Kepiawaian Pasutri M Soedjarwo - Syoefi Wibawati Meracik Jamu Herbal

Pasutri Syoefi Wibawati dan M Soedjarwo

Impian Syoefi Wibawati dan M Soedjarwo membudidayakan toga akhirnya kesampaian juga. Dari kegemaran minum jamu dan ditunjang artikel dari majalah atau koran mereka bisa mengembangkan minuman herbal.

Beragam tanaman obat itu tertata rapi di sekitar rumah di jl Ki Ronggo, Sekar putih Tegalampel. Pada tanaman yang sangat terawat itu juga dilengkapai nama latin plus khasiatnya untuk keseharian. Setiap otang yang bertamu langsung di suguhui jamu. "Awalnya memulai bisnis minuman toga ini dari sering beri minuman jamu-jamuan ini ke teman-teman yang kesini," ujar Syoefi.

Soal meracik minuman herba ini, perempuan yang biasa disapa Budhe Sofi ini memang ahlinya. Bahkan minumannya disukai disukai anak-anak hingga dewasa. Namun pada dasarnya Budhe Sofi sendiri suka minum jamu. Apalagi ditunjang kegemaran bercocok tanam dari bekal kuliah di Institut Pertanian Jogyakarta menjadi semakin lengkap saja. "Untungnya suami saya sangat senang sekali tanam-tanaman toga dari dulu" jelasnya.

Dalam hati kecil wanita 49 tahun ini, juga ingin berbagi sehat kepada orang lain melalui minuman tradisional warisan khas Indonesia. Lantas mencari artikel demi artikel, akhirnya dia mampu meramu jamu yang manis. "Selama ini jamu dikenal orang minuman pahit, saya ingin menciptakan jamu yang lezat seperti sirup dan anak kecilpun sampai menyukai," ucapnya.

Dengan mencampur adukan, antara gula aren dan gula pasir itulah Budhe Sofi memberanikan diri menyuguhkan minuman utama jamu untuk para tamunya. "Awalnya tidak berfikir ke bisnis produksi jamu, tapi teman-teman banyak yang memesan dan saya dikasih uang," ungkapnya.

Peluang mendapatkan penghasilan lebih bagi keluarganya untuk menjual jamu yang enak di lidah akhirnya dilakukan Sofi. Di samping itu tujuan dia terjun membuat minuman dari tanaman toga ini, adalah ingin mengalihkan kegemaran minuman terbuat bahan kimia dan sintetis yang semakin menghawatirkan di anak muda. "Saya ingin anak generasi sekarang, gemar minum jamu yang kaya manfaat. Dari pada minum minuman yang hanya enak di lidah saja, tapi tidak bermanfaat," katanya.

Sampai saat ini sudah ada 6 produk minuman tanaman toga yang rutin dia buat. Antara lain; kunir asem, beras kencur, sirih kencur, wedang secang, dan mengkudu. Diantara minuman itu, Sofi juga siap menerima pesanan jamu yang dianggap dibutuhkan kesehatan. Salah satu contohnya adalah jamu dari tanaman mahkota dewa untuk diabetes, asam urat hingga kanker.

Penjualan minuman yang dikemasi dalam botol 600 ml semakin meningkat tajam. Ketika dia jajakan ke car free day setiap minggu pagi di Alun-Alun Bondowoso.

"Paling tidak setiap car free day, 150 botol laris terjual," ucapnya. Untuk total setiap bulan saja, rata-rata dia mampu habis sampai 800 botol. Kedepan dia ingin menciptakan minuman herbal ini dikemas secara praktis, baik berupa serbuk maupun sirup.

Sementara suaminya Soedjarwo, berkomitmen konsen tanaman toga ini sudah ada sejak awal pernikahan dulu. Tapi, berhubung anak-anaknya masih kecil keinginan itu ditunda. "Awalnya memang ingin edukasi masyarakat tentang tanaman toga, bukan jualan jamu," tandasnya.

Bahkan sepuluh tahun lalu, Soedjarwo sudah mengumpulkan beragam artikel dari majalah dan Koran tentang tanaman toga untuk dikliping. Saat pembicaraan mengarah kesana, tiba-tiba pria 54 tahun ini mengambil buku besar berwarna coklat. "Ini lho kliping saya, di belipun hasil kliping ini tidak akan saya jual," imbuhnya. Ternyata, kata dia, kliping tersebut sangat bermanfaat bagi istrinya yang menciptakan ramuan jamu yang lezat di lidah.

Dari produksi jamu yang terus diminati ini, Soedjarwo terus bertekad mengapai cita-citanya yang tertunda. "Ini saya sudah siapkan, beberapa meja dari drum bekas dan setiap taman toga diberi nama dan khasiatnya," terangnya. Selanjutnya, dia ingin rumahnya itu menjadi café herbal toga sekaligus edukasi anak-anak sekolah yang ingin mengenal tanaman obat beserta cara pembuatannya.


- Radar Ijen, 23/03/15 -