Warga Jampit, Sempol, Tetap Tenang di Tengah Erupsi Raung

Warga Jampit, Sempol, Tetap Tenang di Tengah Erupsi Raung
Anak-anak Jampit tetap riang bermain seperti biasa. Sementara di belakangnya tampak Raung yang terus mengeluarkan abu vulkanik.

BONDOWOSO - Aktifitas gunung Raung terus menjadi luas masyarakat dalam beberapa pecan terakhir. Tapi warga terdekat di Jampit, Sempol justru masih beraktifitas seperti biasa. Mereka tak terpengaruh isu-isu yang bermunculan tentang Raung.

Berkunjung ke Jampit, Sempol, jaket tebal dan transportasi handal segala medan menjadi sesuatu yang harus dipakai. Apalagi Jampit menjadi perhatian, karena salah satunya daerah terdampak material abu vulkanik Gunung Raung. Kian hari, material abu vulkanik semakin tinggi dari 500 meter sampai satu kilometer dari puncak gunung.

Kurang lebih tiga kilometer masuk desa setempat pemandangan super menawan disajikan. Hewan ternak berkeliaran di padang savana. Pemandangan semakin memesona dengan background Gunung Raung yang mengeluarkan material vulkanik. Sesuatu yang sulit ditemui di tempat lain.

Di desa tersebut, truk yang tengah mengangkut air bersih tampak lalu lalang dari desa ke lahan pertanian. "Air saat ini butuh banyak selain untuk menyirami tanaman sekaligus membersihkan daun yang terkena abu vulkanik. Kalau tidak dibersihkan bisa mati," ucap Purwanto pertani Jampit.

Masyarakat setempat masih melakukan aktifitas seperti biasa. Ada yang bertani, ada pula ibu-ibu sedang gotong royong mencari kutu di sela-sela rambutnya. Kecerian anak-anak di tempat tersebut juga masih terasa. Mereka sedang asyik bermain layangan meski di balik mereka ada gunung Raung yang bisa jadi meletus dahsyat kapan saja.

Suparto warga Desa Jampit mengatakan, sebetulnya warga di tempatnya sempat khawatir terhadap aktifitas Gunung Raung. Khususnya pada malam hari 28 Juni dan 7 Juli lalu. Waktu itu, dentuman keras gunung setinggi 3332 mdpl terjadi. Dentuman semakin terasa pada 29 Juni. Bahkan abu vulkanik sempat tebal pada 7 Juli lalu. "Ya khawatir, warga jarang keluar rumah, ada juga yang pergi ke rumah saudara di Sempol," ucapnya.

Namun warga kembali normal beraktifitas setelah petugas BPBD mengelar doa bersama sambil membagikan masker serta menjelaskan tentang kondisi gunung Raung. "Dijelaskan, Raung masih aman di sini," katanya.

Namun di balik ketenganan warganya, ada sesuatu yang paling mengejutkan di era modern seperti ini, mereka masih kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang di luar Jampit. Hal itu karena susahnya akses komunikasi, misalnya melalui telepon seluler. "Berapa nomer hapenya, pak? saya tidak punya HP, tidak ada sinyal disini. Hanya telepon rumah ceria, itu jarang yang punya dan sering tak bisa nyambung kalau di telpon atau telepon," kata Suparto

"Susah informasi disini mas, mau tanya harga terasi saja harus ke Sempol. Ya tidak jauh juga, karena sudah biasa," tambah Suparto.

Paska peningkatan aktifitas gunung Raung, hampir seluruh warga khawatir terhadap anak-anaknya. Mereka hanya memperbolehkan buah hatinya bermain layangan dan kelereng saja. "Pokoknya mereka tidak boleh main jauh-jauh," terang Suparto. Bahkan untuk olahraga sepak bola dan olahraga tradisional sudur sementara ini vakum.

Sementara itu, Nur Faida warga Jampit lainnya merasa beruntung karena aktifitas sekolah masih libur di tengah meningkatnya aktifitas Raung. "Kalau TK dan SD di sini ada. Kalau SMP dan SMK ke Sempol, bahkan banyak yang sekolah di kota Bondowoso. Karena Sempol hanya ada SMK, SMA tidak ada," tambah Nur Faida.

Masyarakat di sana tampak kurang hiburan, minim fasilitas pendidikan dan yang paling parah tentu tak ada sinyal handphone. Salah satu yang menjadi tanda tanya tentu adalah cara menghubungi secara cepat warga di sana jika sewaktu-waktu aktifitas Raung meningkat drastis dan mereka harus dievakuasi.


- Radar Ijen, 16/07/15 -