Pong Harjatmo dan Semangatnya Filmkan Sejarah Gerbong Maut

Pong Harjatmo dan Semangatnya Filmkan Sejarah Gerbong Maut
Pong Harjatmo (kiri) tengah mendengar penuturan Imam Syafi’i,
veteran berusia 96 tahun, yang menjadi pelaku sejarah Gerbong Maut.

InfoBondowoso.NET - Banyak hal bisa dilakukan untuk mengenang kembali sejarah heroik kepahlawanan. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pong Harjatmo, artis senior Indonesia ini. Dia hendak mengangkat kisah Gerbong Maut ke layar lebar.

Sejarah perjuangan rakyat Bondowoso dalam upaya lepas dari belenggu penjajahan Belanda tak bisa dipisahkan dari tragedi Gerbong Maut. Peristiwa pilu yang menewaskan puluhan pejuang Bondowoso tersebut terjadi pada 23 November 1947.

Beragam literasi sejarah mengisahkan, kejadian tersebut berawal saat beberapa bulan sebelumnya pasukan Belanda mendarat di kawasan Pasir Putih Situbondo, kemudian melakukan agresi militernya hingga ke Bondowoso.

Kedatangan pasukan Belanda disambut dengan perjuangan heroik pejuang Bondowoso. Karena kalah persenjataan, pejuang Bondowoso berhasil dipukul mundur. Namun, kegigihan karena tidak ingin dijajah kembali membuat para pejuang menggunakan taktik perang gerilya.

Taktik tersebut cukup jitu. Pejuang Bondowoso nyaris memenangkan pertempuran. Saat itulah, tentara Belanda menggunakan politik devide et impera.

Adu domba dijalankan. Banyak tokoh penting yang ditangkap. Belanda juga menggunakan mata-mata dari bangsa pribumi untuk menangkapi para pejuang Bondowoso.

Dari penangkapan besar-besaran tersebut, semua rumah tahanan di hampir setiap kecamatan penuh sesak. Sedikitnya 637 tentara dan pejuang rakyat meringkuk di sel tahanan Belanda. Melihat banyaknya tahanan, diputuskan untuk memindahkan beberapa tahanan, khususnya untuk kasus pelanggaran berat ke Surabaya.

Sabtu yang kelam, 23 November 1947, sekitar pukul 04.00, sebanyak 100 tahanan mulai dipindahkan. Mereka terdiri dari 20 rakyat desa, 30 dari laskar rakyat, 30 dari TRI, serta 20 polisi. Mereka digiring menuju Stasiun Bondowoso dan diberang katkan menggunakan tiga gerbong. Gerbong 1 GR5769 berisi 32 orang, gerbong 2 GR4416 berisi 30 orang, serta 38 orang lainnya masuk di gerbong 3 GR10152.

Tepat pukul 07.30, kereta berangkat menuju Surabaya. Perjalanan berlangsung sekitar 16 jam. Sekitar pukul 20.00, tiga gerbong tersebut tiba di Stasiun Wonokromo. Sayangnya, akibat kondisi gerbong yang tak memadai, seikitnya 46 pejuang itu tewas. Delapan orang diantaranya berada di gerbong 2 GR4416, dan seluruh penumpang di gerbong 3 GR10152 yang berisi 38 pejuang gugur.

Peristiwa kelam itulah yang menggugah rasa nasionalisme Pong Harjatmo. Dia ingin membawa kisah itu ke dalam bentuk visual, yaitu film. Namun, Pong tak ingin menggarap dengan asal-asalan. Referensi yang dia gunakan tak hanya literasi sejarah. Dia terjun langsung untuk menggali data-data otentik terhadap para pelaku sejarah maupun istri dan anak cucu mereka.

Jumat pekan lalu, Pong yang lahir di Solo 13 September 1942 ini datang langsung ke Bondowoso. Dia bertemu dengan sejumlah veteran yang dikemas dalam sarasehan ‘Gali Sejarah Gerbong Maut’ yang digelar di bekas Stasiun Bondowoso. Ratusan masyarakat Bondowoso hadir dalam kegiatan itu.

Bertemu dengan para veteran dan pelaku sejarah, pemeran dalam film Kerikil-Kerikil Tajam (1984) ini pun dengan semangat mendengarkan kesaksian mereka. Bahkan Pong mengajak sejumlah veteran perang kemerdekaan untuk naik ke atas panggung yang disediakan panitia. Dengan semangat pula, Pong mencatat apa yang mereka kisahkan.

Salah satu veteran yang mengutarakan kesaksiannya atas peritiwa yang terjadi pada 23 November 1947 itu adalah Imam Syafi’i. Veteran berusia 96 tahun yang kala itu berpangkat serda tersebut selamat dari peristiwa gerbong maut yang menewaskan 46 pejuang Bondowoso. “Saya selamat karena saya bisa Holand speaken,” ujarnya.

Dalam kisahnya, Syafi’i menjelaskan jika apa yang dilakukan oleh penjajah sangat di luar batas kemanusiaan. “Gerbong yang digunakan itu gerbong untuk hewan,” ujarnya.

Bahkan gerbong-gerbong yang digunakan untuk mengangkut para pejuang Bondowoso itu tidak memiliki ventilasi udara. Sehingga untuk bernafas saja, para tawanan yang hendak dibawa ke belanda itu harus bergantian melalui lubanglubang kecil di gerbong.

Pong juga mendengarkan kisah dari Ahmad Mujahid, ketua LVRI Bondowoso. Dalam kisahnya itu, Belanda pandai untuk menakut-nakuti para pejuang. Bahkan, saat kedatangan pertama kali di Bondowoso, Belanda melakukan show of force. “Belanda memamerkan seluruh persenjataan beratnya di Alun-Alun Bondowoso,” ujarnya.

Namun hal itu tak membuat pejuang gentar. Bahkan di beberapa penyerbuan, Belanda juga kewalahan. Salah satunya ketika pejuang melakukan serangan mendadak terhadap iring-iringan pasukan Belanda di Klabang. Belanda sempat kewalahan, meski akhirnya juga berhasil menguasai Bondowoso.

Pong Harjatmo sendiri meminta restu dan doa dari masyarakat Bondowoso agar rencana pembuatan film tersebut bisa segera terealisasi. “Nanti kita akan melibatkan pemuda dan pemudi Bondowoso dalam pembuatan filmnya,” ujar bintang film senior ini.

Pihaknya memang sengaja melakukan penggalian sejarah langsung kepada pelaku-pelaku gerbong maut. Direncanakan, dirinya juga akan meminta keterangan sejarah dari istri, anak serta cucu dari pejuang yang sudah meninggal. Itu diharapkan agar sejarah Gerbong Maut bisa digali lagi secara lebih detil.

Sedikit bocoran yang disampaikan oleh pihak panitia, film ini nantinya tidak hanya fokus pada kejadian Gerbong Maut. Namun ada kisah-kisah yang selama ini belum terungkap juga akan diangkat. Pong pun berharap, film tentang gerbong maut bisa menularkan semangat perjuangan seperti yang dilakukan oleh para pahlawan Indonesia kepada para generasi muda. “Kita harus terus memupuk kecintaan terhadap bangsa kita ini,” pungkasnya.


Jawa Pos (03/03/14)