Baidhowi, Inisiator Desa Wisata Organik Lombok Kulon
| Baidhowi (baju merah) mengkhususkan desa Lombok Kulon sebagai desa wisata organik |
Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, kini menjadi salah satu desa wisata andalan Bondowoso. Jualan utamanya adalah wisata organik. Keberadaan desa wisata ini tak lepas dari sentuhan tangan Baidhowi, salah satu pegiat pertanian organik setempat.
Mulanya Baidhowi, pria kelahiran 27 Maret 1969 ini tak pernah menyangka jika kelak desanya akan menjadi desa wisata yang mengkhususkan pada pertanian organik. Mengingat, sentuhan organik yang dilakukan pada pertanian dan perikanan semata-mata untuk meningkatkan produksi pertanian masyarakat.
Pada 2007, Baidhowi yang memang tumbuh besar di kawasan tersebut mencoba peruntungan dengan membudidayakan ikan. Air di desa ini relatif melimpah. Baidhowi melihat itu menjadi potensi ekonomi yang prospektif untuk dikembangkan. Akhirnya dia memulai budidaya ikan yang selanjutnya banyak diikuti oleh warga lainnya.
Selanjutnya pada 2011, Baidhowi merasa harus ada sentuhan organik dalam budidaya ikan. Itu diharapkan agar pengembangan ikan lebih cepat namun dengan biaya produksi yang lebih minim. Pada waktu yang bersamaan, geliat pertanian organik, khususnya untuk komoditas padi di desa tersebut juga sedang tinggi.
“Untuk sektor pertanian organik, teman saya Mulyono yang menggarap. Sementara saya fokus di perikanannya”, ungkapnya. Sama seperti di pertanian organik, dalam bidang perikanan yang digarap Mulyono juga sudah meninggalkan bahan-bahan kimia. Mulai dari pemurnian air, probiotik hingga pakan ikan semuanya tanpa bahan kimia
Pada 2013 ini, setelah produk produk organik dan Lombok Kulon mulai banyak dikenal secara luas, akhirnya desa ini ditetapkan menjadi salah satu desa wisata dengan produk unggulan organik. Para wisatawan pun mulai banyak berkunjung ke desa ini. Bahkan banyak mahasiswa yang mulai melakukan studi banding ke desa ini.
Salah satu andalan di desa ini adalah keberadaan Warung Laranta yang dikelola oleh Baidhowi dan warga sekitar. Di warung tersebut, semua makanan dihidangkan dengan cara sehat. Apalagi semua bahan utama makanannya serba organik. “Semuanya organik. Mulai dan berasnya, ikannya sampai sayur-mayurnya adalah produk organik dari desa Lombok Kuton”, ujar Baidowi.
Sementara ¡tu, salah satu tempat yang paling banyak diminati adalah rumah organik. Disini, pengunjung bisa mengetahui secara detail proses budidaya sayur organik. Sekaligus bisa berbelanja langsung hasil produksi organik. Di desa Lombok Kulon sendiri, sudah terdapat empat kampung yang warganya sudah mengembangkan budidaya sayur-mayur organik.
Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, sayur-mayur yang dibudidayakan warga tersebut juga dijual kepada para pengunjung. Rata-rata, para pengunjung yang datang tidak ragu-ragu untuk membeli sayur-mayur yang dibudidayakan warga.
Tidak hanya bisa melihat, para pengunjung akan selalu dipersilakan untuk berpraktik dalam membudidayakan sayur-mayur organik. Harapannya, pengunjung bisa mempraktikkan sendiri ketika pulang ke rumahnya.
Andalan lainnya adalah budidaya aneka ikan yang juga menggunakan sistem organik. Ada berbagai jenis ikan yang dikembangkan warga. Mulai dan koi, gurami, lele, hingga nila jenis larasati. Lokasinya tepat di rumah Baidhowi di Dusun Krajan Lombok Kulon, RiT 14/03 Wonosari.
Yang tak kalah menarik di desa wisata Lombok Kulon ini adalah pertanian padi organik. Kini, petani Lombok Kulon adalah satu-satunya petani organik murni di Bondowoso. Beberapa waktu lalu, hasil produksi beras mereka sudah mendapatkan sertifikasi organik dan Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (Lessos).
Selain objek dan daya tarik wisata yang kini sudah dimiliki Lombok Kulon, berbagai upaya penguatan terus dilakukan. “Saat ini kita sudah membentuk generasi sadar Iingkungan (darling)”, ujar Baidowi. Anggota dari generasi tersebut adalah anak-anak dari usia SD hingga SMP.
Anak-anak itu dilatih untuk sadar terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungannya sendiri. “Kalau anaknya sadar lingkungan, dengan aktif bersih-bersih misalnya, kita harapkan orang tuanya juga ikut lebih sadar lingkungan”, tambah Baidhowi.
Masyarakat di desa Lombok Kulon sendiri kini sudah relative siap dengan pengembangan desa wisata yang dilakukan. Hal itu setidaknya terlihat dan kesadaran mereka terhadap wisata itu sendiri. “Saat ada pengunjung yang bertanya tentang organik, kini masyarakat sudah bisa menjelaskan sendiri. Jadi masyarakat kami juga sudah sadar wisata,” ungkapnya.
Kendati begitu, ada kendala-kendala yang sampai saat ini masih terjadi. Salah satunya adalah belum tersedianya home stay atau tempat tinggal bagi pengunjung yang datang. Sejauh ini, yang paling banyak berkunjung memang wisatawan lokal. “Tetapi ketika kita membidik wisatawan asing, tentu keberadaan home stay akan sangat penting”, pungkasnya.
Namun begitu, pihaknya juga terus berbenah mempersiapkan diri agar turis asing tidak kesulitan untuk berkunjung dan menikmati wisata organik. Salah satunya adalah dengan mengadakan kursus bahasa Inggris gratis bagi para remaja setempat. Diharapkan mereka bisa menjadi guide dan menjelaskan tentang wisata organik kepada wisatawan asing yang datang.
Radar Jember, Jawa Pos (20/12/2013)