Febyant Ekky Mochammad, Pelajar SMK PP Tegalampel Wakili Jatim ke Thailand
![]() |
| UKIR PRESTASI: Ekky diapit kepala sekolah dan gurunya usai datang dari Thailand. |
BONDOWOSO, InfoBondowoso.net - Meskipun berasal dari kota kecil, Febyant Ekky Mochammad, pelajar SMK Pertanian dan Perkebunan (PP) Tegalampel, Bondowoso, memiliki kesempatan emas belajar mengenai pertanian di Thailand. Dia menjadi salah seorang wakil Indonesia dalam program pertukaran pelajar dan guru.
Di pagi yang cerah itu, para guru SMK PP Tegalampel menyambut hangat kedatangan Ekky yang baru pulang dari Thailand. Maklum, para guru yang memiliki kompetensi di bidang pertanian dan perkebunan ingin mengetahui oleh-oleh ilmu pertanian dari Ekky. Sebab, SMK PP juga ingin menerapkan ilmu yang didapatnya dari acara pertukaran pelajar dan guru selama seminggu di Thailand, mulai 23-29 November lalu.
Ekky lalu berdiskusi dengan Kepala SMK PP Tegalampel Anik Sudiartini dan para guru pembingingnya. Dia menceritakan, lahan di Thailand lebih subur daripada lahan di Indonesia. "Itu dikatakan sendiri oleh salah seorang profesor ahli pertanian dari Kasetsart University Bangkok Thailand," katanya.
Pemerintah Thailand yang bekerjasama dengan perguruan tinggi terus melakukan upaya penelitian berbagai produk atau komoditas pertanian agar bisa menghasilkan buah, beras, atau produk pertanian dengan lebih optimal. "Selain itu, para petani di Thailand rata-rata lulus sarjana. Jadinya, mereka benar-benar berkolaborasi untuk memajukan sektor pertanian dan perkebunan," ujarnya.
Tidak heran, para pelajar dan guru yang ikut pertukaran pelajar dan guru dibikin terpesona dengan pembangunan sektor pertanian di negeri Gajah Putih itu.
"Segala problem pertanian, seperti hama dan penyakit yang muncul, selalu mendapatkan perhatian dari pemerintah Thailand. Mereka terjun untuk melakukan penelitian terkait hama dan penyakit atau mencari solusi pemecahannya," terangnya.
Uniknya, kata Ekky, pemerintah Thailand dan pakar pertanian dari berbagai perguruan tinggi tidak melawan penyakit dan hama yang menyerang tanaman dengan bahan kimia atau sejenis insektida. "Tetapi, para pakar itu mencari solusi pemecahan hama dan penyakit dengan mencarikan musuh alami penyakit dan hama atau predatornya," jelasnya.
Sehingga lahan pertanian dan perkebunan di Thailand tetap terjaga dari bahan kimia. "Mereka menghasilkan komoditas pertanian dan perkebunan dengan sistem organic. Jadi aman untuk dikonsumsi masyarakatnya," pujinya.
Selain itu, pemerintah Kerajaan Thailand yang diperintah oleh Raja Bhumibol Adulyadej memprioritaskan 10 buah lokal Thailand yang wajib dibudidayakan dan diekspor ke luar negeri. Diantaranya, durian, jambu air, mangga, rambutan, jujute (sejenis apel), nanas, manggis. Semua buah-buahan itu sangat manis dan memiliki ukuran besar. "Buah diekspor ke Eropa, Amerika. Asia, Asia Tenggara. Budidaya tanaman buah itu dilakukan langsung oleh petani Thailand yang dibantu pemerintah setempat," katanya.
Selain itu, petani Thailand tidak hanya mengekspor buah-buahan dalam bentuk buah segar, seperti yang banyak ditemui di supermarket di kota-kota Indonesia. "Namun, buah-buahan itu diekspor dalam bentuk sudah dikupas. Buah-buahan yang sudah dikupas, dimasukan dalam sebuah wadah (packing). Jadinya, buah-buahan itu sudah siap untuk disantap oleh masyarakat luar," kata Ekky.
Dia mengakui, pemerintah Thailand juga sangat perhatian dengan pembangunan sector perikanan. Mereka mengeskpor ikan tuna kaleng dalam jumlah besar ke berbagi belahan dunia. Padahal, laut Thailand lebih kecil dibandingkan luas laut Indonesia. "Namun mereka merupakan pengekspor tuna kaleng terbesar di dunia," ungkapnya, dengan kagum.
Kepala SMK PP Tegalampel Dra Anik Sudiartini menambahkan, dirinya bangga ada seorang muridnya yang terpilih mewakili sekolah dan Jatim dalam pertukaran pelajar dan guru di Thailand. "Di seluruh Indonesia, hanya sembilan pelajar yang ikut pertukaran pelajar itu," pungkasnya.
- Jawa Pos, 14/12/14 -
