Siswa SMK PP Tegalampel Juara I Karya Inovatif Kementrian Pertanian
![]() |
| Amalina Solehatin dan Ahmad Syaiful Anam (berjas) saat penyambutan di sekolahnya, usai memenangkan lomba di Jakarta. |
BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Kulit singkong dan daun brokoli bisa saja dianggap limbah. Tapi, di tangan dua pelajar SMK PP Negeri 1 Tegalampel, dua bahan organik itu bisa menjadi barang berharga. Kementerian Pertanian (Kementan) mengapresiasi keuletan dua pelajar itu menyulap limbah menjadi pupuk organik cair.
Dua pelajar yang berhasil meraih juara 1 ini adalah Ahmad Syaiful Anam dan Amalina Solehatin, keduanya pelajar kelas XII. Kepulangan kedua pelajar dari Jakarta ke sekolahnya disambut hangat para guru dan teman-temannya. Sebab, kedua pelajar yang mengikuti lomba karya inovasi bidang pertanian yang diikuti seluruh SMK se-Indonesia berhasil mengharumkan nama Bondowoso.
Karyanya berupa pupuk cair organik mendapatkan nilai tertinggi dari para juri. Sebab, pupuk organik buatan pelajar SMK PP Tegalampel bisa diproduksi masal dan dijual dengan harga murah ke petani.
Kepala SMK PP Tegalampel Anik Sudiartini yang menemani kedua anak didiknya tampak bangga. Apalagi, perjuangan kedua muridnya itu dilatarbelakangi ingin meringankan beban petani di Bondowoso. "Karena kita seringkali dihadapkan kepada masalah kesulitan pupuk," katanya.
Sebab itu, saat kedua siswanya itu menawarkan ide pembuatan pupuk cair organik dengan menggunakan bahan kulit singkong dan daun brokoli, dia sangat mendukung. "Awalnya saya sangat pesimistis, apakah mereka mampu membuat pupuk organik cair," akunya. Kemudian, Anik memanggil para guru pengajar di SMK PP untuk membantu penelitian kedua pelajar itu. Apalagi, banyak limbah daun singkong dan daun brokoli di lahan milik SMK PP. "Jadinya sampah atau limbah ini yang digunakan sebagai objek penelitian dan pembuatan pupuk organik cair," katanya.
Ternyata, kedua pelajar SMK itu benar-benar all out untuk menyulap limbah itu menjadi pupuk cair. Siang malam keduanya berusaha keras membuat pupuk organik cair. Setelah mereka berhasil membikin pupuk cair, harus membuktikan pupuk cair itu ke berbagai tanaman yang ada di lahan milik sekolah. “Alhamdulilah, pupuk cair itu berhasil membuat tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik,” katanya.
Tidak mengherankan, saat diadakan Lomba Karya Inovasi Pertanian yang untuk siswa SMK se-Indonesia oleh Kementan pada 15 Agustus lalu, karya kedua pelajar SMK PP itu diikutkan. "Ternyata, karya anak-anak saya ini berhasil menyisihkan karya peserta lainnya," katanya. Bahkan, karya pelajar SMK PP berhasil meraih juara 1.
Amalina Solehatin dan Ahmad Syaiful Anam sama-sama mengaku tidak percaya bisa meraih juara pertama dalam lomba tersebut. Apalagi, Kementan memberi rekomendasi bagi keduanya untuk masuk IPB Bogor tanpa tes. "Alhamdulilah, karya saya ini bisa dimanfaatkan oleh petani. Karena, pupuk cair ini bisa dibuat sendiri oleh siapa pun," kata Amalina.
Sedangkan proses pembuatan pupuk organik, tambah Ahmad, dengan mengumpulkan kulit singkong dan daun brokoli. Lalu, kulit singkong diambil bagian bawah kulit yang warna putih. Bagian putih itu dijemur selama 24 jam di bawah terik matahari. “Selanjurnya, bagian putih kulit singkong diblender," katanya.
Hasil blenderan itu diproses khusus melalui proses hidrolisa di sebuah laboratorium. "Tujuannya untuk diambil zat gula," katanya. Kemudian, zat gula yang diambil ini dicampur ke daun brokoli. "Campurannya ditambah air leri (cucian beras. Ked), air kelapa, dan air bersih." katanya.
Bahan bahan itu dimasukan ke sebuah tabung hingga beberapa hari. "Hasil campuran itulah yang nantinya menjadi pupuk organik cair," katanya. Sedangkan komposisi campurannya adalah 100 liter air bersih, air kelapa 10 liter, air leri 2 liter, daun brokoli 50 kg, dan air gula singkong 2 liter.
- Jawa Pos, 24/08/14 -
