Mirisnya Kondisi Makam Kiai Santawi

InfoBodowoso.net - Mencari pemakaman para pahlawan yang pernah berjuang di medan perang biasanya di taman makam pahlawan. Tapi tidak untuk Santawi. Pahlawan asli Bondowoso yang saat ini namanya diabadikan sebagai nama jalan tersebut justru berada di pemakaman umum. Tepat di kuburan kembar Jl lintas Situbondo - Bondowoso, Prajekan Lor.
Pemakaman sang pahlawan itu nyaris tidak terlihat istimewa. Ironisnya, dalam satu nisan terdapat dua nama orang yang terkubur disana. "Ini makam Santawi, memang tumpuk dengan makam yang lain. Tapi makam jadi satu dan sebelahnya adalah anggota keluarganya. Kalau tidak salah ini neneknya," imbuh Kepala Desa Prajekan Lor Fandi Sofhan.
Marsudin, warga Desa Walidono - Prajekan yang getol mengali sejarah Santawi merasa jika kondisi pemakaman sang pahlawan seperti ini membuatnya miris. Santawi menurutnya sangat berjasa dalam membendung Belanda yang hendak masuk ke Bondowoso pada agresi militer Belanda I dan II ini.
Apalagi cerita kematiannya juga tragis. Dia juga menyadari jika perjuangan mencuri jasad Santawi sebelum dikuburkan di Prajekan Lor penuh cerita heroik.
Sebetulnya hukuman Santawi tidak sampai ke hukuman mati oleh Belanda. Awalnya hanya hukuman seumur hidup. Namun hukuman itu berubah akibat argumen Santawai yang menantang Belanda saat di pengadilan. Saat itu, Santawi pernah berucap kepada Belanda, 'kamu tidak berhak mengadili saya. Saya punya negara berdaulat'. Dari sana, Belanda langsung memutuskan hukuman mati.
Sebelum dieksekusi mati, Belanda pun memberikan empat permintaan terakhir kepada Santawi. Santawi pun meminta empat hal. Di antaranya minta disiapkan juru tembak 40 orang, jangan diborgol saat akan dieksekusi, mata jangan ditutup dan laksanakan eksekusi setelah sholat subuh.
Ternyata hanya satu saja permintaan yang dipenuhi, yakni eksekusi setelah sholat subuh. Bahkan saat keluarganya meminta jenazah Santawi, tentara Belanda pun tidak mengabulkan. Selang satu setangah tahun kemudian, kata dia, terdapat inisiatif untuk mencuri kerangka jasad Santawi di salah satu pemakaman di Bondowoso. "Basuki Abdullah dengan Bindara Asik lah tokoh pencurian itu," jelas Marsudin. Tulang belulang Santawi ini kemudian dimasukan ke dalam koper. Selanjutnya dikebumikan, sesuai keingian Santawi yaitu dikuburkan di dekat makam neneknya.
Dari perjuangan ini, sebaiknya pemerintah tidak boleh tutup mata. Banyak cerita Santawi yang menjadi teladan bagi generasi muda untuk meneruskan kemerdakaan Indonesia. "Jika saya melihat pemasangan bendera merah putih di rumah-rumah miris. Bendera merah putih bisa berkibar dari belulang para pahlawan yang tersusun menjadi tiang," paparnya.
Sementara Fandi sekaligus ketua pemerhati sejarah Prajekan ini berharap agar makam Santawi ini sudah harus ada pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah. Hal itu berlandaskan jasa besarnya tersebut, jika tidak ada inisiatif dari pemerintah Bondowoso, dia pun siap membangun pemugaran makan Santawi lewat dana desa atau swadaya desa.
Masyarakat Prajekan pun sudah siap jika gotong royong melakukan pembangunan. "Kalau perlu saya buat patung Santawi di sini. Agar pemerintah tahu, masih ada masyarakat yang peduli dengan pahlawan Bondowoso," pungkasnya.
- Radar Ijen, 30/03/15 -