Rudi Cahyono, Mantan Pebulutangkis Jatim yang Mengabdi untuk Bondowoso

Rudi Cahyono, Mantan Pebulutangkis Jatim yang Mengabdi untuk Bondowoso
PANGGILAN JIWA: Rudi Cahyono membentuk klub Bulutangkis dan Liga Bulutangkis agar pebulutangkis junior bisa bertanding dan muncul pemain handal dari Bondowoso
.
MENJADI pebulutangkis handal dan mampu membawa nama besar daerah atau negara adalah impian Rudi Cahyono. Sakit liver parah di usia 19 tahun membuatnya harus istirahat panjang. Kini motivasinya adalah mengorbitkan pebulutangkit Bondowoso.

IMPIAN menjadi pebulutangkis handal banyak dicita-citakan oleh remaja dan anak-anak Indonesia
termasuk juga Rudi Cahyono. Rudi yang dibesarkan di Pujer itu selalu berlatih bersama anggota keluarganya di gedung dekat rumahnya. Dari keluarga memang banyak pemain bulutangkis, tapi hanya tingkat daerah saja," tutur pria kelahiran 1977 ini. Rudi juga sempat menjuarai turnamen se Bondowoso saat duduk di bangku SD.

"Lulus SD tahun 1989 saya melanjutkan SMP dan SMA di Jember, karena ingin masuk klub bulutangkis. Waktu itu di Bondowoso tidak ada, tujuan utama sekolah di Jember, ya mengembangkan bulutangkis," katanya. Dia pun bergabung dengan PB Andi Putra yang pemilik gedung adalah Mulyadi, suksessor Piala Thomas tahun 1960-an. Kemudian Rudi terpilih masuk Pusdiklat Jember dan Pusdiklat Puspa Jawa Pos.

Saat mewakili Jatim di ajang Kejurnas Bali 1994, Rudi masuk delapan besar, selang sepuluh hari
berikutnya dia pun mengalami sakit liver parah sampai harus menjalani perawatan di Jember dan
Surabaya. "Lima bulan saya sakit liver," imbuhnya. Rudi yang sering sakit-sakitan tersebut dan butuh waktu penyembuhan sampai tiga tahun lamanya.

Tanpa Pengorbanan Hasilnya Pasti Nol, Orbitkan Pemain Muda dan Rutin Gelar Liga Bulutangkis

Pada 1997-1998 Rudi tak tinggal diam untuk penyembuahan saja, dia kembali ke Pujer untuk melatih pebulutangkis usia dini di sekitar rumahnya. Melihat kondisi fisiknya tak boleh diforsir, dia pun memutuskan lebih baik mengabdi untuk mengembangkan bulu tangkis Bondowoso. "Sampai sekarang saya main tapi hanya skala biasa, hanya untuk senang-senang" katanya.

Pada 2007 akhir dia membentuk PB Tangkas untuk mencetak pebulutangkis. Membentuk klub bulutangkis alasan Rudi agar pebulutangkis Bondowoso tidak jauh-jauh mencari tim seperti dia alami masa kecilnya dulu. Untuk mencari bibit pemain, Rudi menerapkan beli raket gratis latihan satu bulan di PB Tangkas. Dari tiga anak didik sampai sepuluh dan sekarang berjumlah lebih 30 orang. Berpindah-pindah lokasi latihan juga sering dialami PB Tangkas. Menjadi pelatih baginya adalah sebuah panggilan. "Tanpa pengorbanan dan pengabdian pasti hasilnya nol, jika orentasi duit pasti gagal," tegasnya. Tak jarang Rudi sering mengeluarkan uang pribadi untuk membina anak didiknya tersebut. "Awalnya ya sering istri marah, karena uang belanja dipakai bulutangkis," ucapnya

Mulai 2013 sampai 2014 dia mengelar liga bulutangkis tapi untuk senior. Melihat turnamen bulutangkis hampir rata-rata setahun sekali, tahun ini dia memutuskan mengelar liga bulutangkis junior. "Saat ini pebulutangkis muda dibutuhkan sebagai pelapis pebulutangkis senior Indonesia," katanya.

Dengan adanya liga tersebut, minimal meminimalisir rasa putus asa setelah bertandingan dalam turnamen tahunan yang pernah dia alami masa kecil. Dia pun mohon doanya yang mengirim pebulutangkis Bondowoso ke seleksi PB Djarum.

Sumber:

Radar Ijen 07/05/15