FASI Bondowoso Mulai Jajal Megasari

FASI Bondowoso Mulai Jajal Megasari
Mungkin ini (Megasari) menjadi satu-satunya tempat di mana pengunjung bisa menikmati sunrise dan sunset di tempat yang sama.
SEMPOL - Upaya pengembangan perbukitan Megasari di Sempol untuk menjadi wana wisata dirgantara terus dilakukan. Setelah tuntas menggarap tempat take off, tim Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Paralayang Bondowoso mulai menjajal terbang di perbukitan yang berhadapan langsung dengan gunung Ijen tersebut.

Dalam penerbangan perdana di Megasari itu, salah seorang pilot dari FASI Bondowoso sempat melakukan soaring. Soaring sendiri menjaga ketinggian di sepanjang bukit dengan memanfaatkan dynamic lift atau angin kencang yang menabrak bukit. Dengan panjangnya perbukitan Megasari yang diyakini terpanjang di pulau Jawa, kawasan ini sangat cocok untuk melakukan soaring.

"Untuk penerbangan perdana ini, kami masih terus mencari jalur yang pas untuk para pilot. Khususnya untuk para penerbang siswa," ujar Wahyudi Widodo, pegiat paralayang yang juga atlet Jatim ini.

Selain panjangnya perbukitan Megasari, ternyata juga ada thermal lift atau angin naik yang disebabkan karena adanya panas bumi tak jauh dari tempat take off. Thermal lift ini yang biasa dimanfaatkan para pilot untuk membuat parasut terangkat naik agar bisa terbang lebih tinggi.

Setelah bermanuver dan melakukan soaring pilot yang saat itu terbang langsung mencari titik landing (mendarat) yang pas. Namun karena belum tersedianya tampat landing, akhirnya mereka melakukan landing darurat di lapangan sepak bola di Kampung Malang, perkebunan Kalisat.

Kondisi masih belum adanya titik landing itu yang sejauh ini masih harus terus diupayakan. Mengingat lahan yang akan digunakan untuk landing adalah milik Perkebunan Kalisat - Jampit PTPN XII. Peran perusahaan milik pemerintah tersebut tentu akan sangat besar dalam mendorong pengembangan wisata dirgantara ini.

Menurut Wahyudi, berdasarkan pantauan yang dilakukan bersama dengan tim FASI Bondowoso, angin di Megasari sejauh ini didominasi head wind (angin dari depan). Dominasi angin yang berhembus dari arah Kawah Ijen tersebut sangat pas untuk dilakukan penerbangan. Karena pada prinsipnya, paralayang selalu membutuhkan head wind.

Selain dukungan secara tekhnis yang memang sangat memadai, Megasari memiliki beragam keunggulan lainnya. Pemandangan alam dari Megasari sangat terbuka. Dari titik take off, gunung Ijen, Raung hingga bukit teletubbies Kawah Wurung terpampang cukup jelas. Saat langit cerah, pemandangan tampak semakin menakjubkan.

Slamet Riyadi, ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bondowoso mengungkapkan, keunggulan lainnya di Megasari terlatak pada pesona sunrise-nya. Menjelang pagi hari, semburat rona merah tampak menyelimuti Gunung Ijen. "Matahari terbit tepat di sisi utara Kawah Ijen," ungkapnya. Potensi sunrise ini menurutnya tak kalah jika dibanding dengan Pananjakan, Bromo.

Namun lebih dari itu, pesona lainnya adalah sunset yang juga bisa dinikmati di salah satu titik di perbukitan Megasari ini. "Mungkin ini menjadi satu-satunya tempat di mana pengunjung bisa menikmati sunrise dan sunset di tempat yang sama," ungkapnya.

Pesona Megasari ini bahkan sudah banyak menarik pengunjung untuk menikmati keindahannya. Seperti yang terlihat Selasa lalu, sejumlah pengunjung dengan menggunakan motor matic hendak naik ke tempat take off. Namun karena kondisi jalanan yang cukup ekstrim, akhirnya mereka mengurungkan niatnya. "Akses jalan ini salah satu yang masih menjadi tantangan para pemangku kebijakan untuk mendorong pengembangan Megasari menjadi salah satu destinasi unggulan Bondowoso," pungkasnya.


- Radar Ijen, 06/06/15 -