Para Turis Berwisata Sambil Kampanye Lingkungan Di Bondowoso

Para Turis Berwisata Sambil Kampanye Lingkungan Di Bondowoso
EDUKASI LINGKUNGAN: Chiara Granacher keliling sejumlah sekolah di Tamanan
mengampanyekan diet plastik

InfoBondowoso.NET - Saat datang ke desa-desa wisata di Kecamatan Tamanan, para turis tak hanya melulu menikmati pemandangan alam dan budaya. Sebagian di antara mereka bahkan aktif dalam mengkampanyekan pelestarian lingkungan.

Di sebuah sore yang gerimis pertengahan pekan lalu, kedua bola mata Chiara Granacher, perempuan asal Walshut – Tiengen, Jerman itu tampak berkaca-kaca. Dengan langkah yang seakan berat, gadis berusia 18 tahun itu menuju ke sebuah mini bus travel yang akan membawanya ke Surabaya.

Sore itu adalah hari terakhir dia tinggal di Desa Kalianyar, Tamanan. Selanjutnya dia hendak bertolak ke Jerman. “Bye, bye. Thank you,” ujarnya kepada sejumlah warga Kalianyar yang mengantarnya ke jalan raya. Raut mukanya memerah seakan menahan haru. Beberapa saat kemudian, mini bus yang ditumpanginya melaju dan selanjutnya menghilang di tikungan bersama gerimis yang terus menderas.

Wajar jika Chiara begitu berat meninggalkan Kalianyar sore itu. Sudah hampir dua pekan dia tinggal di salah satu desa wisata di Tamanan tersebut. Chiara begitu menikmati kehidupan di desa dengan segala kultur dan kebiasaan masyarakatnya. Apalagi, selain menikmati alam desa dan bergaul dengan masyarakatnya, Chiara juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan swadaya yang banyak dilakukan di desa wisata. Salah satunya kampanye pelestarian lingkungan.

Bersama dengan para aktivis lingkungan Hijau Madani, Chiara dengan sukarela datang ke sekolah-sekolah untuk kampanye tentang program diet tas plastik. Program tersebut digagas oleh para aktivis Hijau Madani untuk mengurangi dampak polusi dari penggunaan kantong plastik.

Dengan pengetahuan soal konservasi yang dimilikinya, Chiara berbagai ilmu kepada siswa-siswa di sekolah bagaimana penanganan yang diperlukan terhadap sampah plastik. Dia melihat, selama ini pola pemanfaatan sampah plastik masih kurang. Bahkan di masyarakat masih banyak yang memusnahkannya dengan membakar. Padahal, hal itu menurutnya juga berdampak buruk terhadap tingkat polusi di udara.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mendaur ulang plastik. Misalnya untuk dijadikan barang-barang bernilai seni seperti yang dilakukan oleh aktivis Hijau Madani saat ini. Sampah-sampah plastik dikreasi menjadi tas cantik. Selain itu, melalui sentuhan tekhnologi, sebetulnya sampah plastik bias didaur ulang menjadi bahan bakar minyak.

Selama berada di beberapa kota di Indonesia, di melihat persoalan plastik di Bondowoso saat ini masih belum terlalu parah. Namun hal itu bukan jaminan jika persoalan polusi bisa terus teratasi. Mengingat, banyak warga yang belum sadar betul soal pentingnya pelestarian lingkungan. Chiara masih sering melihat warga yang membuang sampah sembarangan.

Hal itu menjadi masalah sepele yang bisa berdampak besar di kemudian hari ketika sampah sudah menjadi polusi yang tak teratasi. “To get back in touch with nature, the primary concern is to realize the impact of our habits and actions to the environment (untuk merasakan kembali kebaikan alam, hal utama yang perlu dipahami adalah menyadari dampak kebiasaan dan tingkah laku kita kepada lingkungan, Red),” ujarnya.

Tak hanya berbicara soal sampah, saat di sekolah-sekolah, Chiara juga berbagi ilmu kepada siswa tentang bahasa Inggris secara gratis. Segala aktivitas yang dilakukannya selama berada di desa wisata dianggap nya sebagai pengabdian terhadap alam dan kemanusiaan.

Kehadiran para turis yang datang ke desa Wisata Tamanan memang selalu diajak oleh para aktivis Hijau Madani untuk terlibat dalam kampanye pemanfaatan sampah plastik. Seperti pepatah bilang, ‘Segendang Sepenarian’, turis-turis itu ternyata juga senang ketika diajak untuk mengedukasi masyarakat soal pelestarian lingkungan.

Selain Chiara, turis lain yang juga antusias dalam kegiatan lingkungan adalah Barbara Pichard. Selama beberapa hari, perempuan asal Prancis begitu semangat mengajari masyarakat tentang pengelolaan sampah plastik. Banyak ilmu yang dia bagikan. Apalagi, selama empat bulan, dia pernah menjadi Volunteer di sekitar Danau Toba tentang pengelolaan sampah.

Barbara ternyata cukup senang berada di Tamanan. Dia merasa masyarakat sangat antusias berbagi ilmu tentang pengelolaan sampah dengannya. Hal itu mengingat puluhan orang ikut terlibat saat Barbara berbagi ilmu. “Orang-orang di sini sangat antusias saat diajak untuk peduli pada lingkungan,” ujarnya senang.

Antusiasme turis-turis asing itu juga menjadi salah satu pemompa semangat para aktivis Hijau Madani untuk terus berbuat bagi kelestarian lingkungan. “Kehadiaran mereka sangat membantu dalam kampanye-kampanye lingkungan yang kita lakukan. Terlebih mereka juga banyak membawa informasi-informasi penting terkait pelestarian lingkungan yang terjadi di luar sana,” ujar Slamet Riyadi, ketua Hijau Madani.


Jawa Pos (26/02/14)