Buharto Petani Organik Bondowoso Yang Berprestasi

Buharto Petani Organik Bondowoso Yang Berprestasi
Buharto
BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Buharto Kukuhkan Potensi Organik Bondowoso di Tingkat Nasional, Keuletan dan kegigihan Buharto, petani asal Desa Karang Melok Tamanan, menekuni pertanian organik membuahkan hasil. Pria ini terpilih sebagai juara I pemilihan petani teladan JawaTimur 2013. Dengan demikian, pria ini berhak mewakili provinsi Jawa Timur ke ajang lomba yang lebih tinggi. Yakni, pemilihan petani teladan tingkat nasional 2013.

"Setelah menjuarai lomba pemilihan petani teladan tingkat kabupaten, Buharto memang mewakili Kabupaten Bondowoso dalam pemilihan petani teladan tingkat Provinsi Jawa Timur. Ternyata, di tingkat provinsi, Buharto kembali terpilih sebagai petani teladan tingkat provinsi," kata Kepala Dinas Pertanian Bondowoso, Ir. Wahyudi Triatmadji.

Menurut Wahyudi Triatmadji, dengan terpilihnya Buharto sebagai petani teladan tingkat provinsi
maka dia berhak mewakili Provinsi Jawa Timur dalam pemilihan petani teladan tingkat nasional 2013. Karena itu, dalam waktu dekat, pria ini akan dinilai oleh tim penilai lomba petani tingkat nasional.

Buharto adalah sosok petani Bondowoso yang sukses mengembangkan pertanian organik sejak beberapa tahun lalu. Bersama Kelompok Tani Karya Tani 2 Karang Melok, pria kelahiran 9 September 1971 ini mengembangkan pertanian organik di persawahan setempat.

Awalnya, alumnus Madrasah Aliyah Negeri tahun 1990 ini dianggap 'gila'
oleh petani setempat karena menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk pertaniannya. Namun, pria ini tetap tekun menggunakan pupuk organik. "Ya, terus terang saja, dulu, saya sering mendapat penilaian yang tidak sedap dari para petani. Saya kerap dianggap kurang waras karena menggunakan pupuk organik di lahan pertanian saya." tutur Buharto.

Namun, tambah Buharto. penilaian miring tersebut semakin memacu semangatnya untuk mengembangkan pertanian organik. Karena itu, dia terus mengembangkan pertanian organik.
"Saya yakin. Tuhan itu menciptakan segala sesuatunya dengan seimbang. Karena itu, jika Tuhan menciptakan hama penyakit, pasti Tuhan juga menciptakan penangkalnya dari alam itu sendiri. Kalau sudah begitu, untuk apa kita menggunakan pupuk kimia dan obat-obatan kimia juga? Kenapa kita tidak menangkal serangan hama penyakit itu secara alamiah juga? Pertanian organik itu sunnatullah!"

Berbekal keyakinan tersebut, ketua kelompok tani yang beranggotakan 35 orang ini
terus melakukan uji coba pertanian organik. Selain itu, pria ini juga melakukan serangkaian uji coba penanganan serangan hama dan berbagai kendala lainnya secara natural. Pria ini terus menekuni pertanian organik! Hasilnya?

Dari serangkaian uji coba tersebut, Buharto ternyata membuktikan bahwa pertanian organik mendatangkan nilai tambah yang luar biasa. Selain itu, Buharto juga membuktikan bahwa profesi' petani yang digelutinya bukan 'profesi* yang remeh temeh.

'Menjadi petani itu membanggakan. Petani itu tidak akan hidup susah," Kok? kata Buharto.
Buharto mengisahkan bahwa dengan pertanian organik yang digelutinya, dia bisa meningkatkan kesejahteraannya. Bagaimana tidak, dari per hektar lahan pertaniannya.
Buharto bisa menangguk 12 ton. Bahkan, dengan pertanian organik, dia pernah menghasilkan produksi padinya sebanyak 15 ton per hektar.

"Padahal, jika menggunakan pupuk anorganik,
saya hanya bisa memanen padi antara 4 sampai 5 ton per hektar. Selain itu, Buharto menjelaskan bahwa dengan sistim pertanian organik maka kerusakan lingkungan juga bisa dieliminir. Selain itu. ongkos produksi pertanian juga menjadi lebih murah. Karena, penggunaan zat-zat kimia akan berkurang.


Suasana komplek pertanian milik Buharto di Desa Karang Melok Tamanan.

Karena itu, saat ini, pria ini terus mengembangkan pertanian organik dengan pola hulu ke hilir. Di kawasan lahan pertanian yang dikembangkannya, terdapat Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO). penggilngan padi, lantai jemur, lumbung pangan. "Peralatan itu ada yang dibeli sendiri namun banyak pula bantuan sarana dan prasarana dari Pemkab Bondowoso terutama Dinas Pertanian.*

Buharto menutup perbincangannya dengan menyatakan bahwa dirinya bersama Kelompok taninya akan terus mengembangkan pertanian organik yang dikelolanya. Bahkan dia menuturkan tentang obsesinya bahwa dia juga akan membuat pabrik pakan ternak (sapi) dan pakan temak (ikan) di atas lahan kawasan pertanian yang sekaligus menjadi laboratoriumnya. Selain itu, dia juga bercita-cita mendirikan 'sekolah' pertanian organik di tempat tersebut.

Soal status petani teladan yang disandangnya, pria ini hanya berujar singkat. 'Memberikan manfaat
kepada orang lain (petani) itu lebih bermakna dibandingkan penghargaan apa pun,* kata Buharto.
Buharto benar. Mari menjadi khalifahNya yang memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada sekalian alam. (Tabloid Inspirasi Bondowoso)