SMKN PP Tegalampel Juara II Thropy Kemenpora

SMKN PP Tegalampel Juara II Thropy Kemenpora
PRESTASI: Tiga dari kiri Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi saat berkunjung ke stand SMKN PP Tegalampel,
expo SMK se-Indonesia 28-31 Mei di Jogyakarta

BONDOWOSO - Kota pertanian layak menjadi sebutan bagi Bondowoso. Tak hanya sebagai lumbung padi saja, sekolah kejuruan pertanian di Tegalampel mampu dinobatkan juara II ketegori peserta keaslian terbaik di SMK expo di Jogya 28-31 Mei.

Semua mahluk hidup butuh makan, tak terkecuali manusia. Itulah latar belakang bagi tenaga pengajar dan peserta didik SMKN PP Tegalampel, bahwa masa depan pertanian sangat cerah. Apalagi sektor pertanian menjadi penyumbang pendapatan daerah tertinggi di Bondowoso. "Kalau tidak ada generasi meneruskan para petani Bondowoso. Ya lambat laun pertanian Bondowoso terpuruk," ucap Anik Sudiartini kepala SMKN PP Tegalampel tersebut.

Masuk ke ruangan sekolah tersebut ada sedikit pemandangan yang mencolok. Di atas meja kerja kepala sekolah terdapat satu piala cukup besar. "Oh ini piala yang baru saja di dapat di expo SMK se-Indonesia di Jogya," papar Anik.

Menjadi perwakilan SMK Bondowoso dalam expo tersebut, kata dia, terbilang mendadak. "Saya juga tidak tahu mengapa hanya SMKN PP yang diundang dari Dewan Koperasi Indonesia (Depkopindo). Tapi memang sebelumnya dari Depkopindo pernah kesini," ungkapnya.

Sehingga, dengan cepat siswa dan sejumlah guru bergerak cepat mempersiapkan apa saja yang dibawa ke pameran tersebut. Mulai dari produk olahan bunga rosela menjadi sirup, sele, wedang, manisan serta beberapa olahan produk buah dan sayur yang inovatif.

Selain itu juga memamerkan tanaman hidroponik, bibit tanaman buah. "Saya juga bawa tape Bondowoso, ternyata laris manis di sana," tambahnya.

Selama empat dari di expo se Indonesia, baru hari terakhir membuat Anik terkejut. Sekolah yang dipimpinnya mendapatkan juara ke II dalam hal peserta keaslian terbaik. "Awalnya hanya diundang ikut expo saja, tidak ada lomba. Rombongan mau pulang ada pengumuman juara lomba," katanya.

Dinobatkan sebagai juara, kata dia, yakni penilaian tentang kebermanfaatan, implementasi di masyarakat bisa atau tidak terhadap produk inovasi SMK. Seandainya, sebuah produk bagus, unik tapi tidak bermanfaat bagi masyarkat juga sama saja. Apalagi tidak bisa diterapkan juga sama halnya tak berguna.

Prestasi tersebut adalah tidak lepas dari perjuangan guru dan anak didiknya yang terus berkutat dan belajar ilmu pertanian. Dia mengakui sekolah pertanian seperti SMKN PP Tegalampel, banyak diantara muridnya memilih sekolah tersebut lantaran karena pilihan terakhir. Itu yang membuat Anik dan rekan kerjanya tertantang merubah pemikiran anak muda seperti itu.

Apalagi baik mahasiswa maupun siswa yang sekolah di pertanian, cita-citanya bukan menjadi petani. Padahal, menjadi petani itu bermanfaat bisa membuat makanan untuk banyak orang. "Dalam pemikiran umumnya petani itu tidak lepas dari hal miskin, kotor, capek, hitam, jelek," jelasnya.

Oleh sebab itu, dia ingin dari hal kecil menerapkan anak didiknya untuk berpakaian rapi, bersih, bersepatu meski sekolah di pertanian atau nanti bekerja di dunia tani. Sehingga, paradigma masyarakat dari tua sampai muda berubah ternyata menjadi petani itu enak dan membanggakan.

Hal kecil itu, kedepan tidak ada krisis generasi muda yang ingin menjadi petani, jika tak ada penerus, manusia mau makan apa. "Makan tidak bisa ditunda, kalau beli mobil atau handphone itu bisa ditunda," pungkasnya.


- Radar Ijen, 06/06/15 -