Nursalim, Berdayakan Masyarakat lewat Kerajinan Bambu
![]() |
| BAMBOO HOUSE: Nursalim dengan beragam kerajinan bambu hasil kreasi masyarakat. Berbekal peralatan yang murah, bambu bisa dikreasi menjadi kerajinan yang menarik. |
InfoBondowoso.net - Bambu menjadi potensi alam yang sangat besar di Bondowoso. Kondisi itu ditangkap Nursalim untuk menggerakkan ekonomi masyarakat lewat kerajinan bambu. Kini puluhan warga binaan Nursalim bisa menghidupi dirinya dengan menjadi perajin bambu.
Perkenalan Nursalim terhadap kerajinan bambu terjadi pada medio 1997. Semuanya bermula tanpa kesengajaan. Sebelum menggeluti kerajinan bambu, Nursalim bekerja serabutan. Mulai dari menjadi sopir hingga tukang ojek. "Waktu itu saya masih belum punya pekerjaan tetap," ujar pria kelahiran Bondowoso 16 Juli 1962 ini.
Saat kondisi ekonomi semakin menjepit, Nursalim kemudian mencoba menganyam bambu di rumahnya. Waktu itu masih belum terpikir untuk berbisnis. Menganyam bambu hanya untuk mengisi waktu senggangnya saja. Nyaris tak ada modal yang dia keluarkan. Peralatan yang digunakan pun hanya sendanya. Sementara untuk bahan memanfaatkan banyaknya bambu yang ada di sekitar rumahnya.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan Nursalim dalam menganyam bambu pun kian meningkat. Apalagi pada waktu itu, kemampuan Nursalim mulai mendapatkan perhatian pemerintah. Dia pun mulai ikut pelatihan-pelatihan. Sementara akses pasar mulai terbuka. Banyak barangnya hasil produksinya yang mulai laku dijual.
Tak hanya sendirian, dia mulai bergabung dengan karang taruna di desanya. Dari situlah, kemudian usaha kerajinan bambu ini mulai mendapatkan kucuran bantuan. "Pertama kali saya pernah mendapatkan pinjaman sebesar Rp 400 ribu dari pemerintah untuk dijadikan modal," ujar pria yang tinggal di Desa Taman Kecamatan Grujugan ini.
Dengan tekun, Nursalim berusaha untuk memperbesar usahanya dan mulai membentuk brand dengan menamakan kerajinannya ‘Bamboo House’. Meski dari awal tidak memiliki latar belakang kerajinan, namun berkat ketekunan, Nursalim dan brand Bamboo House-nya kini semakin dikenal.
Berbagai produk kerajinan kini bisa digarap Nursalim. Mulai dari tas berbahan dasar bambu, Gazebo hingga segala kebutuhan rumah tangga berbahan dasar bambu. Ada sekitar 50 macam produk berbahan baku bambu yang kini dia garap, harga jualnya bervariasi mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 250 ribu.
Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar Bondowoso, hasil kerajinan Nursalim kini sudah dikirim ke berbagai daerah. Bahkan kini produknya juga laku di pulau Madura. Berkat usahanya itu, Nursalim kini sudah bisa mengangkat derajat ekonomi keluarganya. Bahkan dia sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Namun bukan hanya sebatas berbisnis, Nursalim kini juga bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. Seringkali dia melakukan pelatihan-pelatihan di berbagai daerah. Termasuk juga di pulau Madura. Selain itu, dia juga menularkan bisnis kerajinan bambu itu kepada orang lain di sekitar rumahnya.
Saat ini, terhitung sekitar 20 orang yang berprofesi menjadi penganyam bambu. Mereka menggantungkan hidup dari usaha kerajinan itu. Barang-barang hasil produksi mereka kemudian ditampung oleh Nursalim untuk kemudian dipasarkan.
"Dengan menjadi perajin bambu, setidaknya mereka sudah bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Hasilnya lumayan. Tergantung semangat mereka. Per hari biasanya antara Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu," ungkap Nursalim.
Bagi Nursalim, kerajinan bambu ini bisa menjadi andalan di Bondowoso. Hal itu karena potensi bambu yang dimiliki sangat besar. Hal itu berbanding lurus dengan kebutuhan pasar yang juga besar. Tantangan saat ini adalah bagaimana tenaga terampil untuk menjadi perajin harus terus didorong oleh pemerintah.
"Selain program pemberdayaan melalui kegiatan pelatihan, pemerintah juga mesti mendorong usaha kecil melalui bantuan. Semisal peralatan. Namun kita berharap bantuan peralatan itu benar-benar tepat sasaran," tukasnya.
Frans Subijakto, salah seorang pakar kerajinan di Bondowoso mengungkapkan, dalam beberapa tahun ke depan ini, produk-produk kerajinan berbahan dasar bambu akan diminati pasar. Hal itu sudah mulai tampak di mana saat ini permintaan akan produk-produk dari bambu semakin besar. "Bambu akan menjadi tren kerajinan ke depan. Ini harus kita tangkap. Khususnya untuk daerah-daerah yang memiliki cadangan bambu yang cukup besar," ujarnya.
Pemerintah daerah memang sudah memiliki fokus tersendiri untuk mengembangkan klaster bambu di Bondowoso. Sekitar 24 ribu hektare lahan kritis, seperti yang telah direncanakan, bakal dimanfaatkan untuk ditanam berbagai jenis pohon bambu. Nantinya, setelah menghasilkan, bambu tersebut akan dijadikan berbagai ragam produk untuk industri.
"Beragam jenis produk kerajinan yang akan dikelola dari bambu ini. Seperti misal mebeler, aksesori rumah tangga, bahkan aksesori otomotif yang kian hari peluang pasar terbuka lebar," ujar Bupati Amin Said Husni beberapa waktu lalu.
- Jawa Pos, 28/10/14 -
