Pensiunan Dinas Sosial Kab. Bondowoso, Masuk Nominator Bung Tomo Award

13 Nominator Penerima Bung Tomo Award III-2013

SURABAYA,– ACARA penganugerahan penghargaan Bung Tomo atau Bung Toomo Award III tahun 2013, berlangsung Kamis, 14 November 2013, Tropi dan piagam, serta penghargaan kepada lima penerima akan diserahkan oleh Gubernur Jatim Dr.H.Soekarwo di gedung negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo 7 Surabaya.

Calon penerima Bung Tomo Award (BTA) tahun 2013 ini semuanya berasal dari Jawa Timur. Mereka menerima penghargaan atas prestasinya di bidang: Sosial, Pendidikan, Lingkungan Hidup, Kesehatan dan Seni Budaya, ujar Ketua Umum Badan Pelaksana Bung Tomo Award III-2013, HM Yousri Nur Raja Agam.

Para calon penerima BTA ini adalah usulan masyarakat yang disampaikan kepada Badan Penyelenggara BTA 2013. Saat dibuka pendaftaran swebulan lalu, sebanyak 38 calon yang masuk. Setelah dilakukan seleksi administrasi, hanya 21 yang masuk pada penilaian layak. Kemudian, dilakukan investigasi dan pelacakan ke alamat dan lokasi kegiatan calon, maka 13 calon masuk dalam nominasi pemilihan akhir, Dari 13 itu, akan disaring lagi oleh dewan juri untuk menentukan penerima BTA III-2013 nanti.

Inilah para nominator tersebut:




Rachmad Utojo

1. Rachmad Utojo

Bapak dua anak yang asli Surabaya, sehari-hari bekerja sebagai seorang marketing perusahaan asuransi. Aktif sebagai anggota komunitas tunjungan ikon Surabaya dengna utama njejegno Tunjungan kembali ramai seperti masa lampau dan menjadikannya sebagai Ikon kota seperti Jogja memiliki Malioboro, Bandung memiliki Dago ataupun Bali dengan Kutanya.

Bukan pionir dalam kegiatannya karena banyak melibatkan komunitas-komunitas lain dalm menjalankan program kegiatannya. Yang dilakukan adalah melaksanakan tampilan seni budaya di kawasan Tunjungan, misalnya ngamen atau menapilkan parikan khas Suroboyo saat Car Freeday kemudian mengadakan Festival Tunjungan dan Baksos tiap bulannya di kawasan Tunjungan. Tidak mendapatkan penghasilan dari kegiatan yang dijalankan. Karena konsistensi kegiatannya selama setahun terakhir, kegiatan di kawasan Tunjungan mulai marak kembali.




Mansur Hidayat

2. Mansur Hidayat

Warga Tempeh Lumajang yang berwiraswasta sebagai pengusaha kuliner kecil-kecilan memiliki kesukaan yang besar terhadap benda-benda bersejarah peninggalan masa lampau dan sejarah. Sepulang dari perantauan keluar dari Lumajang tepatnya tahun 2010, Mansur menemukan fakta adanya Situs Biting (Benteng, bahasa Madura).

Setelah didalami ulang dari berbagai informasi dari masyarakat maupun Balai Arkeologi Yogyakarta ditemukan fakta bahwa Situs Biting (konon) adalah peninggalan langsung dari Adipati Arya Wiraraja yang merupakan penasehat spiritual langsung dari Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit.

3. Condro Lukito

Pemuda dari Kepanjen Malang adalah seorang seniman pembuat topeng Malangan yang cukup berbakat. Darah seni menurun dari orang tua kandungnya yang juga seniman tradisi. Perkenalannya dengan seniman reog dan jathilan (Jaranan Malang). Pekerjaannya sehari-hari adalah operator mesin di Pabrik Kertas dekat rumahnya.

Namun saat ada tetangga atau orang sekitarnya mengundangnya beserta sanggar miliknya untuk menghibur, maka dia mengambil cuti dari pabrik dari tempatnya bekerja dan tampil bersama dengan anak didik dan kawan-kawannya seperjuangan dalam mempertahankan seni tradisi khas Malang Selatan yang asli Ponorogo.

4. Supari

Seorang pria tengah baya yang sehari-hari bekerja di dinas perhubungan Sidoarjo dan tercatat sebagai anggota Tagana (taruna siaga bencana) binaan dinas sosial. Ia pernah mendapatkan tugas melakukan pendampingan kepada warga korban bencana lumpur lapindo Sidoarjo. Tugas awalnya sebagai penjaga dapur logistik korban bencana membuatnya dekat secara personal dengan para pengungsi.

Di sela-sela kedekatannya itu dia kemudian menjadi pendamping dan motivator pada para pengungsi untuk melakukan segala usaha yang positif dan tidak anarkhis dalam kaitan mendapatkan haknya. Kini banyak sudah warga dampingannya yang bisa mendapatkan hak yang mesti mereka dapatkan dari bencana lumpur Lapindo. Kemudian beberapa orang yang didampingi inilah yang kemudian mengusulkan Supari untuk menjadi salah satu penerima anugerah Bung Tomo Award 2013.



Evi Handajani

5. Evi Handajani

Ibu Ketua RT di sekitar kawasan prostitusi terbesar di Surabaya, gang Dolly. Evi panggilan ibu ini dituntut untuk lebih care ke lingkungan sekitarnya. Pekerjaannya sehari-hari adalah pedagang jajanan pasar yang dibuat pada dini hari saat orang-orang masih terlelap. Disela-sela dia membuat roti inilah kemudian terjadi interaksi dengan beberapa orang PSK (Pekerja Seks Komersial) yang ingin mengubah nasibnya.

Evi sendiri awalnya adalah anggota binaan dari LSM yang bernama CCCM yang khusus menangani pendampingan kepada PSK Dolly. Dari ratusan PSK binaannya 29 PSK yang didampingi akhirnya benar-benar keluar dari dunia kelam itu. Ada yang usaha salon, ada yang pulang kampung kemudian menjadi penjahit bahkan ada yang murni menjadi Ibu RT dari suami yang mau menerimanya menjadi wanita normal.

Evi pernah mendapatkan penghargaan pekerja sosial masyarakat berprestasi terbaik (kedua/runner up terbaik) dari pemerintah kota Surabaya. Dari apa yang dikerjakan (mendampingi para PSK) dia tidak memperoleh penghasilan, namun ada sedikit dana bantuan operasional manakala dia berhasil mendapatkan penghargaan dari Pemkot Surabaya.



6. KH. Rafiudin

Tokoh masyarakat terpandang di daerahnya menjadikan beliau diberi amanah oleh gurunya untuk membantu pengelolaan PAM (Perusahaan Air Minum) swasta. PAM swasta ini yang tertua di Kabupaten Sumenep. Masalah keterbatasan SDM pengelola-pengelola PAM swasta ini yang sebelumnya, membuat Rafiudin yang sehari-hari menjadi pedagang mente dan guru mengeluarkan banyak dana pribadi untuk mempertahankan eksistensi PAM yang dikelolanya.

PAM ini menjadi satu-satunya harapan warga sekitarnya yang beradius hingga 5 Km dari pusat pengelolaan PAM, yang terdapat sumur tanah satu-satunya di kecamatan Dasuk, Sumenep. Sumur ini airnya dimanfaatkan oleh 300 KK para pelanggannya hingga kini. Ketabahan, kesabaran dan kemauannya untuk mengelola sumur tanah (baca PAM Swasta) ini selama lebih dari 20 tahun menjadikannya pionir di bidangnya.

Dari hampir 20 tahun kiprahnya mengelola, baru 3 tahun terakhir ini dia mulai mendapatkan seratus hingga duaratus ribu rupiah dari pelanggannya sebagai ganti operasional Rafiudin. Uang itu jarang sekali dipakai untuk memenuhi kebutuhannya pribadi yang sudah banyak tercukupi dari usaha dagangnya, karena dana itu lebih sering dipakai untuk maintenance perkakas pelengkap seperti pipa air, mur atau baut aus yang sudah lama belum banyak digantikan sejak awal dibuat 2 dasa warsa terakhir.



Moch. Rothmianto

7. Moch. Rothmianto
Pria yang terdaftar sebagai PNS kabupaten Magetan, namun tinggal di Ponorogo. Sehari-hari Rothmianto bertugas menjaga perpustakaan salah satu SDN di Magetan. Berawal dari pemikiran bahwa banyak pustakawan di perpustakaan yang ada tidak memiliki software klasifikasi buku koleksi perpusatakaan sebagai identifikasi buku koleksi, Rothmianto akhirnya menciptakan EDDC.

Kita bisa mengenal lebih dekat software ini di http://www.e-ddc.org/. Yang menjadikan pionir adalah, diluar negeri badan pustakawan internasional membuat tarif antara 3 s/d 6 juta rupiah berlangganan per tahun. Sementara buku panduannya sendiri sangat tebal dan menggunakan bahasa dasar, bahasa Inggris. Software ciptaan Rothmianto dibiarkan gratis untuk bisa diunduh orang Indonesia manapun yang membutuhkan karena menggunakan bahasa dasar Bahasa Indonesia.

Dalam prakteknya software yang tahun ini sudah masuk revisi ke 23 kalinya sejak pertama kali dipublikasikan 6 tahun lalu, sudah di unduh lebih dari 10.000 kali dan melewati batas negara. Karena beberapa pengguna adalah orang Malaysia, Singapura, India dan terjauh berasal dari Ethiopia. Pengguna luar Indonesia menyayangkan mengapa tidak ada seri bahasa Inggris dari software ini sehingga mereka juga bisa menikmati EDDC yang gratis dan mudah diaplikasikan.

8. Fauzan

Bersama istrinya yang dosen salah satu PTN di Jember, Fauzan mengelola sekolah Informal pertama di Jember. Menjadi pionir untuk bidang kegiatannya. Namun pilihan mereka untuk terus menghidupkan sekolahsekarnadi (sekolah luar ruang tanpa mengikuti kurikulum yang ditetapkan kemendiknas), menurut banyak orang seperti menegakkan benang basah.

Sisi positif dari kegiatan mereka adalah perjuangan mereka bahwa siapapun berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan murah (terjangkau). Khususnya anak-anak jalanan dan kurang mampu secara finansial, lebih khusus lagi anak-anak yang karena tekanan sikon baik dari keluarga maupun alas an budaya/tradisi akhirnya harus keluar dari sekolah lebih awal karena pernikahan atau alasan klasik karena tidak memiliki biaya.

Dari kegiatannya mereka tidak beroleh pendapatan lebih namun hanya cukup untuk operasional sekolah ala kadarnya. Tidak pernah mendapatkan penghargaan dari lembaga manapun tapi bagi anak didiknya mereka adalah pahlawan yang sesungguhnya. Dari puluhan anak didik yang telah merasakan sekolah sekarnadi, 2 orang bisa meneruskan sekolah hingga tingkat PT dan lulus.




9. Untung Sutrisno

Untung adalah seorang pensiunan Dinas Sosial Kabupaten Bondowoso. Seperti masih kurang dengan pengabdiannya selama ini saat menjadi PNS. Setelah pensiun bersama putrinya dan salah seorang rekannya dia mendirikan lembaga swadaya masyarakat dan menjadikan warga sekitar hutan arak-arak di Bondowoso menjadi binaannya.

Untung memberdayakan masyarakat binaannya dengan program penghijauan, bakti sosial kesehatan dan berbagai pelatihan peningkatan kualitas diri warga sekitar hutan. Tanpa modal besar mereka manfaatkan berbagai program dari pemerintah maupun CSR perusahaan untuk pemberdayaan masyarakat binaannya, dalam rangka peningkatan kualitas SDM masyarakat. Menjadi salah satu pelopor kegiatan sejenis di sekitar wilayahnya. Bukan merupakan mata pencarian utamanya, karena menurutnya uang pensiun dari profesinya sebagai PNS sudah mencukupi dia dan keluarganya.




10. Mahendra

Sehari-hari Hendra demikian kawan-kawan dekatnya memanggil adalah jurnalis lepas beberapa media. Sebagai jurnalis idealis, dia menulis berita dari berbagai sudut pandang disertai dengan pendalaman luar biasa terutama dari hasil investigasi yang intens dengan berbagai narasumber yang kompeten. Hendra yang warga Surabaya baru akan menampilkan hasil investigasinya dalam bentuk karya jurnalistik, apabila dia merasa apa yang ditulisnya telah berdasarkan bukti-bukti otentik.

Hampir setahun terakhir dia menulis adanya penyimpangan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Hydro oleh sebuah perusahaan multinasional dengan nilai Triliunan rupiah di sekitar hulu Kali Kromong Pacet Mojokerto. Pacet yang beberapa kali mengalami bencana longsor, menjadi perhatian khusus Hendra. Hasil Investigasinya menunjukkan adanya pembangunan di atas sungai yang tidak berdasarkan AMDAL yang berlaku.

Anehnya setelah ditelusuri izin untuk proses pembangunan semuanya sudah dimiliki oleh perusahaan pemilik bangunan. Dalam prakteknya ada temuan Hendra yang menunjukkan bahwa Kali Kromong yang lebar sungainya normal 10 meter pada daerah sekitar bangunan menyusut tinggal separuhnya. Setelah meyakinkan berbagai Institusi terkait mulai dari tingkat kabupaten, provinsi sampai kementrian Lingkungan Hidup di Jakarta selama hampir setahun akhirnya keluarlah keputusan pembangunan PLTH di atas Kali Kromong diberhentikan.


11. Siti Umi Hanik

Hanik adalah lajang putri asli Lamongan. Namun program DIET TAS KRESEK yang dia gagas bersama komunitasnya, LSM bernama NOL SAMPAH dilakukannya di Surabaya sebagai sentral baru kemudian menyebar di kota sekitar Surabaya. Inti program ini adalah mengurangi penggunaan Tas Plastik dalam kehidupan masyarakat. Tas plastik yang menurut keyakinannya tidak mudah di daur ulang sangat berbahaya bagi tubuh manusia, karenanya dalam berbagai kesempatan kampanyenya dia sampaikan untuk mengganti tas kresek dengan tas kain.



12. Achmad Guntur
Guntur adalah warga asli Driyorejo – Gresik Selatan. Disekitar tempat tinggalnya masih banyak sawah dari petani yang digarap berdampingan dengan banyaknya pabrik dan industri dari para industriawan nasional. Dia yang sehari-hari adalah pemilik toko yang menjajakan berbagai produk Informasi Tehnologi (baca komputer dan asesorisnya), merasa terpanggil untuk ikut membela kepentingan tetangganya khususnya yang berprofesi sebagai petani.

Setahun terakhir Guntur yang menjadi simpatisan LIRA Sidoarjo dan anggota binaan KLH (Konsorsium Lingkungan Hidup) Surabaya mulai menjalankan advokasinya di bidang lingkungan hidup. Para petani Driyorejo yang lahan pertaniannya sering mendapatkan "kiriman" limbah cair berbahaya dari pabrik sekitar persawahan adalah sahabatnya. Guntur mengambil posisi sebagai "corong" bagi masyarakat petani untuk memperjuangkan hak mereka agar bisa tetap bertani tanpa areal persawahannya dicemari limbah cair berbahaya.




13. Untung Rifai

Untung adalah warga Sampang kelahiran Lamongan. Sehari-hari dia dalah guru Bimbingan Konseling di SMKN Sampang. Di luar jadwalnya bertugas sebagai PNS, dia aktif dalam sanggar "Tikar Sakerah" yang salah satu konsernnya di samping sebagai pemerhati kehidupan anak juga di kesehatan reproduksi remaja. Banyak anak usia belia (baca, anak ABG) yang tertarik kemudian bergabung dan menjadi relawan dari tikar sakerah dan menjadi relawan untuk berkampanye anti narkoba dan anti seks bebas.

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja yang masih tabu di kalangan anak-anak muda Sampang disampaikan oleh Untung dengan kemasan yang menarik sehingga hal yang tadinya tabu bisa lebih diterima dengan mudah oleh anak muda Sampang maupun orangtuanya. Beberapa apresiasi telah diterima Untung melalui sanggar binaannya, khususnya dari BKKBN kabupaten maupun Provinsi Jawa Timur.


Sumber