Ditemukan 76 Penderita HIV/AIDS Baru

Waspada HIV/AIDS

BONDOWOSO - Penularan virus HIV/AIDS semakin cepat dan sulit terbendung. Ini bisa diketahui dari data pasien HIV/AIDS yang berkunjung ke klinik VCT dr Koesnadi Bondowoso. Sejak Januari hingga Oktober 2015 terdapat 76 pasien baru yang berobat ke rumah sakit milik Pemkab Bondowoso itu. Agar virus HIV/AIDS tak meluas ke mana-mana, perlu penanganan komprehensif tidak hanya dari pemerintah namun masyarakat harus pro aktif.

Direktur RSU dr Koesnadi Bondowoso dr Agus Suwardjito mengatakan jumlah pasien HIV/AIDS didominasi usia produktif. Namun begitu, mereka tetap rajin berobat ke klinik VCT Bondowoso. "Jika cepat ditangani, virusnya bisa dihambat perkembangannya jadi penderita ini bisa bertahan lama," katanya. Namun, jika tidak segera diobati maka pasien akan cepat ambruk alias meninggal dunia.

"Namun yang saya herankan itu, mereka mengalami sakit dalam usia cukup muda," katanya. Tentu saja, kata dia, masa depan mereka suram karena seharusnya bisa hidup produktif malah sakit. Oleh sebab itu, dr Agus mengimbau kepada semua pihak untuk melakukan langkah pencegahan penularan HIV/AIDS. "Jadi bukan saja pemerintah yang melakukan upaya pencegahan.

Namun, pihak masyarakat atau LSM wajib untuk melakukan upaya pencegahan penularan virus HIV/AIDS," terangnya.

Misalkan LSM menerjunkan sukarelawan atau volunteer untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas terutama yang tinggal di kantong-kantong penderita HIV/AIDS. "Mereka wajib memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas dengan tujuan warga memahami bahaya dan penularan virus HIV/AIDS," katanya.

Diakui oleh dr Agus, kebanyakan warga atau masyarakat masih belum memahami penularan virus HIV/AIDS. Tak ayal, warga nekad melakukan seks bebas padahal itu berpotensi terkena virus HIV/AIDS. "Ada kasus seorang pekerja bangunan asal Maesan Bondowoso bekerja ke Bali namun dia tertular virus HIV/AIDS karena suka jajan saat di Bali. Di Bali kan bebas," katanya. Sepulangnya ke Bondowoso orang itu menulari istrinya yang di Bondowoso. "Jadi semua orang wajib untuk menjaga kesehatan masing-masing," katanya.

Selain itu, dr Agus menambahkan semua orang diimbau untuk test HIV/AIDS, khususnya bagi calon pasangan suami istri. "Jadi sejak awal sudah harus diketahui apakah seseorang mengidap HIV/AIDS atau tidak," katanya. Sementara itu, beberapa waktu lalu pihak RS dr Koesnadi pernah melakukan tes HIV/AIDS bagi para calon kepala desa. Alhasil, ada beberapa orang dari calon kepala desa yang terinfeksi virus HIV/AIDS. Bahkan, ada beberapa anak yang terinfeksi HIV/AIDS. Kondisi di Bondowoso ibarat lampu lalu lintas sudah menyalakan lampu merah. Bondowoso wajib waspada terkait HIV/AIDS.

- Radar Ijen, 08/12/15 -