Menikmati Lebaran di Desa Seputar Bondowoso

Mohon maaf lahir dan batin

Khas, penuh dengan tradisi, begitulah kesan berlebaran di desa. Warga desa menyambut datangnya lebaran dengan cara yang khas. Iya, khas desa. Tidak hanya cara penyambutan, tapi juga makanannya.

Ada tradisi "tompokan", dan langsung bersilaturrahim kepada tetangga sesaat setelah turun dari lantai masjid desa, lalu sebagian anak-anak muda bersilaturrahim kepada orang yang lebih tua dengan "ater-ater" atau makanan hantaran dengan lauk daging sapi. Warga Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso, Kabupaten Bodowoso, yang berjarak kilometer ke arah selatan dari Kota Bondowoso untuk bersilaturrahim, adalah salah satu contoh. Tapi, tradisi khas dalam menyambut lebaran serupa juga ada di sekitar Jember, Situbondo, dll

Selang 1-2 hari menjelang Ramadhan berakhir, warga desa disibukkan dengan menyembelih sapi secara beramai-ramai. Sapi itu merupakan hewan yang dibeli dari hasil "patungan" sejak beberapa bulan sebelumnya.

Mereka arisan bulanan dengan diikuti puluhan warga, tapi ada juga yang langsung membayar secara tunai. Itulah yang disebut dengan tradisi "tompokan" Ala waga desa.

"Seperti 29 anggota yang setiap orang membayar Rp200 ribu. Biasanya, satu tompokan ada 30-50 orang yang setiap orang membayar Rp200 ribu atau Rp100 ribu," dari mengumpulkan Rp5,8 juta dari 29 anggota tompokan yang akhirnya dibelikan seekor sapi seharga itu, lalu disembelih bersama-sama. terasa mempererat silaturrahim.

"Biasanya, penyembelihan sapi tompokan memang dilakukan pada 1-2 hari menjelang Lebaran. Nanti, daging itu dimasak untuk hidangan keluarga dan kerabat yang bersilaturrahmi,"

Hasil sembelihan pun dibagikan kepada 29 anggota yang setiap orang mendapatkan 3 kilogram daging sapi, lalu mendapatkan tambahan tulang dan uang hasil penjualan kulit sapi.

Pembagian daging sapi untuk Lebaran itu semula dijatah 2,5 kilogram per orang yang diletakkan di atas hamparan daun pisang, lalu daging sisanya dibagi lagi secara merata hingga terkumpul 3 kilogram per orang.

Seperti di Grujugan Lor, Bondowoso. "Kalau di sini, kami patungan selama setahun. Setiap bulan kami membayar Rp15 ribu, lalu kekurangan biaya akan digenapkan di akhir pembayaran," tutur warga Grujugan Lor, Bondowoso, Ayub.

Janganlah heran, jika bersilaturrahim lebaran di desa akan menerima sajian masakan daging sapi dengan berbagai menu olahan, termasuk makanan yang diantarkan anak-anak muda kepada saudara yang lebih tua dalam tradisi "ater-ater". Semuanya dengan lauk daging.

Iya, orang desa memang makan lauk daging dalam setahun sekali dan hal itu terjadi saat lebaran. Di luar lebaran, lauk seadanya, kadang tahu atau tempe, kadang telur, kadang hanya dengan lauk kerupuk, atau bahkan tanpa lauk. Ada pula warga desa yang mampu dengan lauk ikan atau daging ayam.

Tradisi menyambut lebaran yang juga khas desa adalah warga langsung bersilaturrahim kepada tetangga sesaat setelah turun dari lantai masjid desa.

Namun, sebagian warga juga langsung berziarah ke makam leluhur di pemakaman desa yang lokasinya tak jauh dari masjid desa. "Saya selalu langsung ke makam Bapak setelah Shalat Idul Fitri," ungkap warga desa.

Selanjutnya, warga desa saling bersilaturrahim dan dijamu dengan santapan makanan berlauk daging sapi. Sebagian anak-anak muda bersilaturrahim kepada sanak saudara yang lebih tua dengan "ater-ater" atau makanan hantaran dengan lauk daging sapi.

"Kalau warga yang tak mampu, mereka melakukan tompokan daging sapi, mereka tetap melakukan ater-ater dengan lauk dari telur dalam berbagai olahan," tutur warga desa setempat, Maryam.

Iya, warga desa meluapkan kegembiraan dalam memaknai lebaran sebagai "hari kemenangan" setelah sebulan menjalani puasa Ramadhan dengan cara yang khas. Khas desa, Indahnya. (antara/ib)