Korban Kebakaran Gang Pantekosta Hidup di Tenda

Korban Kebakaran Gang Pantekosta Hidup di Tenda

BONDOWOSO - Kebakaran yang meluluhlantahkan sembilan rumah di Gang Gereja Pantekosta menyisakan duka mendalam bagi para korbannya. Selain kehilangan rumah dan isinya mereka kini harus hidup ditenda-tenda yang disiapkan BPBD dan Dinas Sosial. Warga yang kebanyakan abang becak dan penjual es degan di kaki lima itu, melakukan aktivitas seperti makan minum tidur serta belajar (anak-anak yang sekolah) didalam tenda tersebut. Di saat hujan turun, mereka harus ngungsi ke rumah tetangga terdekat. Hingga kemarin petugas BPBD dan Dinas Sosial serta tenaga sukarelawan mendirikan tenda-tenda untuk para korban.

Tenda warna biru bantuan dari Kementrian Sosial RI itu didirikan tepat diatas lahan yang bangunannya terbakar. Tak butuh waktu terlalu lama. Beberapa jam kemudian, tenda-tenda itupun berdiri. Namun, kondisi tenda los tak ada sekatnya. Sekitar 40-an warga yang menjadi korban, harus menerima kondisi yang ada. "Mau bagaimana lagi, kami menerima saja. Bahkan, saya dan istri serta anak-anak saya langsung tidur di dalam tenda sejak Minggu malam lalu," kata Babun, 40, salah seorang warga yang rumahnya ikut terbakar.

Babun yang sehari-harinya sebagai penjual es degan di depan kantor PU Bina Marga Bondowoso itu, mengisahkan, dia kaget saat api melalap bagian rumahnya. Api yang berasal dari rumah Hasan, langsung menyambar rumah warga lainnya. "Saat itu saya tengah nonton TV. Saya dan istri serta anak-anak saya langsung lari keluar rumah,” terangnya. Hal senada juga dialami warga lain. "Mereka semua berusaha menyelamatkan diri, karena api cepat sekali membakar rumah," tambahnya.

Sedangkan istri pelaku, Atim menceritakan dia kerapkali cekcok dengan suaminya yang mabuk berat setiap malam. "Saat pulang ke rumah, dia selalu mabuk. Saya sering dipukuli," terangnya. Bahkan malam sebelum kejadian, suaminya bersama teman-temannya datang ke rumahnya. Dia pun sempat membuatkan makanan bagi Hasan dan tamunya. "Ada juga seorang petugas yang bertamu di rumah saya saat itu," katanya.

Setelah para tamunya pulang, kata Atim, dia dimarahi oleh Hasan. Bahkan, Hasan menuduh istrinya minum obat (sejenis pil koplo red). Padahal, sebagai istri yang hanya bekerja sebagai pembantu. Atim tidak tahu menahu tentang obat yang dituduhkan oleh Hasan." Saya bilang ke suami saya, jangan bicara macam-macam yang menuduh saya minum obat. Karena, saya memang tidak minum obat," katanya.

Sebaliknya Hasan semakin lama semakin marah dengan omongan suaminya. Hasan pun siap menghajar istrinya. "Namun saya lari keluar rumah dan bersembunyi ke rumah orang tua saya yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah saya. Namun, Hasan tetap mengejar saya ke rumah orang tua saya," katanya.

Namun tak lama kemudian, Hasan yang dalam kondisi teler justru marah dengan melampiaskan kemarahannya dengan membakar rumahnya. Tak ayal, api yang membakar rumah Hasan malah merembet ke rumah tetangganya. "Ada 9 rumah yang hangus terbakar," kata Erfan, Lurah Dabasah Kecamatan Bondowoso. Erfan yang datang ke lokasi langsung mengerahkan karang taruna untuk membantu warganya itu. "Kami memberikan bantuan sembako dan memasak untuk mereka," katanya. Namun, Erfan mengatakan sampai saat ini belum ada dapur umum. "Kami berharap dapur umum segera dibangun," katanya.

Kasat Reskrim AKP Mulyono mengatakan belum mengetahui adanya petugas yang ikut bertamu di rumah Hasan sebelum kejadian kebakaran. "Saya tidak tahu soal hal ada petugas yang bertamu di rumah Hasan sebelum kejadian," katanya.

- Radar Ijen, 08/12/15 -