Bondowoso Kekurangan 800 Guru PNS

Bondowoso Kekurangan 800 Guru PNS

BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Jumlah ketersediaan guru PNS di Bondowoso terhilang masih cukup besar. Pada 2014 ini, setidaknya untuk sekolah dasar (SD) saja masih kurang 800 lebih guru. Untuk menyiasati hal itu, sekolah biasanya mengangkat tenaga honorer atau guru sukwan untuk mengisi kekosongan.

Suparto, Sekretaris Dinas Pendidikan Bondowoso membenarkan masih kurangnya jumlah guru untuk sekolah dasar tersebut. "Kekurangan terbanyak memang untuk SD. Sampai sekarang masih kurang 800 lebih guru," ujarnya.

Sementara itu, kekurangan untuk sekolah menengah juga masih terjadi. Khususnya untuk sekolah menengah kejuruan yang memiliki jurusan-jurusan khusus. "Untuk SMP hingga SMA memang kurang, tapi tidak banyak. Terutama yang kurang di SMK karena terkait dengan program studi. Sejumlah jurusan khusus tidak memiliki guru yang linier," jelasnya.

Kekurangan jumlah guru PNS tersebut juga membuat distribusi guru tidak merata. Khususnya di sekolah-sekolah yang berada di pinggiran. Bahkan menurutnya, ada sekolah di pinggiran yang hanya memiliki dua sampai tiga guru PNS saja. Sementara untuk di kawasan perkotaan, rata-rata sejauh ini sudah mencukupi.

Selain kekurangan jumlah guru kelas, saat ini jumlah guru olahraga menurutnya juga mengalami kekurangan. Hal itu karena selama ini belum ada pengangkatan guru olahraga baru. Sementara guru olahraga yang sudah ada sebelumnya saat ini sudah banyak yang memasuki masa pensiun.

Untuk menyiasati kekurangan jumlah guru kelas tersebut, biasanya sekolah setempat merekrut tenaga honorer atau guru sukwan. Sebenarnya, lanjut dia, berdasarkan aturan hal itu tidak boleh. Tapi fakta bahwa masih banyaknya kekurangan guru ini membuat sekolah juga tidak bisa berbuat banyak.

Rekrutmen tenaga honorer atau guru sukwan itu menurutnya menjadi kewenangan pihak sekolah. Mereka bukanlah tenaga honorer yang digaji oleh kabupaten. Tetapi mendapatkan honor dari sekolah.

"Karena kalau tidak ada inisiatif dari kepala sekolah, terus siapa yang mengajar. Jadi ini memang dilema," pungkasnya.


- Jawa Pos, 05/08/14 -