ingat," ucap Firda.
Selain itu ada latar belakang tulus dari mama-mama ini, ialah pernah merasakan bagaimana menjadi orang yang kurang mampu. Apalagi masyarakat Bondowoso sering dijumpai orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. "Saya dulu juga orang susah, jadi tahu perasaan mereka," ucapnya.
Punya ide kegiatan brilyan dan positif, 11 mama itu memutar otak bagaimana mendapatkan uang donasi untuk kebutuhan orang yang tak mampu tersebut. Berhubung Firda pandai dalam hal memasak, akhirnya untuk donasi tersebut dilakukan dengan menjual nasi bungkus.
Anggapan miring mengenai kegiatan positifnya tersebut sering didengar oleh Firda dan kawan-kawanya. "Awalnya disepelekan, mencari dana lewat nasi bungkus," tambahnya. Bagi Firda, mencari donasi seperti lembaga sosial lewat proposal bisa saja dilakukan. Namun dia ingin memberikan kontribusi dari keringat sendiri. "Bisa saya hanya memasak, yang lain ada yang bertugas memasarkan sekaligus delivery order," jelasnya.
Pertama membuat nasi bungkus sebanyak 285 buah. Nasi yang dijual Rp 8000 tersebut mendapatkan laba Rp 1,9 juta. "Modal dari kami, pendapatan ini yang akan disumbangkan," ucapnya. Sukses mencari uang lewat usaha jualan nasi, terus dilakukan setidaknya satu bulan dua kali hingga tiga kali. "Pernah sampai buat nasi bungkus 500 buah, ludes dalam sehari," imbuhnya.
Kehabisan tenaga memasak makanan dan mulai kehabisan dana, Firda berserta MMG lainya sempat berhenti melakukan kegiatan sosial. Tapi siapa sangka, semangat dia muncul kembali. Karena ada orang dermawan yang mendonasikan sejumlah uangnya agar semangat kebersamaan berbagi ke sesama umat manusia itu ada lagi. "Dapat uang cash tujuh juta rupiah.Kami semangat lagi," ucapnya.
Hingga kini kegiatan social mereka tak hanya lingkup Bondowoso saja, tapi juga Jember. Tak jarang anggota MMG mengajak anak-anaknya saat memberikan bantuan. Mereka berharap, jiwa sosial dan solidaritas kepada sesama itu tumbuh dalam nurani buah hatinya.
- Radar Ijen, 31/12/15
