Puasa untuk Memilih Allah, Mudik untuk Hablum Minannas
![]() |
| Oleh Saifullah Yusuf * |
Apa yang menyebabkan seseorang rela keluar uang dan tenaga untuk jauh-jauh mudik? Apa yang menjadi pendorong gerak sentrifugal (dari kota ke desa) berjuta-juta orang di Indonesia? Jawabnya satu, karena mudik merupakan salah satu esensi Islam. Yakni, kembali.
Pada sasarnya, mudik Itu kembali. Dan orang, pada dasarnya itu senang untuk kembali. Siapa pun yang pernah bepergian pasti tahu betapa bahagianya ketika waktunya hendak pulang. Ketika akan pulang, suasana terasa berbeda. Udara terasa segar, dan perjalanan menjadi terasa lebih manis.
Dalam Islam, ada yang namanya Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun -sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali padaNya. Nah, konsep kembali ini yang paling esensial. Karena, siapa yang tidak berbahagia bisa kembali ke Zat asalnya.
Dalam konteks kehidupan sosial, maka mudik Ini mempunya arti yang sangat penting dan strategis. Dari sudut pandang ekonomis, jelas tidak akan nyambung. Karena untuk apa buang-buang uang, waktu, dan tenaga untuk hanya sekedar berkumpul paling banter seminggu? Tapi spirit orang Islam di Indonesia lain. Uang, harta, dan tenaga itu merupakan hal nomor dua. Yang penting adalah memenuhi panggilan hati, agama, dan masyarakat.
Adalah sebuah kehinaan dan dosa besar bila seseorang itu kepaten obor (memutus silaturahmi). Pandangan yang bersumber dari nilai-nilai Islam mengenal kehidupan sosial itu begitu mendarah daging. Makanya, bulan Ramadan di Indonesia selalu istimewa, dan ditutup dengan sebuah momen berkumpul yang ditandai dengan sebuah pengorbanan waktu, tenaga, dan uang. Pendek kata, ketika berpuasa itu adalah kita lebih memilih Allah ketimbang hawa nafsu. Sementara ketika mudik, kita lebih memilih mendulukan orang lain ketimbang diri. Semuanya sama-sama merupakan bukti seseorang mampu menaklukkan egonya.
Maka, sungguh perayaan hari Kemenangan di Idul Fitri di Indonesia selalu terasa istimewa. Dan juga bermakna sosial yang sangat penting. Bahkan, menjadi salah satu stimulan ekonomi yang tak pernah habisnya. Gerak uang dari kota ke desa tiba-tiba saja membesar, dan menjadi sebuah stimulan bangkitnya industri di desa. Ini sesuatu yang luar biasa. Bila ekonomi Indonesia mengalami stagnasi selama 11 bulan, maka pada satu bulan saja bisa terjadi aktivitas yang menghancurkan kebekuan ekonomi. Orang dalam jumlah banyak belanja dalam jumlah besar, yang pada gilirannya produsen membelanjakan untuk produk lainnya lagi, sehingga tercipta rantai ekonomi yang menyehatkan. Negara lain harus menunggu seperti menjadi penyelenggara Piala Dunia, atau Olimpiade, tapi Indonesia tiap tahun mempunyai momennya sendiri.
Untuk masalah kembali, saya teringat sebuah cerita mengenai seorang nenek tua yang jauh-jauh datang hanya untuk pergi ke Kabah menunaikan haji. Ditanya, kenapa kok susah-susah mau datang ke Mekkah. Jawaban nenek itu menggetarkan. "Ah, hati saya sudah sampai di sini sebelumnya. Maka, mudah bagi fisik saya yang tersisa ini untuk mengikutinya," katanya, lantas tersenyum. Seperti itulah kira-kira mudik lebaran. Bukan hanya sebuah aktivitas pulang kampung saja, tetapi mempunyai spirit religiusitas yang luar biasa. Selamat mudik, dan selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H mohon maaf lahir batin.
*) Wakil Gubernur Jawa Timur
- Jawa Pos, 28/07/14 -
