Sang Entrepreneur Muda Bondowoso Yang Ingin Mendirikan Sekolah Batik

Sang Entrepreneur Muda Bondowoso Yang Ingin Mendirikan Sekolah Batik
BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Keinginannya sederhana, melestarikan batik khas Bondowoso. Namun, dari kesederhanaan tersebut, Sofia, warga Desa Sukosari Kecamatan Tamanan, melahirkan letupan-letupan baru dalam jiwanya. Wanita ini kini menjelma menjadi entrepreneur muda yang terbilang sukses menggeluti industri batik khas Bondowoso. Omzet usahanya mencapai puluhan juta rupiah per bulan dalam kurun waktu dua tahun sejak didirikannya, dua tahun lalu.

Produk usahanya juga sudah merambah ke negeri Jiran, Malaysia. Para penggemar batik di negeri tersebut sangat meminati hasil industri batik Sofia. Sepetak tegal (ladang) yang tidak produktif milik orang tuanya menjadi tonggak sejarah perubahan hidup Sofia. Bermodal hasil penjualan ladang milik orang tuanya tersebut, wanita berusia 19 tahun ini memulai industri batiknya di rumahnya yang sangat sederhana di Tamanan. Ya, dengan modal 3 juta rupiah hasil penjualan ladang tersebut, alumnus SMK Tamanan ini mengembangkan industri batiknya.

Tak terlintas di benaknya bahwa industri kecil yang ditekuninya tersebut akan menembus pasar internasional seperti Malaysia. Dengan tenaga kerja yang awalnya hanya sebanyak 8 orang kini 14 orang, red.), Sofia terus menekuni industri batiknya. Dengan semangatnya yang gigih, Sofia terus berinovasi menciptakan batik khas Bondowoso.

Ternyata hasil karyanya tersebut sangat diminati pasar. Terbukti, permintaan terhadap batik yang diproduksinya terus meningkat. "Bermula dari pemasaran yang hanya menggunakan sistim gethok tular, saya pun menggunakan teknologi internet untuk memasarkan batik hasil kerajinan ini. Hasilnya, ternyata menggembirakan," ujar Sofia. Berkat pemasaran melalui internet itulah, industri batik yang dikembangkannya semakin dikenal dunia.

"Banyak pemesan batik yang berasal dari Malaysia," tuturnya. Untuk sementara, katanya, peme-
sanan dari negeri Jiran tersebut 'terpaksa' dibatasi. Karena, dia masih sibuk melayani permintaan dari dalam negeri. "Terus terang saja, saya membatasi pemesanan dari Malaysia karena banyaknya pesanan dari dalam negeri," ujarnya sembari menjelaskan bahwa pembatasan pesanan tersebut disebabkan oleh keterbatasan tenaga kerja yang tersedia.

Sofia memang menuturkan bahwa jumlah sumber daya manusia di perusahaannya memang menjadi kendala pengembangan usahanya. Katanya, untuk merekrut sumber daya manusia baru bukanlah hal mudah. "Merekrut karyawan di perusahaan ini bukan hal mudah. Sebab, mereka harus memiliki keahlian khusus terutama di bidang perbatikan. Karena itu, saya menggunakan tenaga-tenaga yang memiliki keahlian di bidang perbatikan. Seperti, tenaga desain yang saya rekrut dari kalangan yang pernah mengenyam ilmu perbatikan."

Dijelaskannya bahwa dirinnya berani melakukan pemasaran melalui internet setelah industri batiknya mendapat pengakuan berupa sertifikat dari Balai Besar Kerajinan Batik Indonesia. "Setelah mendapatkan batik mark itu, saya berani melakukan pemasaran online. Sebelumnya, hasil kerajinan batik saya hanya dipasarkan di tingkat lokal maupun regional. Seperti, Surabaya, Jakarta, Mataram dan Papua," papar Sofia.

Sofia berujar bahwa batik mark itu diperolehnya setelah Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso menguruskannya pada lembaga pemberi sertifikat tersebut. "Saya sangat berterima kasih pada Diskoperindag Bondowoso. Karena, lembaga tersebut membantu menguruskan sertifikatnya. Sehingga, usaha yang saya tekuni ini bisa mendapatkan batik mark."

Wanita ini mengaku senang dan bangga setelah batik yang diproduksinya disukai dunia. Karena, keinginan untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan batik terpenuhi. Namun, wanita ini tidak lantas tinggi hati dan berhenti berkreasi. Sebaliknya, banyaknya pesanan batik yang diproduksinya memacu dirinya untuk terus berinovasi.

"Saya akan terus berinovasi, melahirkan karya-karya baru terkait industri batik. Saya akan terus berkarya agar batik, khususnya batik khas Bondowoso, semakin lestari," katanya sembari berujar bahwa dirinya bangga menekuni dunia usaha batik.

Kini, Alumnus sekolah jurusan batik di SMK Tamanan ini menikmati jerih payahnya di dunia usaha batik. Omzetnya terus membumbung. Dia juga semakin disibukkan dengan pemenuhan pesanan batik buatannya baik yang datang dari dalam negeri maupun yang berasal dari manca negara.

Puaskah Sofia dengan industri batik yang digelutinya? Wanita ini ternyata masih menyimpan
keinginan yang lain. Kepada pewarta tabloid ini, wanita muda ini berujar, "Saya ingin memiliki sekolah batik. Sekolah yang melahirkan entrepreneur-entrepreneur baru, khususnya di dunia batik," ujarnya. Semoga keinginan mendirikan sekolah batik ini bisa terwujud. Sehingga, dunia usaha batik tidak hanya berkembang namun juga semakin lestari.


- Tabloid Inspirasi Bondowoso -