Cara Unik Sumbersari Batik Mengenalkan Budaya Pada Generasi Muda

Sumbersari Batik
ANTUSIAS: Para pelajar dari luar kota ini tampak semangat saat belajar membatik khas Bondowoso di Sumbersari Batik, Maesan.


Bajak Pakai Sapi, Naik Dokar Hingga Belajar Membatik

BATIK adalah kekayaan khas Indonesia yang kini sudah diakui di seluruh dunia. Berbagai cara dilakukan untuk melestarikan budaya luhur bangsa ini. Khususnya dengan terus mengenalkan kepada generasi muda.

PAGI itu, suasana berbeda terlihat di Sumbersari Batik, yang merupakan sanggar batik tulis yang terletak di desa Sumbersari, Maesan. Jika pada hari-hari biasa ibu-ibu sibuk mencanting dan laki-laki sibuk mewarnai helai demi helai kain hari itu suasana tampak lebih ramai. Hal itu setelah kedatangan puluhan anak tingkat SD hingga SMA yang tergabung dalam murid english First (EF) Jember.

Sebelum para generasi muda ini belajar membatik, ada yang unik pada pagi itu. Mereka berkumpul
di sepetak sawah yang berada tak jauh dari sanggar. Sawah itu kemudian menjadi ajang mereka belajar bercocok tanam. Dua ekor sapi yang siap sebagai sarana belajar membajak membuat suasana semakin seru. Tak jarang mereka seperti berselancar di atas lumpur persawahan saat membajak. Baju yang awalnya bersih berubah menjadi coklal lumpur Teguran dan teriakan mulai terjadi saat masuk acara tanam padi. Ya beberapa diantara mereka masih belum tahu metode tanam padi, seharusnya berjalan mundur berubah berjalan maju. 

Selain Tekhnik, Juga Diajarkan Filosofi Batik

Tak pelak padi yang sudah ditanam kena injak kaki mereka. Selelah itu puluhan murid berjalan menyusuri persawahan penduduk sembari belajar cara pak tani bercocok tanam. Mulai dari membajak, tanam sampai panen. Sudah dapat pembelajaran kultur asli pertanian masyarakat Indonesia, mereka kembali ke Sumber Sari Batik Tulis dengan mengunakan bendi.

Usai membersihkan diri dan makan siang, pelajaran baru yakni membatik mulai didapat oleh mereka. Perkenalan proses awal membatik yakni mendesain corak balik, mencanting, mencolet, mewarmai sampai menjadi kain batik yang indah didapatkan mereka satu persatu. Tak sampai disana saja, kain putih seukuran bandana diberikan satu persatu kepada murid les bahasa asing ini. Dari pelajaran yang didapat, mereka mulai mendesain batik, mencanting sampai menjadi batik tulis hasil tangannya sendiri.

Yuke Yuliantaris pemilik Sumbersari Batik menyatakan eduwisata membatik sudah lama diterapkan diusaha tersebut. Di bentuknya Eduwisata Batik ini tak lepas dari keinginan Yuke untuk lebih mengenalkan batik. Masyarakat tidak hanya tahu, tapi juga menjalani bagaimana proses batik itu dilakukan hingga menjadi sebuah karya luhur. Selain teknik, ada filosofi, nilai-nilai seni dan budaya dalam batik juga yang diajarkan kepada para pengunjung. "Kami ingin mengenalkan tentang keluhuran budaya batik itu. Dari situlah, kecintaan akan muncul dan mereka juga berkenan ikut melestarikan peninggalan budaya ini," ungkapnya.

Untuk mendukung wisata lokal, motif-motif yang di kenalkan kepada para pengunjung adalah motif-motif lokal, semisal daun singkong. Namun dia juga melihat fenomena yang terjadi digenerasi muda, yakni kultur tradisional asli masyarakat Indonesia mulai pudar. Salah satu diantaranya adalah pertanian. Padahal tanpa ada kaum tani, tentu masyarakat luas akan sulit menikmati beras yang menjadi makanan pokok orang Indonesia.

Banyak diantara anak kecil sekarang tidak tahu bentuk tanaman beras yakni padi itu seperti apa, bahkan proses tanam menjadi beras mereka juga tak tahu. Sehingga mereka yang setelah eduwisata di sini, kata dia. dapat menghargai makanan karena mereka merasakan langsung menjadi pak tani.

Kegiatan membajak yang sebetulnya mengasikan dengan sapi yang kini mulai tergantikan oleh mesin traktor. Maka tak salah hewan mamalia tersebut, saat ini kebanyakan hanya menjadi hewan potong saja. Untuk alat transportasi bendi atau dokar juga sangat jarang dijumpai karena kalah dengan transportasi modern. Dari semua itu, Yuke ingin jadi satu kemasan yang mempuai manfaat tidak hanya dirinya, tapi juga pengunjung eduwisata dan masyarakat sekitar.

Sumber:

Radar Ijen, 27/04/15