Pemkab Bondowoso Pacu Produksi Beras Organik

Penanaman Padi Organik di Bondowoso
Bupati Bondowoso saat Penanaman Perdana Padi Organik di Lombok Kulon, Wonosari - Bondowoso

BONDOWOSO, InfoBondowoso.net - Kesuksesan petani di Desa Lombok Kulon, Wonosari, dalam memproduksi beras organic yang tersertifikasi akan terus didukung pemerintah. Dalam dua tahun ke depan, pemerintah menargetkan lahan pertanian organik di Lombok Kulon bisa mencapai seratus hektare lebih.

Bupati Bondowoso Amin Said Husni mengatakan, perluasan lahan padi organik terus dikembangkan di Desa Lombok Kulon, Wonosari. "Ditargetkan, pada 2016 mendatang akan ada 100 hektare lebih lahan pertanian tersertifikat organik di desa ini," kata Amin saat berkunjung ke Lombok Kulon.

Dia menambahkan, respon masyarakat untuk melakukan gerakan pertanian organik sangat tinggi. Karena itulah ada percepatan dari rencana kerja yang sudah ditetapkan oleh Pemkab Bondowoso. Dukungan dari pemkab akan terus diberikan melalui pendampingan dan pembinaan kepada petani.

Selain di Desa Lombok Kulon, pertanian organik juga sudah dikembangkan di desa lainnya yaitu Desa Taal, Tapen. Tidak menutp kemungkinan, ke depan juga akan diperluas ke banyak desa lain.

Dengan mengembangkan pertanian organik, kata Amin, akan mengatasi kebutuhan beras dan produksi pertanian lainnya yang lebih hiegienis dan sehat. Selain itu, mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia di Bondowoso dan menjaga kesuburan tanah.

Seperti diketahui, jumlah lahan padi organik di Desa Lombok Kulon, Wonosari, yang lolos sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (Lessos) kini bertambah. Dari total 25 hektare lahan padi yang menggunakan sistem organik, sebanyak 23 hektare dinyatakan lolos sertifikasi pada tahun ini.

"Sertifakasi organik untuk padi yang kami tanam di lahan seluas 25 hektare kini bertambah 23 hektare," ujar Mulyono, ketua Kelompok Tani Mandiri I Lombok Kulon kepada Jawa Pos Radar Jember. Jumlah tersebut bertambah jika dibandingkan 2013 lalu, dimana dari 25 hektar yang diajukan, yang lolos sertifikasi hanya sekitar 10,3 hektare.

Dari sekitar 23 hektare yang sudah lolos sertifikasi tersebut, lanjut Mulyono, rata-rata tingkat produksi per hektare berkisar lima ton gabah kering sawah. Sehingga, total lebih dari 100 ton gabah yang sudah lolos sertifikasi organik.

Pada musim tanam mendatang petani menargetkan jumlah produksi padi organik bisa meningkat. Harapannya, 25 hektare lahan yang sudah ditanami secara organik itu bisa lolos sertifikasi organik dari Lessos. "Mudah-mudahan pada tahun depan semua lahan itu sudah lolos sertifikasi. Artinya sisa beberapa hektare yang tahun ini belum lolos diharapkan tahun depan sudah tersertifikasi," harapnya.

Dengan demikian, lanjut dia, jumlah produksi padi organic dari Bondowoso terus mengalami peningkatan. Sejak lolos sertifikasi organik dari Lessos, para petani di Lombok Kulon sudah merasakan dampak positifnya. Harga padi organik jauh lebih mahal. Untuk gabah kering sawah, misalnya, harganya mencapai Rp 5.500 per kilogram. Padahal, harga gabah biasa hanya berkisar Rp 4 ribu per kilogram. Sementara, untuk beras organik harganya mencapai Rp 15 ribu per kilogram.


- Jawa Pos, 14/12/14