Sempol, Desa Modern di Kaki Gunung Ijen

Salah satu guest house di Desa Sempol, Bondowoso
Salah satu guest house di Desa Sempol, Bondowoso

Desa Sempol di kaki Gunung Ijen, Bondowoso tampaknya bukan desa biasa. Di desa ini pula traveler bisa menikmati panorama alam sekitar perkebunan kopi yang menawan. Desa Sempol disukai turis asing karena hawanya sejuk.

Kecamatan Sempol merupakan kawasan terakhir di kaki Gunung Ijen yang masih bisa dijangkau dengan menggunakan angkutan pedesaan (angdes) dari Terminal Kota Bondowoso. Ada cukup banyak mobil angdes yang melayani penumpang sampai ke Desa Sempol.

Sejenis mini bus elf yang mampu mengangkut penumpang hingga 18 orang. Dari Terminal Kota Bondowoso sampai Kecamatan Sempol kami harus membayar Rp 20.000/orang. Tarif ini sedikit lebih mahal dari informasi yang kami terima sebelumnya, yakni Rp 17.000.

Jarak Sempol dengan pusat Kota Bondowoso kira-kira 64 kilometer, itu bisa ditempuh dengan kendaraan selama 2 sampai 3 jam. Perjalanan menuju Sempol menjadi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kendaraan yang kami tumpangi banyak berhenti di sepanjang jalan Bondowoso-Sempol, maklumlah namanya juga angkutan umum.

Tidak hanya sekarung beras, sekotak telur atau bahkan seplastik besar mie kering yang turut diangkut mobil Pak Manan, sang sopir. Bahan-bahan bangunan seperti semen dan kapur juga diangkutnya. Angin semilir masuk melalui celah-celah jendela mobil Pak Manan, segarnya udara pedesaan selama perjalanan membuat saya dan anggota tim lainnya seolah terbius.

Mobil yang membawa kami kemudian berjalan perlahan melewati jalan utama Desa sempol. Di sebelah kanan-kiri jalan yang kami lewati tampak rumah-rumah warga lengkap dengan halaman yang ditanami bunga berwarna-warni dan terawat dengan baik. Sebelumnya saya mengira kalau Sempol adalah kawasan di kaki Gunung Ijen yang sangat terpencil dan memiliki kehidupan sosial yang sederhana, ternyata tidak demikian keadaannya.

Mobil Pak Manan terakhir berhenti di desa ini. Untuk melanjutkan perjalanan menuju pos Pal Tuding kami masih harus menggunakan ojek motor. Untuk seorangnya kami membayar Rp 30.000, dengan ojek motor ini pula kami menyusuri kawasan pedesaan Sempol. Salah satunya adalah Dusun Kalisat, Jampit yang terkenal dengan sentra perkebunan kopi arabika.

Perkebunan Kopi Arabika di kawasan Sempol ini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII. Mungkin karena keberadaan PTPN XII inilah yang menyebabkan kondisi Sempol terlihat maju. Seorang anggota tim kami menyebutnya, "Bak desa di pedalaman Eropa".

Di kawasan perkebunan kopi Jampit, Sempol juga kami temukan rumah-rumah peristirahatan (guest house) untuk wisatawan asing. Kawasan ini disukai wisatawan asing karena panorama alam sekitar perkebunan kopi yang memukau dan udaranya yang sejuk. Desa Sempol berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

Perkebunan Kopi Arabika di kawasan Sempol sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pengaruhnya hingga kini masih mewarnai perikehidupan masyarakat Desa Sempol. Adanya taman bunga yang terawat baik, guest house dan gelanggang olah raga merupakan contoh sederhana gaya hidup warisan Belanda yang hingga kini masih dipertahankan di desa ini.