Monumen Gerbong Maut Lebih Berwarna
BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Ada pemandangan berbeda pada monumen Gerbong Maut yang terletak di sisi selatan Alun-Alun Bondowoso. Jika sebelumnya monumen didominasi warga hitam legam, kini tampak lebih cerah dengan aneka warna. Pemerintah daerah mempercantik dengan mengecat ulang Monumen Gerbong Maut sejak akhir Ramadan lalu.
Dalam tampilannya yang baru, monumen utama yaitu sebuah gerbong kini berwarna putih lusuh, serupa dengan warna gerbong kereta tua zaman dulu. Sementara sebanyak 13 patung-patung para pejuang juga diwarnai mirip dengan profesinya. Ada yang berwarna putih seperti baju khas pak haji hingga warna cokelat mirip tentara pembela ranah air (Peta). "Dengan aneka warna seperti sekarang, monumennya kelihatan lebih hidup," ujar Annisa, salah seorang warga kota.
Dalam sejarahnya, monumen Gerbong Maut mulai didirikan sejak era Bupati R. Soerono pada 1973 dan selesai pada Desember 1976. Monumen ini dibangun untuk mengenang peristiwa kelam Gerbong Maut pada 23 November 1947 menggugurkan puluhan pejuang Bondowoso.
Dalam beragam literasi sejarah, kejadian itu tepat pada hari Sabtu, sekitar pukul 04.00. Hal itu bermula saat sebanyak 100 tahanan kolonial Belanda mulai dipindahkan dari Bondowoso ke Surabaya. Para pejuang itu terdiri dari 20 rakyat desa, 30 dari laskar rakyat, 30 dari TKI serta 20 polisi.
Dari penjara, mereka digiring menuju stasiun Bondowoso dan diberangkatkan menggunakan tiga gerbong. Gerbong 1 GR5769 berisi 32 orang, gerbong 2 GR4416 berisi 30 orang serta 38 orang lainnya masuk di gerbong 3 GR10152.
Tepat pukul 07.30 WIB, kereta berangkat menuju Surabaya. Perjalanan berlangsung sekitar 16 jam. Sekitar pukul 20.00 WIB, tiga gerbong tersebut tiba di Stasiun Wonokromo. Sayangnya, akibat kondisi gerbong yang tak memadai, sebanyak 46 pejuang itu tewas, 8 orang di antaranya berada di gerbong 2 GR4416 dan seluruh penumpang di gerbong 3 GR10152 yang berisi 38 pejuang gugur.
- Jawa Pos, 05/08/14 -
