Ketika Aktivis Hijau Madani Kampanyekan Diet Tas Plastik
Bahaya keberadaan sampah plastik yang sulit terurai di tanah membuat para aktivis lingkungan dari Hijau Madani ini tergerak. Mereka mengkampanyekan kepada masyarakat untuk melakukan diet penggunaan tas plastik.
"Plastik adalah salah satu limbah sulit terurai secara alami di tanah. Bahkan seratus tahun pun belum bisa terurai," ujar Slamet Riyadi, ketua Hijau Madani saat ditemui di sela-sela aksi Kampanye Diet Tas Plastik yang dia lakukan sepekan lalu. Saat itu, Slamet bersama dengan anggota Hijau Madani lainnya kompak menggunakan kaus berwarna hitam. Di bagian depan kaus tersebut tertulis, "Gue Diet Tas Plastik, Loe?".
Sekilas, persoalan sampah plastik memang terkesan remeh. Bahkan banyak orang yang masih acuh dengan membuang sembarangan sampah plastik. Padahal jika tak dikelola dengan baik, sampah plastik memiliki dampak yang cukup besar terhadap kelestarian lingkungan. Dalam inventarisasi yang dilakukan oleh Hijau Madani yang bermarkas di Tamanan ini, berbagai dampak negatif sampah plastik kini mulai dirasakan masyarakat.
Salah satunya adalah di kalangan petani. Akibat banyaknya sampah plastik yang dibuang sembarangan ke sungai, lahan pertanian kini banyak tercemar. Kondisi tersebut tentu menyulitkan petani saat hendak bercocok tanam. Jika hal itu terus dibiarkan, sampah plastik yang sekilas sepele itu akan menjadi masalah besar di masa depan. Dalam skala yang lebih besar, penggunaan plastik yang terus meningkat juga berakibat terhadap berkurangnya cadangan energi fosil.
"Plastik itu kan terbuat dari minyak. Pembuatan plastik selama ini juga telah banyak menghabiskan cadangan minyak," ujarnya.
Melihat berbagai persoalan tersebut, para aktivis Hijau Madani mulai tergerak untuk mengurainya. Kampanye yang mereka sebut dengan Diet Tas Plastik mulai dilakukan. Namun di sisi pemecahan persoalansampah plastik, mereka menawarkan solusi. Yaitu pemanfaatan limbah plastik menjadi barang-barang berekonomi yang bisa dijual.
Sekitar dua tahun terakhir, para aktivis ini aktif dalam mengajak masyarakat untuk membuat barang-barang seperti tas dan dompet dengan mendaur ulang sampah plastik. Awalnya mereka mengajak para siswa dari SMAN 1 Tamanan untuk terlibat. Bersama para siswa tersebut, mereka mengumpulkan sampah-sampah plastik.
Selanjurnya, sampah-sampah itu diolah menjadi tas dan dompet. Beberapa penjahit di Tamanan yang sebelumnya diinformasikan tentang pentingnya pelestarian lingkungan dilibatkan. Mereka akhirnya sampai saat ini semakin kreatif dalam membuat berbagai tas dan dompet dari sampah plastik.
Selain itu, para aktivis Hijau Madani juga memanfaatkan turis yang datang ke desa Wisata Tamanan untuk terlibat dalam kampanye pemanfaatan sampah plastik. Seperti pepatah bilang, 'Segendang Sepenarian', turis-turis itu ternyata juga senang ketika diajak untuk mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah plastik.
Salah satu turis yang antusias adalah Barbara Pichard. Sekitar dua hari, perempuan asal Prancis begitu semangat mengajari masyarakat tentang pengelolaan sampah plastik. Banyak ilmu yang dia bagikan. Apalagi, selama empat bulan, dia pernah menjadi volunteer di sekitar Danau Toba tentang pengelolaan sampah.
Barbara ternyata cukup senang berada di Tamanan. Dia merasa masyarakat sangat antusias berbagi ilmu tentang pengelolaan sampah dengannya. Hal itu mengingat puluhan orang ikut terlibat saat Barbara berbagi ilmu. "Orang-orang di sini sangat antusias saat diajak untuk peduli pada lingkungan," ujarnya senang.
Berbagai upaya yang dilakukan oleh aktivis Hijau Madani tersebut perlahan-lahan mulai menampakkan hasil. Sejumlah penjahit kini telah mahir dalam membuat tas maupun dompet dari daur ulang sampah plastik. "Sekarang juga sudah mulai banyak yang pesan produk-produk dari binaan kita," tambahnya.
Kendati begitu, banyak tantangan dan cibiran yang juga dirasakan oleh para aktivis Hijau Madani. Salah satunya ketika ke mana-mana Slamet selalu menggunakan tas plastik hasil kreasi binaannya. Banyak yang bilang dia sebagai pemulung. Namun Slamet acuh. Baginya, mengubah pemikiran orang lain memang memiliki banyak tantangan. Dicibir dan diremehkan baginya tak lantas membuatnya patah arang.
Selain kampanye yang terus dilakukan, dia juga berharap semua pihak juga terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan, khususnya dalam menanggulangi persoalan sampah plastik. Di bidang pendidikan, misalnya, seharusnya pemerintah daerah mulai menekankan pengetahuan tentang lingkungan. Salah satu hal paling sederhana adalah penyediaan tempat sampah khusus organik dan an-organik. Dengan seperti itu, kedisiplinan siswa sudah diasah sejak dini. "Ini yang masih belum optimal dilakukan di sekolah-sekolah," ujar Iswahyudi, aktivis Hijau Madani lainnya.
Selain itu, terkait perajin produk-produk hasil daur ulang dari sampah plastik, pemerintah seharusnya juga ikut terlibat dalam memberikan pembinaan. Sehingga, secara kualitas dan kuantitas, hasil produk mereka semakin baik. "Persoalan lingkungan ini menjadi tanggung jawab kita semua. Kalau tidak dimulai sekarang maka kapan lagi?" pungkasnya.
Selain pengelolaan sampah plastik menjadi tas atau pun dompet, langkah lain yang dilakukan oleh para aktivis Hijau Madani ini dengan membuat sampah-sampah plastik tersebut menjadi polybag tanaman. "Untuk polybag ini nanti kita akan tanami aneka jenis tanaman buah. Seperti durian, alpukat hingga petai. Setelah siap tanam, nanti kita akan sebarkan ke masyarakat pinggiran hutan yang juga menjadi binaan kita," ujar Joni, aktivis Hijau Madani lainnya.
Radar Jember, Jawa Pos (12/12/2013)
