Demo Sendirian Mahasiswa Asal Bondowoso Ini Baca Puisi Diatap Kampus
JEMBER, InfoBondowoso.NET - Ada-ada saja aksi protes yang dilakukan Anggara Ekky Saputra (22) mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Jember (Unej) berbuat di Luar dugaan, la nekat naik ke atas atap salah satu gedung di kampusnya ''Saya mewakili seluruh mahasiswa atas kebijakan baru tentang adanya jam malam ini kata Ekky sembari berteriak-teriak,'' Rabu (19/2) siang.
la berorasi seorang diri atau aksi unjuk rasa tunggal. Anggara yang mengenakan jas almamater Unej kala itu juga membacakan sebuah puisi dengan penuh ekspresi yang menggambarkan rasa kesal. Selanjutnya, remaja asal Kabupaten Bondowoso itu melepas jas almamater dengan bertelanjang dada melumuri tubuhnya dengan cat warna hitam. Kedua tangannya diangkat ke atas sebagai tanda kebebasan dalam berekspresi. Rupanya, aksi Anggara dilakukan dengan maksud memprotes keputusan Rektor Unej, Mohamad Hasan yang memberlakukan jam malam terhadap aktivitas mahasiswa.
Rektor melarang ada kegiatan di atas pukul 22.00 WIB dalam kampus. Selain itu, demonstrasi ini juga dilakukan Anggara untuk melawan Dosen Pembimbing Akademiknya (DPA), Latifatul Izza, yang mengancam bakal memberi sanksi Drop Out (DO). Ancaman DO bermula saat Anggara, menyebarkan tulisan berisi protes permberlakukan jam malam di kampus Unej.
"Sampai sekarang, saya tidak bisa melakukan registrasi online
untuk mengikuti perkuliahan yang akan datang. Hak - hak normatif akademis saya sebagai mahasiswa telah direnggut," tuturnya. Mengenai jam malam, Anggara berpendapat bahwa hal itu merupakan bentuk pengekangan terhadap kreatifitas mahasiswa. Ruang gerak organisasi mahasiswa akhirnya mulai dibatasi. Padahal, aktivitas mahasiswa selain kuliah banyak diluangkan pada malam hari."Jangan salah, mahasiswa yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) maupun bentuk organisasi mahasiswa lainnya melakukan kegiatan yang bersifat positif," kata mahasiswa Jurusan Sejarah ini.
Annisa, mahasiswa Fakultas Sastra menilai bahwa demonstrasi tunggal yang dilakukan Anggara
sangat tepat. Dukungan atas aksi melawan Rektor Unej terus bertambah. "Sebab dia berani melawan kebijakan kampus yang tidak berpihak pada mahasiwa," ucapnya.
Humas dan Protokoler Unej, Agung Purwanto, menegaskan, kampus tidak akan memberi sanksi DO
kepada mahasiswa yang bersikap kritis. Sanksi DO hanya diterapkan kepada mahasiswa yang memiliki tingkat pelanggaran berat dalam hal akademis dan administratif.
Misalnya, nilai mata kuliahnya E (alias nol) semua. Sehingga, mahasiswa tidak dapat menyelesaikan studinya sampai batas akhir 14 semester. "Yang demikianpun kami masih memberi toleransi dengan perpanjangan 2 (dua) semester," jelas bekas aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini.
Maka dari itu, ia akan mengusut ancaman DO dari Lailatul Izza yang kebetulan selain DPA-nya Anggara, Juga menjabat Pembantu Dekan (PD) II Bidang Administrasi dan Keuangan Fakultas Sastra. Soal batasan jam malam di Kampus, Agung menerangkan untuk menghindari hal-hal buruk yang kemungkinan bakal terjadi. Kebijakan itu bertujuan menjaga citra Unej di mata masyarakat.
Sebelum ini, sekretariat organisasi mahasiswa dijadikan tempat nongkrong hingga larut malam.
Bahkan, aktivis mahasiswa memanfaatkan sekretariat yang berada di dalam kampus sebagai tempat tinggal layaknya kos-kosan.
"Sekret bukan cuma untuk beraktifitas aktivis, tapi juga sebagai tempat kos 'gratis'.
Pada pagi hari saat mahasiswa kuliah, aktivis yang ada di sekret baru bangun dan belum mandi. Apalagi, pada saat kumpul pada malam juga ada yang berlainan jenis. Bukan kami berpikiran negatif, tapi kondisi kampus jadi kurang nyaman," ungkapnya, Agung.
Sumber
