Junaidi 'Bang Jun' Maestro Drama Kolosal Asal Bondowoso

Junaidi 'Bang Jun' Maestro Drama Kolosal Asal Bondowoso
Junaidi 'Bang Jun' GAS Bondowoso bersama Kapolres Sabilul Alif (foto: Facebook BangJun's Gelar Paundrahanutama )

InfoBondowoso.NET - Berbicara seni teater di Bondowoso, nama Junaidi atau yang akrab disapa Bang Jun tak bisa ditinggalkan begitu saja. Konsistensinya dalam membina teater terus dilakukan. Tak hanya di sekolah-sekolah, tapi juga di kampung-kampung.

TRAGEDI gerbong maut yang menewaskan puluhan pejuang Bondowoso pada 23 November 1947 merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah di Bondowoso. Kejadian tersebut berawal saat beberapa bulan sebelumnya pasukan Belanda mendarat di Pasir Putih Situbondo kemudian terus melakukan agresi militernya hingga ke Bondowoso.

Kedatangan pasukan Belanda tersebut disambut dengan perjuangan heroik pejuang Bondowoso. Namun karena kalah persenjataan, pejuang Bondowoso berhasil dipukul mundur. Namun kegigihan karena tidak ingin dijajah kembali membuat para pejuang menggunakan taktik perang gerilya.

Taktik tersebut cukup jitu. Pejuang Bondowoso nyaris saja memenangkan pertempuran.

Saat itulah, tentara Belanda menggunakan politik Devide et Impera. Adu domba dijalankan. Banyak tokoh penting yang ditangkap. Belanda juga menggunakan mata-mata untuk menangkapi para pejuang Bondowoso.

Dari penangkapan besar-besaran tersebut, semua rumah tahanan di hampir setiap kecamatan penuh sesak. Sedikitnya 637 tentara dan pejuang rakyat meringkuk di sel tahanan Belanda. Melihat banyaknya tahanan tersebut, diputuskan untuk memindahkan beberapa tahanan, khususnya untuk kasus pelanggaran berat ke Surabaya.

Tepat Sabtu, 23 November 1947, sekitar pukul 04.00, sebanyak 100 tahanan mulai dipindahkan. Mereka terdiri dari 20 rakyat desa, 30 dari laskar rakyat, 30 dari TRI serta 20 polisi. Mereka digiring menuju stasiun Bondowoso dan diberangkatkan menggunakan tiga gerbong. Gerbong 1 GR5769 berisi 32 orang, gerbong 2 GR4416 berisi 30 orang serta 38 orang lainnya masuk di gerbong 3 GR10152.

Tepai pukul 07.30, kereta berangkat menuju Surabaya. Perjalan berlangsung sekitar 16 jam. Sekitar pukul 20.00, tiga gerbong tersebut tiba di stasiun Wonokromo. Sayangnya, akibat kondisi gerbong yang tak memadai, sedikitnya 46 pejuang itu tewas, 8 orang di antaranya berada di gerbong 2 GR4416 dan seluruh penumpang di gerbong 3 GR10152 yang berisi 38 pejuang gugur.

Kisah heroik itulah yang diangkat dalam bentuk teater oleh komunitas GAS di kawasan monumen Gerbong Maut dalam rangka menyambut hari jadi Bondowoso ke 195 pekan lalu. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 125 pemain terlibat dalam teater tersebut. Sebuah teater kolosal yang cukup banyak menyita perhatian masyarakat Bondowoso.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 22 Agustus lalu, sebuah drama kolosal bertajuk Babad Bondowoso; Langit merah di Tanah Sentong juga digelar di Alun-alun Raden Bagoes Asra. Drama tersebut menceritakan tentang keberhasilan Raden Bagoes Asra (Ki Ronggo) menumpas pemberontakan Aryo Gledak. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 170 pemain teater terlibat dalam pementasan tersebut.

Di balik suksesnya dua pertunjukan drama kolosal itu, nama Junaidi atau biasa dipanggil Bang Jun, ada di belakangnya. Pria yang lahir di Bondowoso 30 Juni 1975 itulah yang menjadi sutradara pertunjukan tersebut. Di bawah kendali pria yang juga ketua GAS ini pulalah, pertunjukan teater tragedi gerbong maut dan Babad Bondowoso sukses digelar.

Mendesain sebuah teater kolosal yang melibatkan ratusan talent tentu bukan garapan mudah. Apalagi para pemain tersebut mayoritas masih duduk di bangku sekolah. Waktu latihan seringkali berbenturan dengan jadwal sekolah mereka.
Teater GAS Bondowoso
Keluarga besar Teater GAS Bondowoso (foto: Facebook Teater GAS Bondowoso)

Para siswa-siswa tersebut merupakan pemain teater yang tersebar di banyak sekolah yang selama ini menjadi binaan Bang Jun. Mereka di antaranya dari teater Arwah MAN Bondowoso, Teater Rayap SMA Tenggarang, Teater Jernih SMAN 02 Bondowoso, Teater Arum SMAN 01 Bondowoso, Teater Arta' SMAN Tamanan, Teater Pinus SDN 01 Curahpoh serta Teater Kancil SDN 03 Dabasah. Selain itu ada juga dari teater kapas SMP As-syuhada 45, Teater Landuk SMK PP Tegalampel, Teater Miror SMK 1 Bondowoso, Komunitas Parkur, SMA Maarif Poncogati.

Keterlibatan Bang Jun dalam Seni teater hingga kini menjadi spesialis pementasan Drama Kolosal di Bondowoso sudah dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku SMP pada tahun 1990-an. Seni teater terus dia geluti hingga akhirnya pada 2006 dia dipercaya menjadi ketua GAS Bondowoso.

Bang Jun pun cukup senang melihat geliat teater yang cukup besar di sekolah-sekolah. Namun tak berhenti di situ, sejak beberapa tahun lau, dia mulai intens menggarap teater kampung. Dia mendidik anak-anak kampung untuk bisa bermain seni teater.

Dalam waktu dekat, bersama dengan teater kampungnya, dia akan melakukan road show di berbagai kecamatan di Bondowoso. Dengan menggandeng Forum PAUD, road show teater itu juga akan menampilkan pertunjukan teater yang akan melibatkan guru-guru PAUD. "Road show teater kampung ini akan kita mulai pada 13 September mendatang dimulai dari Prajekan," pungkasnya.


- Jawa Pos, 02/09/14 -