Konservasi Bambu di Puncak Megasari
SEMPOL - Kawasan puncak Megasari di Sempol kini dikenal sebagai destinasi baru di Bondowoso. Selain sebagai site paralayang, objek ini juga menjadi tempat favorit untuk menikmati indahnya sunrise (matahari terbit). Namun, letaknya yang berada di kemiringan dengan ketinggian sekitar 1598 M dpl, tentu harus ada upaya khusus untuk konservasi kawasan yang merupakan hutan lindung milik Perhutani tersebut.
Berangkat dari situlah, belasan aktivis dari Hijau Madani dan komunitas Elang Ijen Paragliding melakukan kegiatan konservasi di kawasan tersebut. Mereka melakukan penanaman pohon bambu di titik-tilik miring yang sangat rawan terjadinya bencana longsor. Berbagai jenis bambu mereka tanam, salah satunya adalah petung hitam.
baca juga: Ribuan Bibit Petung Hitam Asal Sulek Diangkut ke Lumajang
Slamet Riyadi, ketua Hijau Madani mengungkapkan, kawasan Megasari yang berada di hutan lindung milik Perhutani itu harus terus dijaga kelestariaannya. Apalagi kini kawasan ini sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan. "Kita berharap, ketika menjadi objek wisata, kelestarian alamnya tetap terjaga," ungkapnya.
Dia menjelaskan, selama ini ekosistem di kawasan ini seringkali terancam. Ketika kemarau, kebakaran mudah terjadi. Selain karena faktor alam, kebakaran juga disebabkan faktor manusia. Utamanya ketika ada pekebun yang hendak membuka lahan kopi baru.
Selain itu, tegakan atau pohon keras di kawasan Megasari sangat minim. Hal itu karena banyaknya pohon invasif bernama akasia. Sehingga pohon-pohon endemik, seperti cemara gunung (Casuarina junghuniana) sulit berkembang secara alamiah. Dia berharap, dengan penanaman pohon bambu itu, maka kelestarian alam Megasari tetap terjaga.
Pemilihan pohon bambu sendiri, kata dia, didasarkan pada sejumlah alasan. Di antaranya bambu memiliki pertumbuhan yang lebih cepat, sehingga memiliki kemampuan deposit karbon yang sangat tinggi. Di sisi lain, bambu juga memiliki produktifitas biomassa yang juga cukup tinggi dibanding dengan tanaman lain.
Selain itu, lanjut Slamet, bambu juga mampu menyerap C02 (karbon dioksida) dan melepas oksigen lebih banyak ke atmosfir dibanding dengan pohon lain. Bambu juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan didukung dengan umur panen yang singkat.
Menurutnya fungsi ekologis dan lingkungan pohon bambu juga sangat tinggi. Tanaman ini akan hijau sepanjang tahun dengan perakaran cukup kuat untuk menahan erosi. Dengan fungsi itu, maka bamboo bisa menekan laju degradasi lahan dan erosi tanah. "Apalagi kemiringin di sekitar puncak Megasari cukup curam. Kalau tidak ada langkah konservasi yang dilakukan, bisa berpotensi terjadi bencana, misalnya longsor," tukasnya.
Yang tak kalah pentingnya, lanjut dia, bambu dikenal sebagai tanaman yang mampu menyimpan air. Sehingga dengan adanya hutan bambu tersebut, diharapkan bisa menambah sumber mata air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Seperti masyarakat Pedati dan Megasari sendiri.
Sementara itu, Nuris Syamsi dari Elang Ijen Paragliding menjelaskan jika pihaknya sangat support terhadap upaya penanaman pohon bambu di kawasan Megasari ini. "Semoga dengan penanaman pohon bambu ini, bisa menjaga kelestarian kawasan Megasari sebagai kawasan wisata berbasis olahraga dirgantara," harapnya.
- Radar Ijen, 26/12/15
