Dr Muhammad Gunawan MPdI, Pelopor Sekolah Mandiri
Dr Muhammad Gunawan (kanan) menjadi pelopor sekolah mandiri di lingkungan pondok pesantren di Bondowoso. Sekolah harus lepas dari pengelolaan ponpes agar lebih profesional.
Pernah Jadi Tukang Semir Sepatu untuk Hidup
SELASA (7/10) lalu menjadi hari bersejarah tersendiri bagi Dr Muhammad Gunawan. Bertempat di auditorium lantai empat gedung pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Gunawan menjalani sidang desertasi. Ada tujuh orang penguji yang terdiri dari enam profesor dan satu doktor.
Setelah sekitar tiga jam mengikuti uji disertasi tersebut pria yang baru menginjak usia 31 tahun ini pun dinyatakan lulus dan dikukuhkan sebagai doktor. Gunawan berhasil meraih gelar tertinggi di bidang akademik. "Perasaan saya tentu sangat bahagia karena setidaknya bisa membahagiakan orang tua dan keluarga," ungkapnya.
Dunia pendidikan bagi pemuda yang akrab disapa Gunawan ini sebenarnya bukan sesuatu yang diharapkan sejak kecil. Bahkan ketika masuk ke jenjang perguruan tinggi, Gunawan awal mulanya menempuh kuliah di S1 Fakultas Ekonomi di UIN Malang. "Di jurusan ekonomi itu saya tidak sampai menyelesaikan kuliah, akhirnya saya pindah ke Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Rahmat Malang," tutur pria kelahiran 10 Agustus 1982 ini.
Sejak saat itulah, Gunawan akhirnya mulai akrab dengan dunia pendidikan. Khususnya pendidikan Islam. Apalagi, Gunawan akhirnya menikahi seorang gadis bernama Nurdiana Kholidah SHum, yang tak lain puteri pemilik Yayasan Pendidikan Nurul Falah di Desa Jeruk Sok-Sok, Binakal, Bondowoso.
Gunawan pun akhirnya lebih intens berkecimpung di yayasan pendidikan Nurul Falah tersebut. Bahkan dia mengambil peran sebagai pengajar di MTs Nurul Falah sejak 2005. Selanjutnya dia mengambil peran lebih besar dengan menjadi pengajar di SMK Nurul Falah sejak 2007 sampai sekarang. Hingga akhirnya juga menjadi Dekan FAI Universitas Bondowoso.
Jalan yang ditempuh Gunawan untuk mengenyam pendidikan formal hingga dikukuhkan sebagai doktor juga tidaklah mudah. Apalagi dia memang terlahir dari keluarga yang sederhana. Sewaktu masih duduk di bangku SMA misalnya, Gunawan bahkan pernah menjadi tukang semir sapatu untuk tambahan biaya hidup.
Bahkan dia juga pernah menjadi penjual korek dan kacang di pasar. Setelah lulus S1, Gunawan menjadi sales makanan serta kanvaser alat-alat kesehatan. "Waktu itu bayaran saya Rp 600 ribu per bulan," ungkapnya.
Begitulah, dunia pendidikan bagi Gunawan seakan sesuatu yang datang secara kebetulan. Dia tak pernah memimpikan namun akhirnya dia menjalani. Meski terkesan kebetulan dalam hidupnya, Gunawan yang mulanya ingin menjadi seorang ekonom kini totalitas dalam memberikan waktu dan pemikirannya untuk dunia pendidikan. Khususnya pendidikan formal di pesantren.
Salah satu yang menjadi fokusnya adalah pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Pesantren di Bondowoso. Gunawan masih ingat betul, pada 2006, tidak ada satu pun SMK di pesantren di Bondowoso yang mandiri. "Awalnya SMK di pesantren model kelas jauh. Tidak ada yang otonom atau mandiri," ujar alumnus Program Pasca Sarjana Pendidikan Islam STAIN Jember ini.
Dari situlah, dia kemudian berpikir bahwa untuk lebih maju, SMK di Pesantren harus berdiri sendiri. "Dengan berdiri sendiri, maka SMK di pesantren lebih mempunyai kebebasan dalam melakukan inovasi manajemen internalnya," ujarnya. Dari situlah, pada 2007, SMK Nurul Falah merupakan SMK pesantren di Bondowoso yang pertama kali berdiri sendiri.
Semangat itulah yang ingin dia tularkan ke beberapa SMK di ponpes-ponpes lainnya. Setelah berbagai proses yang dilakukan, akhirnya pada 2012 ini, setidaknya sudah terdapat 16 SMK di pesantren-pesantren Bondowoso yang sudah mampu mandiri. "Dengan mandiri, maka SMK di pesantren memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang," ujar pria dengan empat orang putra ini.
Tak berhenti di situ, Gunawan yang kemudian didapuk sebagai koordinator Forum Komunikasi SMK Pesantren (FK-SMKP) yang beranggotakan 16 SMK Pesantren di Bondowoso. Melalui forum tersebut, berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan SMK di pesantren terus dilakukan. "Salah satunya adalah meningkatkan kompetensi pendidik, melalui workshop dan pembinaan," ujarnya.
Forum tersebut juga menjadi ajang komunikasi antar kepala SMK dalam rangka meningkatkan perluasan akses informasi. Ada hal yang ingin dia rengkuh, yaitu bagaimana mengubah paradigma yang berkembang bahwa siswa lulusan pesantren itu tidak terampil.
Setelah bertahun-tahun menggeluti dunia pendidikan, Gunawan merasakan keasyikan tersendiri. Baginya, pengabdian di dunia pendidikan justru memberikan ketenangan dalam dirinya. "Kesuksesan seseorang itu, secara lahir dan batin bisa diraih lewat pendidikan dengan cara mengabdi pada masyarakat. Pintu masuknya adalah dengan cara menjadi guru," tambahnya.
Gunawan mengakui jika tantangan di sektor pendidikan, khususnya di Ponpes juga cukup besar. Tantangan terberatnya adalah menumbuhkan profesionalisme di dalam yayasan. Hal itu yang menurutnya cukup lemah di kalangan pesantren. Penulis dua buku berjudul Strategi Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru dan Supervisi Kepala Madrasah ini pun banyak menemukan ketidakprofesionalan di dunia pesantren. "Ini yang selama ini yang menjadi persoalan, hampir di semua pesantren yang diangkat menjadi top leader, hanya berdasarkan kedekatan," ungkapnya.
"Caranya dengan memberikan teladan yang baik, sehingga pendidik tidak hanya transfer keilmuan saja," tukasnya. Gunawan menyesalkan banyaknya oknum pendidik yang justru terlibat dalam perselingkuhan, disiplin yangrendah serta enggan meningkatkan kualitas keilmuan dirinya.
Terlepas dari itu semua, Gunawan kini bisa tersenyum lega karena perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan formal di pesantren terus meningkat. Hal itu terbukti dengan support anggaran yang sudah cukup memadai bagi berkembangnya pendidikan formal di dunia pesantren.
Dapat Dukungan Penuh Keluarga
Salah satu faktor keberhasilan Dr Gunawan dalam bergelut di bidang pendidikan adalah support dari keluarganya. Dalam setiap pengambilan keputusan besar, Gunawan selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan keluarga. Salah satunya ketika dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke program doktoral.
"Saya diskusi dengan paman saya, namanya Hasan Basri. Beliau bilang, mengenyamlah pendidikan selagi kamu mampu secara fisik. Yang lain-lain, termasuk biaya itu gampang. Dari situlah saya bulat memutuskan untuk melanjutkan sekolah," ungkapnya.
Selama menempuh pendidikan di Malang, Gunawan tentu banyak meninggalkan keluarganya di rumah. Sesekali harus bermalam di Malang. Dia bersyukur istri dan anak-anaknya menyadari akan hal itu. "Saya berterima kasih kepada istri dan anak-anak karena merelakan waktu untuk studi saya," tuturnya.
Setelah studi selesai, Gunawan kini banyak memilik waktu. Bahkan, bahwa waktu dihabiskan bersama-sama dengan keluarga. Jika tidak karena ada kepentingan yang mendesak, dia lebih memilih bercengkrama dengan anak-anaknya di rumah. Sesekali, pria penyuka cah kangkung dan nasi goreng ceker pedas ini mengajak keluarganya untuk makan bersama di luar rumah.
Diusianya yang masih muda ini, banyak harapan-harapan besar yang tertanam dalam benaknya. Di dunia pendidikan, khususnya pendidikan pesantren. Dia ingin terus mengabdikan diri di ponpes. Terutama di sekolah di lingkungan ponpes. Khususnya dalam upaya meningkatkan kemandirian pesantren. "Yang pasti saya ingin terus mentransfer apa yang saya ketahui di dunia pendidikan," jelasnya.
Di sisi lain, kini dia juga sibuk menjalankan usaha. Di antaranya adalah usaha perkebunan kayu. Selain itu, dalam upaya meningkatkan perekonimian itu, dia juga aktif dalam dunia bisnis di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Investasi Masa Depan, Pendidikaan Tidak Mahal
Dr Gunawan MPdI memiliki pandangan menuntut ilmu tidak kenal waktu dan usia. Dalam kondisi apapun, belajar terus dilakukan. Tidak ada alasan untuk berhenti belajar karena faktor biaya. Bahkan setelah meraih gelar doktor, Gunawan mengaku masih merasa kurang ilmunya. Gunawan akan terus belajar dan belajar.
Bahkan, Gunawan siap berkorban banyak demi kemajuan pendidikan. Baginya, tidak ada kata mahal dalam meningkatkan pengetahuan ilmu pendidikannnya. "Tergantung kita melihat sudut pandang dari mana. Kalau pendidikan itu untuk investasi maka tidak ada kata mahal," ungkapnya.
Investasi yang dimaksudkan adalah bekal seseorang bagi masa depannya sendiri. Dengan pendidikan, seseorang bisa meningkatkan kemampuannya dirinya. "Pendidikan itu dunia ilmu, dunia belajar. Dengan belajar orang bisa meningkatkan kemampuannya. Meningkatkan kompetensinya. Sehingga kompetensi dan kemampuan itulah yang akan memberikan manfaat pada dirinya kelak," ungkapnya.
Namun, diakuinya investasi di dunia pendidikan itu tidak bisa dirasakan secara langsung. Masih perlu proses dan perjuangan panjang untuk memetik hasilnya.
Menurut dia, pendidikan terasa mahal karena sering dimaknai dengan salah. Salah satunya ketidakpahaman bahwa biaya pendidikan yang besar akan memberikan manfaat yang besar juga di kemudian hari. Namun demikian, kata dia, jangan pernah mengharapkan pengorbanan dalam pendidikan kita itu balasannya selalu berupa materi. "Hakekat pendidikan itu belajar memahami kehidupan. Hal lain termasuk juga materi pasti akan mengikuti dengan sendirinya," jelasnya.
Itu yang senantiasa ditanamkan ketika memutuskan untuk selalu belajar. Termasuk juga ketika mengejar program doktoral. Memang diakuinya banyak motivasi orang untuk sekolah tinggi. Bahkan ada yang memutuskan sekolah tetapi menunggu sejahtera terlebih dahulu. Tapi ada juga yang motivasinya meningkatkan pengetahuan.
Untuk membiayai program dokioralnya dana yang harus dikeluarkan sekitar Rp 80 jt. "Untuk biaya ke kampus saja. Belum transpor! dan lain-lain," ungkapnya. Namun Gunawan terus meyakini bahwa akan selalu ada jalan untuk bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Hingga akhirnya dia bisa menuntaskan kuliahnya itu. "Anda boleh bekerja tapi jangan melupakan tugas pokok untuk selalu belajar," ujar pria yang kini juga aktif sebagai dekan di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Bondowoso (Unibo) ini. Dia menegaskan akan terus belajar di mana pun dan kapan pun.
- Jawa Pos, 19/10/14 -


