Angka Kelahiran Bayi di Bondowoso Turun Drastis

Angka Kelahiran Bayi di Bondowoso Turun Drastis

BONDOWOSO, InfoBondowoso.net - Upaya Pemkab Bondowoso untuk menekan angka kelahiran bisa dikatakan berhasil. Sebab, pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ada kelahiran bayi sebanyak 10.000 per tahun. Maka sejak tahun 2012, angka kelahiran bayi di Bondowoso hanya mencapai 4.000 bayi pertahun.

Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PP dan KB) Ahmat Prajitno, sejak tahun 2012 hingga 2014 ini, angka kelahiran bayi di Bondowoso turun drastis. Bahkan selama tiga tahun berjalan, jumlah angka kelahiran bayi stagnan di angka 4.000 kelahiran bayi setahun.

"Ini merupakan keberhasilan Pemkab Bondowoso dalam mengendalikan angka kelahiran bayi," terangnya. Sebaliknya, kata Ahmat Prajitno, jika pemkab melakukan pembiaran kepada pasangan suami istri, maka jumlah kelahiran bayi setiap tahunnya akan melebihi angka 10.000 per tahun.

"Jika itu yang terjadi, maka akan terjadi ledakan jumlah bayi atau baby booming di Bondowoso," katanya. Untuk mengendalikan jumlah kelahiran bayi, pihak PP dan KB melakukan pendekatan kepada pasutri untuk ikut kontrasepsi atau KB. Sedangkan, KB yang ditawarkan ada berbagai macam jenis. Untuk KB permanen itu ikut KB MOP, MOW, IUD, dan Implant.

Bahkan untuk peserta KB MOP (Medis Operasi Pria) jumlahnya 2.480 orang selama tahun 2014. Jumlah peserta MOW (Medis Operasi Wanita) jumlahnya 2.156 orang. Jumlah peserta IUD 28.004 orang. Jumlah peserta implant sebanyak 14.520 orang. "Langkah-langkah itu bahkan sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu dengan lebih optimal," katanya.

Selain itu, kata Ahmat Prajitno, pihaknya mengerahkan personel PL KB ke setiap desa yang ada di Bondowoso untuk terus menyadarkan warga atau pasutri agar ikut KB.

"Punya anak cukup dua saja. Sebab, kalau punya anak lebih dari 2, maka itu akan menyulitkan orang tua dalam mencari uang atau penghasilan," katanya.

Pihaknya juga melakukan pendekatan kepada kiai atau tokoh agama, untuk menyadarkan pasutri agar mengatur jumlah kelahiran anak. "Kalau jumlah anak bisa dikendalikan, maka hal itu akan memudahkan orang tua untuk menghidupi anak-anaknya atau menyekolahkan anak-anaknya," katanya.

Selama tiga tahun belakangan ini, lanjut dia, Bondowoso memperoleh bonus demografi. "Jika jumlah kelahiran bisa ditekan hingga 6.000 bayi, maka pemkab mendapatkan bonus demografi. Artinya, Pemerintah tidak perlu membangun sekolah atau fasilitas lainnya bagi 6.000 bayi," katanya.


- Jawa Pos, 04/12/14 -