Syaifur Rahman, Pengarang Buku Produktif asal Bondowoso
| Syafur Rahman di perpustakaannya menunjukkan kover bukunya tentang KH Kholil |
Membaca dan menulis sudah menjadi hobi Syaifur Rahman sejak kecil. Hobi literasinya itu mengantarkan Rahman menjadi penulis yang cukup produktif. Sebuah buku yang cukup berkesan baginya adalah biografi KH Kholil, seorang ulama besar asal Bangkalan, Madura.
BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Sejak kuliah di Universitas Islam Bandung (Unisba), Syaifur Rahman didaulat menjadi redaktur majalah kampus yang bernama Republika. Sebab, teman-teman kuliahnya, mengetahui kemampuan menulis Syaifur Rahman cukup lumayan. Syaifur Rahman yang kelahiran Desa/Kecamatan Wonosari, Bondowoso, ini terus mengasah kemampuan menulisnya.
Saat ini Rahman telah menulis lima judul buku, mulai biografi tokoh hingga tasawuf. ”Hingga tahun ini saya sudah menulis lima karya atau judul buku,” katanya.
Bagi Rahman yang paling berkesan adalah saat menulis biografi KH Kholil, Bangkalan, Madura. Buku setebal 100 halaman lebih itu diselesaikannya pada 1998. Namun, dia harus mengumpulkan data-data se masa hidup KH Kholil Bangkalan.
”Saya mendatangi berbagai perpus takaan yang ada diberbagai kampus yang ada di Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya dan Malang,” katanya. Hal itu dia lakukan karena literatur tentang KH Kholil sangat minim. ”Sehingga, saya berburu data selama tujuh tahun lebih untuk menulis buku KH Kholil Bangkalan,” katanya.
Selain itu, Rahman juga mendatangi rumah Gus Dur atau Abdurahman Wahid, mantan Ketua Umum PBNU, untuk membaca literatur tentang KH Kholil. ”Saya mendatangi perpustakaan di Ciganjur untuk mencari tahu siapa sebenarnya Mbah Kholil (sebutan KH Kholil, Red) itu,” katanya.
Agar data yang ditulisnya akurat, Rahman mendatangi pula anggota keluarga KH Kholil dan para santrinya. Sehingga, ketika data-data itu sudah mencukupi, dia mulai menulisnya di atas mesin ketik. ”Kalau zaman dulu, komputer jarang digunakan karena mahal. Oleh sebab itu saya memakai mesin ketik untuk menulisnya,” ujarnya.
Demi mendapatkan data yang akurat, Rahman juga mendatangi salah seorang santri KH Kholil di Bali. “Karena datanya sangat penting, maka saya pergi ke Bali untuk menemui santri Mbah Kholil,” tambahnya.
Sialnya, ketika data sudah didapat dan Rahman hendak balik ke Jawa, dia malah tertidur di atas kapal laut. ”Lalu, bus yang sebelumnya saya tumpangi pergi meninggalkan kapal laut menuju Banyuwangi. Sedangkan, koper berisi data-data terbawa bus itu,” katanya.
Rahman yang masih berada di dek kapal baru sadar busnya sudah meninggalkannya. Saat itu dia mulai putus asa. Kemudian, dia berdoa kepada Allah SWT agar data-data yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun tidak hilang. ”Saya panjatkan doa agar Allah menyelematkan data-data itu,” katanya.
Rahman akhirnya berusaha mengejar bus tersebut dengan naik kendaraan umum yang ada di pelabuhan. ”Akhirnya bus tersebut terhenti. Sebab, di depan bus itu ada truk terguling,” katanya. Akhirnya, Rahman masuk ke dalam bus itu. ”Saya langsung meminta kepada pak sopirnya untuk mengambil koper saya. Setelah saya buka, data-data masih tersimpan rapi di dalam koper serta barang-barang berharga lainnya masih ada di dalam koper tersebut,” tuturnya.
Selanjutnya, Rahman pulang ke Bondowoso dan menulis bio grafi KH Kholil. Akhirnya, biografi KH Kholil bisa diselesaikannya dan diberi judul Surat Kepada Anjing Hitam. Buku yang mengisahkan perjuangan KH Kholil itu pun menarik minat masyarakat Bondowoso.
Rahman yang juga berprofesi sebagai pengacara itu hingga kini terus menulis buku-buku tentang agama. Selain itu, dia juga menulis buku tentang perjuangan Ki Ronggo, tokoh yang babat alas Bondowoso. ”Saya akan terus menulis buku sampai akhir hayat saya,” tegas pria yang mendidik anak-anaknya untuk selalu mencintai buku itu.
Jawa Pos (11/03/14)