Kegigihan Bontec Kademangan Membina Petenis Junior
![]() |
| SEMANGAT: Atlet-atlet binaan Bontec Bondowoso yang meraih juara dalam kejuaraan tenis nasional Banyuwangi Open Yunior, pekan kemarin. |
InfoBondowoso.net - Berbagai keterbatasan tak mejadi penghalang bagi Bondowoso Tenis Club (Bontec) untuk meraih prestasi. Di tengah impitan pendanaan, klub yang bermarkas di kelurahan Kademangan, Bondowoso ini konsisten membina atlet muda hingga menjadi juara.
Bermodal Swadaya, Konsisten Lahirkan Juara
Salah satu prestasi membanggakan yang berhasil ditorehkan oleh atlet-atlet muda Bontec ketika gelaran kejuaraan tenis nasional Banyuwangi Open Yunior pekan kemarin. Dalam ajang tersebut, atlet-atlet Bontec baik dari putra dan putri total menyabet tujuh juara dalam berbagai kategori. Mulai dari kelompok umur (KU) 10,12 hingga 14 tahun.
Sebelumnya, banyak prestasi lain yang diraih klub yang didirikan sejak tahun 2000 ini. Misalnya ketika Guruh Hartono, salah satu atlet binaan Bontec yang berhasil juara di kejuaraan nasional U-18 di Tuban. Tak hanya itu, banyak petenis-petenis nasional yang juga lahir di klub ini. Misalnya Edy Kusdaryanto, Fendi Pradan hingga Rio Hastanto.
Di tengah banyaknya prestasi itu, klub ini ternyata memiliki banyak keterbatasan dalam pembinaan atletnya. Terutama dalam hal pendanaan. Tanpa pernah mendapatkan sentuhan dari pemerintah, Bontec Kademangan hanya mengandalkan sumbangan para dermawan untuk terus bisa eksis. Hal itu tentu sangat kontras bila dibanding dengan kontribusi yang sudah diberikan bagi pengembangan olahraga tenis di Bondowoso.
Awal pendirian Bontec sendiri sebenarnya untuk memberikan wahana olahraga bagi anak-anak di Kademangan. Dengan menyewa lapangan tenis di kelurahan tersebut, anak-anak diberikan kegiatan sehingga terhindar dari hal-hal negatif. "Kami inginnya anak-anak punya kegiatan positif ujar Puji Seringgit, pendiri yang sekaligus ketua Bontec Kademangan saat ini.
Dari situlah, kemudian banyak anak-anak dan remaja yang ikut bergabung. Mayoritas mereka dari keluarga yang kurang mampu. Namun hal itu tak menjadi penghalang bagi anak-anak tersebut untuk mengukir prestasi melalui olahraga tersebut.
Untuk peralatan, seperti raket dan bola tenis, misalnya, pengurus Bontec selalu berupaya untuk membantu atlet-atlet binaannya. Mereka mencari donatur untuk membantu ketersediaan alat-alat tersebut. "Seringkali kami membeli raket bekas. Karena kalau beli baru kan harganya mahal. Sebagian kami bantu anak-anak," ujarnya.
Selama latihan, karena mayoritas atletnya berasal dari keluarga kurang mampu, maka pengurus menggratiskan mereka. Tak ada pungutan biaya sedikit pun untuk latihan. Meski begitu, tim pelatih yang dikomandani oleh Suyitno senantiasa memberikan menu latihan yang terbaik.
Suyitno sendiri sebelumnya juga pernah menjadi atlet. Namun saat ini dia menjadi penjual es dengan sembari menjaga lapangan tenis Kademangan. Dalam melatih, dia juga tak meminta bayaran sedikit pun. "Saya hanya ingin agar anak-anak tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif sekaligus bisa meraih prestasi melalui tenis," ujar Suyitno, pria yang kini berusia 39 tahun ini.
Kejuaraan ke Luar Selalu Bawa Lem Sepatu
Kesulitan demi kesulitan selalu mendera klub ini. Khususnya ketika akan mengikuti kejuaraan di luar kota. Karena tak pernah mendapatkan dukungan dari pemerintah, khususnya Pelti selaku organisasi induk tenis, maka pengurus pun melakukan swadaya sembari meminta bantuan kepada para donatur.
Kondisi atlet saat mengikuti kejuaraan di luar kota juga sangat ironis. Untuk makan seadanya. Begitu juga dengan penginapan. Tak jarang mereka tidur di musala hingga di arena lapangan ketika bertanding di luar kota. Bahkan seringkali juga para atlet dan pengurus kehabisan uang untuk pulang ke Bondowoso.
Perlengkapan para atlet saat mengikuti kejuaraan pun cukup memilukan. Bahkan banyak atlet muda tersebut yang tidak memiliki kaus tenis. Sepatu mereka juga banyak yang ditambal. "Dalam setiap kejuaraan di luar kota, kami pasti selalu menyediakan lem untuk sepatu anak-anak. Karena pasti ada sepatu mereka yang jebol," ungkap Suyitno lantas terkekeh.
Kondisi tersebut benar-benar dia sayangkan. Mengingat banyak potensi vang dimiliki atlet-atlet junior binaan Bontec Kademangan. "Sebenarnya kita juga sudah pernah meminta bantuan ke Pelti, bahkan kita sudah mengajukan proposal sebanyak tiga kali. Tapi semuanya tak ada tanggapan," ungkapnya.
Ironisnya, bantuan justru datang dari luar kota. Salah satunya dari Pelti Tuban. Saat hendak mengikuti kejuaraan di Tuban, atlet dari Bontec Kademangan justru mendapatkan bantuan pendanaan dari Pelti Tuban saat itu. Sementara dari Pelti Bondowoso tidak ada sentuhan sama sekali.
Kendati begilu, pihaknya beserta dengan pengurus yang lain tetap bertekad untuk bisa terus eksis dengan segala keterbatasan yang ada. Kondisi keterbatasan yang dimiliki oleh klub sebisa mungkin tidak diketahui oleh para anak didik. "Yang pasti, kita dan teman-teman akan terus berusaha untuk menjaga semangat anak-anak. Karena potensi dan semangat dari anak-anak itulah yang membuat kami bisa terus bertahan selama ini," pungkasnya.
- Jawa Pos, 02/12/14 -
.jpg)