Kegigihan Operator dalam Mengelola Arung Jeram Bosamba

Farah Quinn dan Mario Lawalata berarung jeram di Bosamba Rafting
Farah Quinn dan Mario Lawalata berarung jeram di Bosamba Rafting (foto: Fb Bosamba Rafting)

BONDOWOSO, InfoBondowoso.net - Sejak medio 2011, pemerintah daerah menunjuk Kaka Production sebagai operator untuk mengelola Bondowoso Sampean Baru (Bosamba) Rafting. Berbagai tantangan mampu dihadapi hingga Bosamba Rafting hingga bisa berjalan seperti sekarang ini.

Arung jeram Bosamba diklaim sebagai salah satu arung jeram terbaik di Jawa Timur. "Kami memiliki jeram kelas tiga. Artinya sudah standard pengarung. Di Jawa Timur, hanya Pekalen dan Bosamba yang memiliki jeram kelas tiga," ujar Hendri Cornelis Sebo, Project Leader KAKA Production, operator Arung Jeram Bosamba saat ditemui di kantornya di Jalan Diponegoro 168 Bondowoso.

Dengan potensi seperti itu, tak heran jika arung jeram Bosamba banyak diminati oleh para pencinta wisata adrenalin. Hendri mencatat, setiap minggu pihaknya selalu menerima tamu untuk mengarungi jeramnya arus Sungai Sampean baru tersebut. Jika dirata-rata, setiap bulan ada sekitar 50-100 pengunjung arung jeram sepanjang 14 kilometer tersebut.

Kondisi tersebut tentunya cukup membanggakan. Setidaknya, di Bondowoso kini ada jujugan wisata baru selain Ijen yang cukup menarik minat wisatawan. Selain memicu adrenalin karena jeramnya yang cukup menantang, rute arung jeram Bosamba juga menawarkan berbagai keindahan lainnya.

Di sepanjang rute tersebut, banyak tebing-tebing yang cukup terjal di kanan kiri sungai. Beberapa air terjun juga memancar dari tebing-tebing tersebut. Selain itu, ada gua kelelawar di salah satu titik rutenya. Berbagai hewan seperti monyet serta biawak kerap dijumpai para wisatawan di perjalanan. Dengan segala keindahan tersebut, maka arung jeram Bosamba menjadi objek wisata yang kini banyak menarik minat para wisatawan.

Kendati begitu, beberapa tahun lalu, objek wisata yang cukup potensial ini pernah terbengkalai. Pengarungan sempat vakum. Management tak berjalan. Saat itulah, pada medio 2011, Hendri bersama beberapa kawannya akhirnya ditunjuk oleh pemerintah daerah untuk melakukan pengembangan terhadap arung jeram Bosamba.

Berbagai upaya dilakukan. Promosi digencarkan. Mulai dari promosi menggunakan media massa hingga promosi door to door melalui jaringan pelaku wisata di berbagai daerah. Hasilnya pun mulai tampak. Objek wisata arung jeram Bosamba pelan-pelan mulai bergerak. Kunjungan dari hari ke hari mulai meningkat.

Kendati begitu, semuanya tidak serta merta diraih dengan mudah. Banyak kendala yang dihadapi oleh Hendri dan teman-temannya dalam upaya menghidupkan kembali arung jeram Bosamba tersebut. Salah satunya adalah bagaimana kembali menata manajemen, khususnya para pekerja yang banyak melibatkan masyarakat sekitar aliran sungai.

Hendri sadar, yang dia hadapi adalah pekerja kasar dengan SDM yang lemah. Untuk itulah, untuk membenahi menajemen di tingkat pekerja tersebut juga harus melalui metode dan pendekatan tersendiri. Perlahan-lahan, perubahan manajemen yang dilakukan. Hendri juga bisa diterima oleh para pekerja tersebut.

Selain di internal arung jeram Bosamba sendiri, tantangan dari masyarakat yang juga mengais nafkah dari derasnya aliran Sungai Sampean Baru juga sudah dia alami. Hal itu ketika dia harus berbenturan dengan para penambang batu. Para penambang tersebut membangun jembatan bambu yang membuat perahu arung jeram tidak bisa lewat. Akhirnya dengan pendekatan tertentu, hal itu bisa diselesaikan. "Tentu kami tidak bisa sembarangan melarang mereka. Karena itu juga urusan perut. Bisa runyam kalau sembarangan," ujarnya.

Tantangan lainnya adalah banyak orang yang tidak mengerti dengan merusak ekosistem. "Sebelumnya banyak orang yang mencari batang-batang pohon di tebing untuk dijadikan bonsai. Karena banyak yang dicabuti, akhirnya banyak pohon besar yang tumbang ke sungai," kenangnya.

Berbagai tantangan tersebut selalu dia sikapi dengan bijaksana. Karena yang terpenting bagi dia, adalah bagaimana wisata arung jeram Bosamba ini juga berjalan seiring dan saling mendukung dengan masyarakat di sekitarnya.

Dia sadar, banyak hal yang masih menjadi pekerjaan rumah untuk terus membesarkan arung jeram Bosamba. Misalnya bagaimana tingkat kunjungan bisa terus tumbuh. Salah satu yang dia upayakan adalah dengan tiket yang jauh lebih murah dibanding dengan arung jeram di tempat lain.

Dia mencontohkan, untuk para pelajar, sudah bisa mengarungi jeramnya arus Sampean Baru hanya dengan Rp 100 ribu. Sementara untuk umum hanya sekitar Rp 175 ribu. "Kami jauh lebih murah dengan di tempat lain," tambahnya.

Dia juga berharap, berbagai upayanya tersebut juga terus dibantu oleh semua pihak yang peduli dengan wisata di Bondowoso. " Paling tidak orang-orang di Bondowoso, termasuk para pejabat tidak berwisata ke luar Bondowoso. Tapi nikmati dulu yang ada di Bondowoso," harap Hendri. Dengan seperti itu, meraka sudah berkontribusi untuk ikut mengembangkan Bosamba. Itu penting mengingat Bosamba juga menjadi sumber PAD Bondowoso.


- Jawa Pos, 25/11/14 -