Kemahiran Angga Maulana Menjadi Ahli Bekam
Perang di Yaman beberapa tahun silam memaksa Angga Maulana, warga Bondowoso ini pulang kampung bersama seluruh warga Indonesia. Dia yang saat itu menempuh strata dua itu, kini menata hidup dengan menjadi ahli bekam.
Pria dengan rambut belah samping, mengenakan masker dan selalu mengucapkan salam saat ke rumah pasiennya. Dia adalah Angga Maulana. Bukan dokter, bukan mantri, bukan juga pegawai kesehatan atau rumah sakit, profesi Angga adalah ahli bekam yang sama-sama untuk kesehatan. Jika dokter membawa tas kotak berisi stetoskop. Sedangkan Angga membawa kotak merah yang berisi belasan cup bekam. Kedua tanganya yang memakai handskin mulai bekerja. Cup demi cup langsung ditempel di punggung orang yang dibekamnya. "Bekam ini sudah dipakai pada zaman nabi," tambahnya.
Angga mendapatkan ilmu bekam saat masih kuliah di Yaman. "Sembari kuliah ya belajar membekam di sana," paparnya. Meski berprofesi ahli bekam, justru pengalaman dia ketika dibekam di Yaman tak mulus. Angga pingsan usai dibekam pertama kalinya. "Saya kan darah rendah," terangnya. Agar pasiennya tak senasib dengannya, Angga selalu bertanya apa memiliki darah rendah atau tidak. "Gak trauma, gak takut, meski pingsan. Setelahnya enak makanya saya belajar bekam,"ungkapnya.
Sebetulnya cita-cita Angga pulang ke Indonesia bukan berprofesi sebagai bekam, melainkan menjadi dosen. Situasi mengatakan berbeda, setelah lulus dari Ponpes Gontor, Ponorogo dia mendapatkan beasiswa ke Al Iman University di Yaman.
"Awalnya ingin kuliah di Mesir, tapi di Mesir banyak ilegalnya dan harus menunggu," paparnya.
Memilih jurusan pendidikan Islam, Angga mengenal banyak mahasiswa dari Indonesia yang kuliah. Di sana dia juga belajar tentang membekam. Setelah lulus S1 tahun 2008 Angga tidak pulang ke Indonesia, melainkan melanjutkan studi S2. Nasib berkata lain, konflik, kerusuhan dan perang di mana-mana terjadi di Yaman pada 2009.
Malam tak bisa tidur dan pagi juga tak tenang, banyak peluru nyasar. "Kalau malam banyak bom, rudal dan peluru nyasar," ucapnya. Jika siang relatif aman, dia mengibaratkan siang adalah jam istirahat untuk peperangan.
Bom yang meledak Kedutaan Republik Indonesia (KBRI) di Yaman, membuat pemerintah Indonesia menarik semua warganya di Yaman untuk kembali ke Indonesia, tak terkecuali para mahasiswa. Bahkan, Al Imam University tempat Angga menempuh ilmu juga diporak-poranda. "Rektornya kabur," ungkapnya. Hingga kini Al Imam University hanya kenangan saja dan tidak beroperasi lagi seperti KBRI di Yaman.
"Kacau, apalagi saya pulang dari Yaman membawa anak dan istri, untung uang saku beasiswa dikumpulkan untuk beli rumah di Bondowoso," jelas pria yang hafal Alquran ini. Kini, Angga tinggal di Kota Kulon Bondowoso meniadakan cita-citanya menjadi dosen. Meski hal pahit pernah dialami, dia tetap bisa menafkahi keluarga lewat usaha di bidang jasa bekam, akupuntur, rukyah dan syariat atau mengobati orang dari kerasukan setan.
- Radar Ijen, 08/12/15 -
