Pedagang Sesalkan Sikap Pemkab, Tak Ada Komunikasi Dengan IP3I
![]() |
| PRIHATIN: Suaasana di dalam Pasar Induk Bondowoso setelah kebakaran. |
BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Ikatan Persaudaraan Pedagang Pasar Induk (IP3I) Bondowoso yang menampung segala keluh kesah para pedagang yang kios dan toko serta barang dagangannya habis terbakar, menyesalkan sikap Pemkab Bondowoso. Sejak terjadinya kebakaran pada Kamis dini hari (11/9) yang merugikan para pedagang puluhan miliar rupiah itu, Pemkab dinilai tidak berkomunikasi dengan IP3I.
Ketua IP3I Ustad Taufik mengatakan, seharusnya pemkab bertemu langsung dengan pengurus IP3I. "Sampai saat ini, kami belum diajak bicara oleh pemkab," katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, Minggu (14/9).
Apalagi ratusan pedagang pasar induk mengalami kerugian sangat, besar. Selain itu, modalnya yang merupakan pinjaman dari perbankan sudah habis terbakar." Kami memperkirakan modal yang habis terbakar itu mencapai puluhan miliar rupiah. Sebagian besar modal itu dari pinjaman perbankan,” terangnya.
Selain itu, para pedagang juga kebingungan untuk berjualan lagi. Karena, tokonya sudah habis atau ludes. Untuk itulah mereka ingin bertemu dengan pihak pemkab untuk membicarakan nasibnya. "Sebab, satu-satunya tempat untuk mencari makan atau mencari uang adalah di pasar induk," katanya.
Oleh sebab itu, IP3I sengaja mendirikan posko pengaduan bagi para pedagang. Apalagi, IP3I ini lembaga yang merupakan tempat menampung aspirasi para pedagang." Para pedagang sudah berkumpul dirumah kami. Mereka mengeluhkan tindakan pemkab yang kurang tanggap menyikapi paskah kebakaran ini," katanya.
Bahkan IP3I meminta Pemkab segera mencarikan solusi tempat untuk berjualan lagi. Karena,jika menunggu selesainya renovasi maka akan memakan waktu bertahun-tahun. “Kami ingin para pedagang ini segera mendapatkan tempat untuk berjualan lagi," terangnya. Saat ini, pihaknya sedang mendata nama-nama pedagang yang tokonya hangus terbakar. "Selain itu, kami mendata kerugian yang dialami para pedagang," katanya.
Sebaliknya jika pemkab membiarkan para pedagang itu terkatung-katung maka akan merugikan nasib pedagang. "Saya sendiri selaku ketua IP3I punya toko di dalam pasar Induk. Namun, toko dan isinya ludes. Saya mengalami kerugian ratusan juta rupiah," katanya.
Tidak heran, kata Taufik, jika kerugian para pedagang pasar induk ditotal, maka akan mencapai puluhan miliar rupiah. Apesnya lagi, sebagian besar pedagang itu meminjam uang di perbankan. "Ini harus dicarikan jalan keluar agar pedagang tidak terlalu sengsara," katanya. Terlebih lagi, pihak perbankan kabarnya tetap akan meminta pedagang mengembalikan kredit meski diberi waktu atau tempo cukup moderat. Tetapi, pedagang tetap saja akan kesulitan untuk bayar kredit pinjaman.
- Jawa Pos, 15/09/14 -
