Ribuan Bibit Petung Hitam Asal Sulek Diangkut ke Lumajang
TLOGOSARI - Bambu jenis petung hitam yang rencananya akan digarap serius oleh Pemkab Bondowoso ternyata mulai dilirik oleh daerah lain. Bahkan, ribuan bibit petung hitam yang dikembangkan di desa Sulek, Tlogosari, kini sudah dipesan oleh pegiat lingkungan di Lumajang untuk ditanam di kawasan gunung Lemongan.
Sunandar, pelopor pengembangan bibit petung hitam di Sulek mengungkapkan, dirinya memang mendapatkan pesanan ribuan bibit oleh salah satu pegiat lingkungan di Lumajang. "Per tahun kita diminta untuk menyediakan minimal sepuluh ribu bibit petung hitam. Kalau pun lebih, mereka siap menampung,” ungkap pria yang juga inisiator kelompok perajin Bambu Raya Inv. ini, kemarin (22/12).
baca juga: Kejelian Sunandar Memanfaatkan Bambu di Kampungnya Sulek Tlogosari
Kendati begitu, untuk tahun ini dirinya masih belum sanggup untuk memenuhi permintaan tersebut. "Tahun ini kita masih sanggup lima ribu bibit." ungkapnya. Pengiriman ke Lumajang tersebut menurutnya dilakukan secara bertahap. Beberapa hari lalu, misalnya, sudah diambil sekitar 200 bibit petung hitam.
Dia menjelaskan, salah satu pegiat lingkungan asal Lumajang itu memang memesan bibit bambu khusus petung hitam. Karena berdasarkan penelitian yang dilakukan, bambu jenis petung hitam ini memiliki keunggulan lebih. Yaitu mampu menyimpan air lebih banyak dibanding dengan jenis lain. Sehingga bambu ini sangat pas sebagai tanaman konservasi.
baca juga: Konservasi Bambu di Puncak Megasari
Penyediaan bibit bambu sendiri dilakukan secara perorangan oleh warga desa Sulek. Pihaknya hanya memfasilitas dan memberikan bantuan awal kepada mereka, yaitu kantong plastik atau polibag. "Untuk harganya sementara ini warga sepakat untuk menjual Rp 2500 per bibit," jelasnya.
Secara pribadi, kata dia, sebenarnya dirinya ingin agar bibit bambu, khususnya petung hitam tidak sampai dijual ke luar daerah. Karena saat ini, jenis petung hitam sudah mulai berkurang di Bondowoso. Kendati begitu, dirinya tidak bisa menolak ketika ada yang mau membeli, meski pun itu dari luar daerah. Karena menurutnya, petani sudah terlanjur membibit dan butuh penghasilan.
Selain bibit, Lumajang juga sangat antusias dengan produk kerajinan berbahan bambu petung hitam asal desa Sulek ini. Beberapa waktu lalu, Kota pisang itu memesan sedikitnya 30 buah stand untuk pameran berbahan dasar bambu jenis petung hitam dari Sulek. Menurut Sunandar, dalam pameran itu, stand-stand yang tersedia memang berkonsep alam. "Semua dari bambu. Itu konsep yang diminta dari Pemkab Lumajang," katanya.
Bagi dia pesanan besar itu tak hanya dinilai dari nominalnya, melainkan sebuah tantangan. "Konsep memakai tenda bambu dan tuli bambu itu gila. Saya juga harus gila agar semua orang tahu bambu bisa dimanfaatkan apa saja," jelasnya. Dalam pesanan tersebut, kata dia, membutuhkan 5000 batang bambu dan 1,5 ton ijuk sebagai atapnya.
Sementara itu, pemerintah Bondowoso sendiri sudah menyatakan keseriusannya untuk mengembangkan bambu jenis petung hitam. Diharapkan komoditas ini menjadi andalan baru Bondowoso melalui klaster bambu yang akan segera dibentak.
Hal itu ditegaskan oleh Erfan Gani Kepala Dishutbun Bondowoso beberapa waktu lalu. Menurutnya, pemerintah saat ini terus mendorong untuk memperbanyak keberadaan bambu petung hitam di Bondowoso. "Nanti indikasi geografisnya adalah petung hitam ini," ujarnya. Salah satu komoditas khas Bondowoso yang kini sudah memiliki indikasi geografis adalah kopi arabika dengan nama Java Ijen Raung.
Menurutnya, bambu petung hitam memiliki keunggulan tersendiri. Terutama pada keindahan warnanya. Namun sayangnya, keberadaan petung hitam di tingkat petani kini sudah semakin berkurang. "Informasi yang saya terima, kini hanya tinggal 200 rumpun," ujar mantan kepala Bappeda ini.
Menurutnya, pemerintah terus mengupaya segera terbentuknya pengembangan klaster bambu. Pelaku usaha dan pengrajin bambu sebagai pelaku ekonomi kerakyatan dinilai mampu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. "Karena itu, pemerintah akan meningkatkan program ekonomi kerakyatan untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi melalui klaster bambu," tambahnya.
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kata dia, salah satunya pengembangan industri kreatif dan produk ramah lingkungan seperti kerajinan bambu harus ditingkatkan. Sebab, klaster bambu sebagai salah satu komoditas yang masuk dalam ramah lingkungan. Apalagi, peluang pasar ekspor kerajinan bambu terbuka lebar.
"Karena itu, bambu merupakan produk ramah lingkungan, sehingga kita dapat memanfaatkan peluang ini karena potensi bambu dalam negeri sangat besar," pungkasnya.
- Radar Ijen, 23/12/15
