M Arifin Juru Masak Lapas Sejak 1991 yang Tak Pernah Lebaran di Rumah

M Arifin Juru Masak Lapas Bondowoso
DEDIKASI: Demi menunaikan tugas sebagai juru masak di Lapas Kelas IIB Bondowoso, M Arifin rela tak pulang saat lebaran tiba.

Momen mudik dan bermaaf-maafan bersama keluarga menjadi pelengkap perayaan Idul Fitri. Tapi momen seperti itu menjadi sesuatu yang langka bagi M Arifin. Sebagai juru masak lapas kelas IIB Bondowoso, dia rela tak bisa lebaran bersama keluarga agar napi bisa makan.

Namanya lembaga pemasyarakatan (Lapas), sudah pasti pengamanan ekstra ketat dilakukan di sana. Itu terlihat dari tembok yang tinggi hingga pintu yang terbuat dari besi kokoh. Wajar saja jika masyarakat hanya mengetahui lapas dari luar saja. Begitu juga Lapas kelas IIB Bondowoso di Jl Jaksa Agung Suprapto.

Saat masuk ke lapas, kartu identitas dan pemeriksaan barang bawaan selalu menjadi SOP. Namun pada lebaran kemarin, apakah di sana merasakan hari raya Idul Fitri? Ya pasti para napi juga sama dengan orang pada umumnya pada lebaran, yakni sholat Ied, bermaaf-maafan dengan teman dan keluarga. Hanya saja para keluarga yang berkunjung dan napi tetap di lapas. Moment terharu dan senang terpancar para napi pada lebaran. Namun tidak bagi mereka petugas Lapas yang tanpa hari libur di hari raya Idul Fitri.

Salah satunya adalah M Arifin sebagai kepala juru masak kelas IIB Bondowoso. Setiap lebaran, selalu dia habiskan waktu tinggal di Lapas. "Kalau saya libur, bagaimana makan para napi," paparnya. Pria asli Bondowoso ini sejak 1991 tak pernah merasakan lebaran bersama keluarga demi sebuah pengabdian untuk para napi.

Awal dia menjadi petugas lapas 1991 di Bali, adalah hal yang paling berat tak bertemu keluarga di lebaran. "Biasanya dari puasa sampai lebaran selalu kumpul keluarga. Semenjak bekerja di lapas tak merasakan indahnya lebaran. Sekarang enak ada Hape, dulu mana ada," katanya.

Selang satu tahun kemudian 1992 Arifin ditugaskan di Bondowoso. Kerja di kota juga tak membuat dia bisa bergabung dengan keluarga saat lebaran. Bahkan saat bulan puasa, dia yang seharusnya bisa istrirahat malam justru kerja ekstra. Dia mulai masak pukul 22.30, dari memotong sayuran sampai membuat bumbu.


- Radar Ijen, 20/07/15 -