Eksplorasi Geothermal dan Dampak Lingkungan di Area Konservasi Ijen

Eksplorasi Geothermal dan Dampak Lingkungan di Area Konservasi Ijen
PLTP. Foto: Tempo.co

Sejak pertengahan tahun 2010 hingga awal tahun ini, berkesinambungan muncul progress report tentang rencana eksplorasi geothermal di desa Blawan, Kecamatan Sempol, Bondowoso oleh Medco tbk. Hanya saja pada tujuh bulan terakhir tidak ada berita tentang kelanjutan eksplorasi ini. Apakah eksplorasi itu sudah dilakukan atau belum. Sungguh, saya diliputi rasa penasaran tingkat tinggi. Terlebih ketika kecamatan paling subur di Bondowoso itu diterjang banjir bandang pada akhir Januari lalu. Terbersit dugaan saya bahwa banjir itu disebabkan dimulainya proses penambangan. Ternyata tidak, banjir itu diakibatkan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian (http://www.infobondowoso.net/2015/02/banjir-bandang-di-sempol-dipicu-alih.html).

Tulisan saya ini tidak lebih merupakan kompilasi dari berita-berita yang pernah diturunkan di beberapa media online khususnya di portal berita khas dan terdepan Bondowoso, http://www.infobondowoso.net dan dari beberapa sumber lainnya.

Eksplorasi Potensi Panas Bumi Ijen

Ijen sebagai salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Panas bumi ini merupakan sumber energi alternatif yang terbarukan. Energi yang dihasilkannya pun ramah lingkungan. Karena itulah, energi yang dihasilkan panas bumi perlu dieksplorasi dan dieksploitasi untuk mengatasi kelangkaan dan mahalnya energi berbahan baku fosil.

Adalah PT Medco Power Indonesia melalui anak usahanya PT Medco Cahaya Geothermal yang akan mengembangkan Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) di Ijen. Perusahaan yang bergerak di bidang eksploitasi dan pengeboran minyak dan gas bumi ini telah mengantongi ijin dari Kementrian Kehutanan. PT. Medco telah memegang kuasa eksplorasi di kawasan hutan seluas 62.620 hektare. Area hutan itu meliputi dua titik, yakni di Blawan, Kabupaten Bondowoso dan kawah Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi.

Potensi panas bumi di Gunung Ijen diperkirakan menghasilkan energi listrik sebesar 270 megawatt. Energi listrik yang dihasilkan nantinya akan dijual ke PT PLN dengan harga jual listrik sesuai kontrak sebesar US$ 8,58 sen per kilowatt hour (kWh). Harga itu jauh lebih rendah dari harga jual yang ditetapkan pemerintah sebesar US$9,7 sen per kWh.

Pada tahap awal, perusahaan akan menginvestasikan dana sebesar US$20 juta untuk pengeboran dua sumur eksplorasi panas bumi di Gunung Ijen. Total Investasi untuk pengeboran dua sumur tersebut sebesar USD 14 juta. Sementara, sisanya USD 6 juta akan digunakan untuk melaksanakan kegiatan desain teknis pengembangan PLTP Ijen. Total investasi yang dibutuhkan untuk keseluruhan proyek ini mencapai USD 400 juta. Sumber dananya 30% berasal dari internal, selebihnya dari pinjaman. http://www.infobondowoso.net/2013/02/medco-mulai-garap-geothermal-ijen.html

Jika PLTP Ijen telah beroperasi, maka kebutuhan listrik Bondowoso akan tercukupi. Selain tentu saja akan menambah pasokan listrik nasional. Untuk diketahui, pasokan listrik nasional ditargetkan bertambah dari 1.226 megawatt menjadi 3.500 megawatt. Dengan demikian target ketersediaan listrik pada 2025 sebesar 9.500 megawatt bisa terpenuhi. http://bondowosokab.go.id/medco-eksplorasi-panas-bumi-di-gunung-ijen.html.

Dampak Eksplorasi terhadap Lingkungan

Di luar manfaat yang sangat besar itu, proses penambangan panas bumi menyimpan bom waktu. Sewaktu-waktu akan meledak dan memberi dampak yang merugikan bagi masyarakat.

Walhi selaku pemerhati lingkungan hidup menolak keras proses penambangan di Ijen dikarenakan proyek pertambangan panas bumi oleh PT Medco Geothermal Indonesia akan mengancam sumber air bagi warga. “Kami Walhi Jawa Timur sangat menolak. Artinya harus melihat resiko yang akan ditimbulkan. Penerapan energi alternatif harusnya tidak beresiko. Geothermal salah satu konsumsi terbesarnya adalah air,” tegas Ony Mahardika, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jawa Timur, kamis (08/01).

Masih kata Oni Mahardika, penambangan panas bumi tersebut tidak hanya mengancam sumber air, akan tetapi dampak dari program tersebut akan mengakibatkan kerusakan tanah. Jika struktur tanah rusak, maka bisa berdampak pada krisis pangan. , Proyek ini juga berpotensi mencemari air di lingkungan seputar proyek. Hal ini dikarenakan sungai yang ada di Kabupaten Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi berhulu di kawasan hutan Gunung Ijen. Upaya negosiasi dengan pihak pemerintah di tiga kabupaten yang masuk wilayah Gunung Ijen yakni Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi untuk menghentikan proyek tersebut telah dilakukan oleh Walhi. http://www.bangsaonline.com/berita/7695/walhi-jatim-pertambangan-panas-bumi-dibondowoso-akan-berdampak-krisis-pangan

Kiranya kekhawatiran Walhi cukup beralasan. Beberapa daerah yang wilayahnya terdapat PLTP seperti di Desa Kertasari Kabupaten Bandung, Pegunungan Dieng Jawa Tengah, dan Gunung Salak, masyarakatnya mulai merasakan dampak negatifnya. Danau dan sungai di pegunungan itu mengalami kekeringan akibat eksplorasi geothermal. Selain itu, eksplorasi panas bumi juga menjadi faktor penyebab kerusakan ekologi di lahan produktif masyarakat, seperti yang terjadi di wilayah sekitar PLTP Mataloko kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Mengenal Teknologi Fracking atau Hydraulic Fracturing pada Eksplorasi Geothermal

Secara sederhana –sebagai orang awam— teknik fracking dapat kita pahami sebagai upaya mengebor pada kedalaman ribuan meter di bawah tanah. Proses pengeboran itu dilakukan dengan cara menginjeksikan jutaan galon air yang dicampur dengan bahan-bahan kimia bertekanan tinggi ke susunan bebatuan bawah tanah yang menyimpan energi panas bumi. Penginjeksian bertekanan tinggi yang dilakukan terus-menerus akan merekahkan bebatuan. Perekahan bebatuan akan melepaskan minyak dan gas yang terperangkap di dalam perut bumi. Gempa pun bisa mengiringi proses ini.

Satu kali injeksi dibutuhkan lebih dari 1.000 tanki air. Kondisi ini akan mengakibatkan pasokan atau jatah air warga dan pengairan sawah sekitarnya malah diperuntukkan bagi eksplorasi geothermal. Sedangkan dalam satu kali injeksi diperlukan berliter-liter bahan-bahan kimia. Limbah mengandung bahan kimia ini berpotensi mencemari air di sekitar proyek.

Artinya, selain persediaan air tanah yang tersedot secara ekstrim, air-air di permukaan pun beresiko besar terkena dampak limbah.

Penutup

Alam di pegunungan Ijen memang menyimpan potensi luar biasa. Potensi keindahan alam yang tidak ada duanya di dunia dan potensi panas bumi yang dapat mensubstitusi kekurangan listrik nasional. Kedua potensi itu sama pentingnya.

Sayangnya, kedua potensi itu tidak bisa dikelola bersama, karena eksplorasi panas bumi Ijen meniscayakan merusak kondisi lingkungan di sana dan masyarakat sekitar yang menghuni kawasan tersebut. Penebangan ratusan hektar hutan dalam rangka pembangunan infrastruktur penambangan panas bumi menyimpan potensi banjir sebagaimana awal tahun ini. Pun menghilangkan habitat flora dan fauna di hutan ijen.

Sebagai masyarakat awam yang menilai sesuatu secara kasat mata, penghentian rencana eksplorasi panas bumi Ijen adalah putusan tepat. Kerugian jangka panjang yang akan ditanggung masyarakat sekitar tidak sepadan dengan manfaat yang diperoleh. Demikian juga dengan potensi hilangnya brand Ijen sebagai the hidden paradise.

Adapun kekurangan pasokan listrik Bondowoso khususnya bisa ditutupi dengan mencari sumber daya alam alternatif lainnya. Pemanfaatan tenaga surya kiranya bisa menjadi alternatif selain memanfaatkan air sebagai sumber pembangkit listrik.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41)

Keinginan hidup sejahtera dengan tercukupinya kebutuhan listrik, janganlah membuat kita tidak arif pada alam. Karena pada alamlah manusia 'menggantungkan' hidup. Cukuplah peringatan dari Allah, Dzat Yang Menciptakan dan Menjaga Keberlangsungan Alam ini, disebut di dalam Al Qur'an saja. Kita masyarakat yang mencintai Bondowoso tidak ikut-ikutan membuat kerusakan. Karena tanda cinta itu melindungi dan melestarikannya.

Dikirim oleh Nama: K. Yulie Wardani | Email: k.yuliewardani@gmail.com | 03 Oktober 2015, Pkl 01:39 am | InfoBondowoso.NET menerima tulisan informasi seputar Bondowoso (news, essai, artikel, cerpen, info komunitas, kisah inspiratif, kuliner, wisata, etc). Kirim karya tulisan kalian untuk berkontribusi mendukung kabupaten/kota kita tercinta, melalui email: infobondowoso@yahoo.com