Antara Eksotisme Bondowoso dan Gunung Ijen
Akhirnya saya memutuskan untuk research bagaimana potensi-potensi wisata di daerah Tapal Kuda di Jawa Timur tersebut sebelum membawa kamera kesayangan dan tas ransel menuju kesana, agar saya dapat banyak mengetahui tata letak secara geografis, transportasi, potensi wisata, suasana dan jam yang tepat untuk motret di spot-spot tersebut.
Tapal Kuda merupakan nama sebuah daerah di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda karena memang kawasan tersebut dalam peta mirip dengan Tapal Kuda, yang meliputi daerah Bondowoso, Jember, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan dan Banyuwangi.
Alhasil, saya pun tertarik untuk menjelajahi lebih jauh dua daerah yang letaknya ternyata sangat berdekatan yakni Jember dan Bondowoso. Dimana jarak antara kedua daerah ini bisa ditempuh dengan kendaraan hanya 40 menit saja dan cukup banyak orang yang tidak mengetahui keindahannya. Mungkin bagi para fotografer atupun traveller yang hanya punya waktu 4 – 5 hari saja destinasi di daerah ini cukup untuk di jelajahi.
Mungkin dari sisi transportasi terlihat sangat mudah apabila ingin mengunjungi kedua daerah ini. apabila start dari Surabaya menuju Jember bisa menggunakan kereta yang berhenti di Stasiun Jember ataupun pesawat yang landing di Bandara Notohadinegoro, Jember.
Setibanya di kota yang terkenal dengan fashion carnaval yang kabarnya sebagai carnaval terbesar no.4 di dunia ini memang tampak terlihat pada bandara Notohadinegoro, Jember. Ucapan selamat datang di kota ini tergambar dari sebuah billboard besar dengan gambar Jember Fashion Carnaval, pantai dan wisata lainnya.
Walaupun sudah tiba di Jember, tetapi saya lebih memilih untuk menjelajahi Bondowoso terlebih dahulu dengan suasana pegunungan lalu ditutup dengan berkunjung di Jember dengan atmosfer pantai yang menjadi daftar 10 pantai terindah di Indonesia versi para Backpacker dan TripAdvisor.
Dari jauh mata saya terasa ditarik oleh topeng yang tadinya berbahan dasar kayu ternyata kertas koran yang dicampur dengan bahan tertentu menjadi keras lalu diukir menjadi topeng. “Biasanya topeng itu dari bahan dasar kayu lalu diukir menjadi topeng, tetapi kita coba hal yang berbeda dengan bahan dasar koran”, kata Frans.
Nasi Mamong, dari namanya memang tampak asing di telinga kita. Mamong berasal dari kata Madura yang berarti bingung. Jadi filosofi dari nasi Mamong ini ternyata kerena nasi yang diolah dengan rasa pedas dicampur dengan potongan singkong, dan bahan-bahan lainnya disajikan dengan timun, sambel bawang dan kerupuk gembreng.
( Baca juga: Nasi bakar Mamong Olahan Dapur Lulu Juara Jatim )
Pesona Kawah Ijen
Memang tak diragukan lagi bahwa keindahan Kawah Ijen telah mendapatkan tempat di hati para traveller. Khas pegunungan nan indah berpadun dengan danau di kawah yang berwarna kehijauan, api biru dan aktifitas para penambang belerang yang sudah turun-temurun.
Tetapi, di telinga traveller memang sudah akrab apabila ingin berkunjung ke Kawah Ijen melalui Banyuwangi. Karena memang Pemerintah Daerah Banyuwangi lebih gencar mempromosikan Kawah Ijen. Nah, kendati seperti itu saya pun tak mau sejalan dengan para traveller yang kerap mengawali langkahnya menuju Kawah Ijen melalui Banyuwangi.
Karena letak geografis Kawah Ijen masuk ke dalam Bondowoso dan Banyuwangi, saya pun mengawali langkah lewat Bondowoso. Karena menurut kabar yang saya dapatkan apabila ke Kawah Ijen berangkat dari Bondowoso saya lebih banyak mendapatkan objek foto yang indah.
Memang tak diragukan lagi bahwa keindahan Kawah Ijen telah mendapatkan tempat di hati para traveller. Khas pegunungan nan indah berpadun dengan danau di kawah yang berwarna kehijauan, api biru dan aktifitas para penambang belerang yang sudah turun-temurun.
Tetapi, di telinga traveller memang sudah akrab apabila ingin berkunjung ke Kawah Ijen melalui Banyuwangi. Karena memang Pemerintah Daerah Banyuwangi lebih gencar mempromosikan Kawah Ijen. Nah, kendati seperti itu saya pun tak mau sejalan dengan para traveller yang kerap mengawali langkahnya menuju Kawah Ijen melalui Banyuwangi.
Karena letak geografis Kawah Ijen masuk ke dalam Bondowoso dan Banyuwangi, saya pun mengawali langkah lewat Bondowoso. Karena menurut kabar yang saya dapatkan apabila ke Kawah Ijen berangkat dari Bondowoso saya lebih banyak mendapatkan objek foto yang indah.
Perjalanan letih terbayar sudah melihat Sang sumber cahaya dalam letak tata surya memulai menyinari bumi Jawa di puncak pegunungan Ijen. Wisatawan mancanegara dan domestik yang menyebar sepanjang puncak pegunugan Ijen bersiap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan momen matahari terbit menjadi objek yang menarik untuk foto.
Usai memanjakan mata di Kawah Wurung, kami pun bergegas turun untuk menikmati tempat wisata lain yakni air terjun Blawan, Arung Jeram Bosamba dan mampir ke Batik Tulis Sumbersari.
Sumber: travelistasia


