Agus Nurcahyo, 'Dokter' Spesialis Bedah Kamera
![]() |
| KONSISTEN: Agus Nurcahyo sebagai 'dokter' ahli bedah kamera setelah bertahun-tahun menggeluti bisnis reparasi alat-alat fotografi. |
Siapa sangka, di Bondowoso ada seorang spesialis untuk menangani kamera rusak. Dia adalah Agus Nurcahyo. Sejak 20 tahun silam, dia menjadi jujugan para fotografer yang sedang mengalami masalah dengan kamera kesayangannya.
Nama Agus Nurcahyo sendiri bagi kalangan fotografer baik di Bondowoso, Jember hingga Situbondo masih awam terdengar. Orang justru lebih familiar dengan nama Agunk. Dua nama tersebut sebenarnya adalah satu orang. Agunk adalah nama akrab yang sang maestro memperbaiki kamera rusak.
Saat mencari kediamannya di Pancoran, relatif cukup mudah. Tinggal menanyakan nama pak Agunk servis kamera, masyarakat di sekitar sudah banyak yang tahu. "Ada gang kecil setelah sekolah SDN Pancoran 1, masuk itu rumahnya," papar salah satu warga Pancoran. Rumah yang cukup sederhana itu memiliki satu ruangan yang diletakan khusus di teras.
Ruangan dengan lebar 5x3 meter tersebut adalah tempat bekerja bagi Agunk untuk memberbaiki kamera. Tumpukan macam-macam alat fotografi ada disana. Tak lupa juga partikel-partikel kecil elektronik seolah menjadi hiasan di ruangan itu. "Berantakan di sini. Kalau belum selesai saya taruh sini. Kalau sudah saya taruh di dalam kamar," kata Agunk.
Saat ditemui di rumahnya siang itu, pria yang saat itu tengah mengenakan kaos oblong warna kuning. Dia sedang sibuk-sibuknya memperbaiki beragam jenis alat fotografi. Mulai lensa, body kamera, flash, hingga lampu studio. Sesaat dia menunjukkan kamera jadul miliknya yang saat ini sudah jarang dipakai oleh para fotografer.
"Ini kamera manual, masih pakai film. Kalau lensanya bisa dipakai di body digital tapi harus pakai conventer. Banyak yang cari lensa manual sekarang, tapi punya saya tinggal satu dan tak dijual. Buat kenang-kenangan," ungkapnya.
Mengoperasikan dan memperbaiki kemera bagi Agunk bukan hal yang asing. Sejak 1995 dia ikut kerja di fotografer bernama Jun. Dari sana dia mulai masuk ke dunia fotografer. Selang setahun berikutnya, pria kelahiran 1978 ini memiliki kesempatan memperbaiki kamera.
Berkat mempunyai dasar ilmu elektronik, bosnya bernama Jun mengarahkan ke Thomas daerah Pecinan. "Thomas ini istilahnya penerima barang fotografi untuk di servis," imbuhnya. Awalnya Agunk ragu atas kemampuannya memperbaiki kamera, karena sebelumnya tak pernah membongkar alat mahal itu. "Saya takut, karena kamera dulu full manual. Sistem elektronik hanya untuk lightmeter," kenangnya.
Ternyata setelah dijalani tak sulit yang dibayangkan. Kamera dengan merk Yasica tersebut berhasil diperbaiki. "Lebih mudah perbaiki kamera manual, rusaknya sparepart bisa dibuatkan sendiri," ucap Agunk.
Bahkan kemahiran Agunk memperbaiki kamera sebulan paling tidak bisa menghasilkan Rp 500 ribu pada waktu itu. Bisa jadi uang senilai itu sekarang mencapai Rp 5 juta. Sekali servis kamera uang yang didapat dari kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 50 ribu. "Sebelum saya ada yang lebih lama servis kamera, namanya Pak Is di Jl Mawar," ungkapnya.
Tahun 2002, Agunk memutuskan berhenti menjadi fotografer dan memilih membuka servis kamera di rumahnya sendiri. "Berhenti jadi fotogrfer karena jaman digital kamera mahal. Harga seken kamera manual paling terbaru dan professional Minolta Rp 850 ribu. Kalau sekarang, kamera seken kelas profesional masih kisaran Rp 20 juta," tambahnya. Harga kamera Minolta Rp 850, jika dinominalkan sekarang Rp 9 -10 juta.
Adanya perubahan teknologi kamera dari manual ke digital denga full elektrik adalah fase-fase sulit para dokter kamera termasuk fotografer. Belajar kembali mengenali karekter kamera digital terutama system penyimpanan, sistem kerja digital dan sensor kamera adalah perhatian khususnya. "Dulu pakai film, sekarang sensor," imbuhnya.
Belajar memperbaiki kamera tersebut, sudah barang tentu merelakan kamera pocket kesayangannya dan kamera hape yang sebagai alat ujicoba. Ada yang memperbaiki kamera DSLR pertama di era digital tersebut Agunk tak mengabil untung sepeser pun. Hanya uang rokok. "Kadang ya rugi beli sparepart. Alhamdulillah berhasil dan system kerja hampir mirip dengan kamera semi elektrik keluaran terkahir," ucap Agunk.
Pria dengan dua anak ini, belajar tentang komputer juga merupakan hal yang asing juga pada mulanya. Namun berkat mengerti lebih lanjut tentang teknologi informasi, Agunk sering mendapatkan ilmu memperbaiki kamera digital. Sayangnya, orang sekarang jarang yang bisa memperbaiki kamera. Padahal saat ini jaman sudah mudah dan informasi lewat internet semua ada. "Bedanya anak sekarang sama dulu itu tak mudah putus asa dan rasa ingin tahunya tinggi. Kalau sekarang ingin praktisnya saja, padahal dari ruwet itu adalah ilmu," pungkasnya.
- Radar Ijen, 14/07/15 -
