Kepedulian Dr M. Fathurrazi, SE, MSi pada Koperasi
Kecil Jualan Apem, Dewasa Bertemu Presiden
LUGAS dan Humoris. Itulah yang dikenang mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Jember (Unej) dari sosok Dr M. Fathurrazi SE Msi. Dosen yang Kini menjadi dkan FE Unej itu dikenal oleh mahasiswa dan masyarakat
Sempat Dijauhi Teman cewek
Pria kelahiran Kabupaten Bondowoso ini juga Punya semangat gotong royong dan kekeluargaan yang tinggi.
Pak Rozi, demikian dia biasa dipanggil, begitu lekat dengan semangat gotong royong yang menjadi soko guru koperasi. Tak heran, setelah dekan menjadi FE Unej, berbagai bidang yang ditangani nya selalu dijiwai dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong.
Semangat itu kian bertempa setelah Fathurrozi bergelut dengan dunia koperasi. berkat keseriuasannya di bidang tersebut, dia pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 2013. (baca juga: Dr M. Fathurrazi, SE, MSi: Istiqomah Mengembangkan Koprasi Berbuah Prestasi)
Rozi menjadi satu-satunya penerima Satya Lencana Pembangunan yang berlatar belakang akademisi dari Jatim. Penerima lainnya didominasi Walikota dan Bupati, Seperti Walikota Surabaya, Bupati Malang, Atau Bupati Jombang. Pak Rozi juga pernah menerima penghargaan bintang Bhakti Koperasi dari Mentri Koperasi dan UKM pada 2009.
Di dunia literasi, Rozi sudah banyak menerbitakan buku bertema koperasi. Salah satunya buku Kapan dan Bilamana Berkoperasi, Ekonomi Koperasi, Manfaat Berkoperasi. Berkat Kiprahnya itu, Rozi banyak dipercaya menduduki banyak jabatan terkait koperasi. Antara lain, Komisi Pengawas Koperasi Simpan Pinjam Jatim dan Sekertaris Asosiasi Dosen dan Peneliti Koperasi Indonesia. "saya Juga mendapatkan amanah sebagai Ketua Koperasi KAUJE dan Pengawas Koperasi Ekonomi Masyarakat Sejahtera Fkultas Ekonomi," Kata Pria humaris yang S2 dan S3-nya mengambil bidang ilmu Koperasi ini.
Rozi sangat tertarik dengan bidang koperasi karena soko guru ekonomi Idonesia itu memiliki tujuan untuk kesejahteraan bersama. "Apa yang saya lakukan, Khususnya di Koperasi bukan semata-mata mencari penghargaan sana-sini. Melainkan apa yang diterapkan atau diajarkan saya mampu diterapkan oleh masyarakat untuk kesejahteraan bersama." Ujarnya.
Ketertarikannya pada semangat gotong royong yang mejadi ruh koperasi sebenarnya tidak lepas dari masa kecilnya. saat masih duduk di bangku SMP, Rozi sudah berjualan kue apem. "Jualan apem adalah rutinitas saya, pagi, siang, sore, kadang malam di jalanan, sehingga kulit menjadi gelap. Pernah naksir cewek, tapi tidak mau karena saya jelek dan hitam. Lantas saya Berkaca dan ternyata jelek juga," Ujarya sambil tersenyum.
Sejak saat itu Rozi kecil rajin membaca buku pelajaran. "sampai buku bacaan saya taruk di tembok kamar mandi, Nimba air sambil membaca, sampai full tembok dengan tulisan," ujarnya. Jerih payah Rozi ternyata membuahkan hasil. Rozi menduduki peringkat pertama disekolahnya. Sejak saat itu banyak teman perempuan yang mendekatinya.
Berangkat dari pengalaman terseut, Rozi kecil mengerti untuk disukai orang harus pinter. Untuk menjadi hebat harus pintar. "Semisal tidak berjualan apem, tidak akan hitam dan jelek begini. Dan juga tidak mungkin jadi seperti ini juga," candanya.
Akhirnya Rozi meneruskan kejenjang pendidikan lebih tinggi, yakni dibangku kuliah dan berlanjut menekuni kuliah S2 dan S3 dengan konsentrasi Koperasi. "Saya berjualan apem itu dari SMP sampai SMA. Masuk kuliah di Ekonomi Unej juga karena ingin mengembangkan bisnis apem milik kakek. Masuk Ekonomi Unej dimarahi guru SMA karena saya dulu dari IPA," ujarnya.
Saat itu, Universitas pelajaran Bandung satu-satunya kampus di Indonesia yang memiliki Prodi S2 dengan Konsentrasi koperasi. Dosennya langsung dari Jerman. Akhirnya dia paham bahwa apa yang dilakukan dulu dengan berjualan apem memakai konsep koperasi. Hasil berjualan apem menghidupi keluarga, warung yang menjadi mitra apem dengan model penitipan juga merasakan manfaat ada tambahan income. Serta sisa apem bisa dibuat makanan tambahan untuk yang tak orang yang tak mampu di sekitar lingkungannya. "koperasi itu alturlisme bukan individualisme bukan individualisme. Untuk mensejahterakan bersama," tegasnya.
Ubah Wajah FE Unej seperti Koperasi
Dr M Fathurrazi SE MSi sejak menjadi dekan membawa angin segar bagi fakultas Ekonomi Universitas Jember (FE Unej). Pak Rozi, sapaan, karibnya yang membangun jiwa koperasi dalam setiap gerak dan langkah FE Unej. Mahasiswa diajak membangun semangat koperasi. pun dengan karyawan. Bahkan, alumnus karyawan juga diajak bareng menumbuhkan jiwa koperasi di FE Unej.
Pak Rozi, benar-benar menginginkan kehidupan kampus di FE Unej menerapkan sistem koperasi. Keinginan pak Rozi pelan-pelan diwujudkan. Awalnya, pengelolaan kantin di FE Unej. Mahasiswa bersama karyawan dan masyarakat setempat diajak mengelola kantin bersama. Kemudian menyusul pengelolaan gedung Organisasi Mahasiswa (GOB) dan teman bersama. Ide brilian Pak Rozi menerapkan tiga tempat secara bersama-sama untuk kepentingan bersama pula.
Semangat koperasi sejatinya ditanamkan Pak Rozi sejak menjabat pembantu dekan III FE Unej. Tak heran, Sosok Fathurrazi adalah dekat dengan para aktivis kampus atau organisasi Mahasiswa (Ormawa) di FE Unej.
Ide-ide menarik, acara-acara ringan, Konsolidasi antar UKM pun sering tertunda karena tidak adanya ruangan di FE Unej untuk aktualisasi mahasiswa. Karena itu, Pak Rozi membangun GOB yang membangun konsep kebersamaan koperasi. Dana pembuatan gedung itu adalah sisa dana yang tidak di pakai oleh para Ormawa dan dibuatkan itu. Pengolahan dan pemakaian juga atas unsur bersama-sama para Ormawa.
Yang menarik lagi adalah pembangunan taman bersama FE Unej. Taman bersama diresmikan saat reuni Fe Unej berlangsung Mei 2013. Ormawa diberikan kebebasan mengatur taman bersama yang ada di depan sekertariat UKM. Setiap mahasiswa baru diminta membawa tanaman untuk di taman bersama.
Itu membuat rasa kepemilikan taman bersama lebih baik. karena mahasiswa yang merawat dan menjaga taman miliknya. "Taman ini konsumen dan produsen juga mereka sendiri. Sehingga manfaat nyaman teduh juga akan terasa bagi mereka sendiri," ujarnya.
Terakhir adalah pembuatan kantin bersama FE UNEJ yang diresmikan Desember 2013 lalu. Dinamakan kantin bersama, kata dia, karena para penjual beragam unsur. Yakni masyarakat, Dharmawaita FE Unej, perkumpulan pensiunan pegawai FE Unej sendiri. Termasuk mahasiswa.
Semua unsur menjual ini, kata dia, adalah orang yang membeli juga disana. Sehingga tercipta konsep bersama-sama menyejahterakan seperti koperasi. Selain itu yang berjualan tidak ada makanan dan minuman yang sama. "Fakultas Ekonomi Unej menjual bukan mencari untung ," ujarnya.
Namun, keuntungan dari itu akan digunakan untuk dana taktis. seperti dana kematian untuk karyawan dan lainnya'" imbuhnya.
Bikin TK dan Grup Musik
Peraih beragam penghargaan koperasi Dr M. Fathurrazi SE MSi tidak hanya membangun dan membina koperasi saja. Tapi juga membina masyarakat sekitar rumahnya di Desa Dawuhan, kec. Tenggarang, Bondowoso. Pak Rozi mendirikan TK dan Grup Musik sebagai bentuk bakti sosial kepada masyarakat.
Kediaman Fathurrazi rindang, nyaman dan unik. Itu kesan jawa Pos Radar Jember saat berkunjung dirumah pak Rozi. Begitu masuk ruang tamu terpampang beragam alat musik lengkap. Dari sound sistem, gitar, bahkan terdapat gitar ala Arab yang sering di pakai musik gambus. "Dulu hanya gitar dan drum Dik," ujar pak Rozi.
Pak Rozi menjelaskan alat musik tersebut diberi nama Ira gambus. Yakni perkumpulan grup gambus dari masyarakat sekitar. Dulu namanya adalah Sorkot band yang terbentuk 2004 dengan beranggotakan empat orang. seiring perjalanan waktu musik band anak muda tidak laku di daerah sekitar akhirnya berubah menjadi Ira gambus.
Pembemtukan group Band berawal itu sebagai wujud keprihatinan terhadap anak muda disekitar rumah pak Rozi yang sering menghabiskan waktu malam hari dengan minuman keras. Hingga Pak Rozi memilih musik sebagai aktivitas positif. Dia, berfikir dengan musik dan bermain band akan menarik perhatian anak - anak muda. Yang selanjutnya bisa meninggalkan dunia kelam tersebut.
Ada pengalaman menarik bagi Pak Rozi saat mendirikan PAUD dan TK. Pak Rozi mengakui sering di cemooh warga sekitar. "Membuka TK itu awal menikah, antara tahun 1986-1987 dan kelas nya berada di ruang tamu. Tenaga pengajar adalah istrinya sendiri, Halimah Spd. "Istri saya mengajar dan menyayi. Saya bagian dongeng kadang jadi badut, karena saya tidak hafal nyanyian anak-anak,"paparnya. Dia menuturkan dulu tahun 1986-1987 warga sekitar masih terisolasi dengan warga sehingga masih minim pendidikan.
Nah good people, Jika Anda tinggal di (sebagian) Indonesia. Sudahkah Anda memberi sumbangsih untuk bangsa dan negara ini?
