Sofiah, Merintis Batik Khas Bondowoso dari Nol
![]() |
| Sofiah (menggunakan jilbab biru) bersama pekerjanya (foto: koleksi pribadi Sofiah) |
Modal dari Orang Tua, Tiga Bulan Tak Laku
Usianya masih 19 tahun. Tubuhnya kurus. Tapi, gairahnya dalam mengembangkan batik khas Bondowoso sangat besar.
Keahlian membatik Sofiah mulai didapat dari saat dia menimba ilmu di SMK Tamanan. Dia mengambil spesialisasi jurusan batik di sekolah tersebut. Tak hanya melalui materi di sekolah, Sofiah kian mempertajam keahliannya saat mengikuti praktek kerja industri (prakerin) di tempat produksi batik.
Saat duduk di bangku kelas dua, gairah wirausahanya mulai muncul. Dengan berkonsultasi dengan salah seorang guru di sekolahnya, akhirnya diputuskan untuk membuat sanggar batik yang dia beri nama Sanggar Batik Lumbung. Lumbung adalah nama dusun dimana Sofiah tinggal.
Rencana itu kemudian dia presentasikan kepada orang tuanya. Johari, ayah Sofiah, pada prinsipnya setuju dengan rencana bisnis anaknya. Namun apa daya, modal tak ada. Untuk memulai bisnis batik itu memang dibutuhkan modal tak sedikit. Untuk peralatan saja bisa menghabiskan modal hingga jutaan rupiah.
Namun tak beberapa lama berselang, akhirnya Sofiah berhasil meyakinkan ayahnya. Diputuskan untuk menjual sepetek tanah sebagai modal awal. "Waktu itu saya dimodali Rp 10 juta", kenang Sofiah yang memiliki sanggar di Dusun Lumbung, Desa Sukosari, Tamanan.
Dari modal itulah, perempuan kelahiran 12 Januari 1994 ini mulai mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di sekolah. Bersama dengan tiga orang temannya, dia mulai membatik berlembar-lembar kain. Harapannya membuncah. Lembaran-lembaran batik itu akan laku keras. Mengingat kualitsnya yang dia perhatikan betul.
Namun semuanya tak berjalan mulus. Ibarat pepatah bilang, jauh panggang dari api. Kenyataan tak seperti yang dia bayangkan. Puluhan lembar batik yang dia bikin dalam tiga bulan tak ada yang laku. Padahal sudah jutaan rupiah yang dia keluarkan untuk itu. "Dalam tiga bulan pertama itu, saya sempat frustasi", kenangnya.
Tapi, Sofiah tidak ingin tekatnya berakhir dengan kegagalan. Dia berusaha mencari solusi. Khususnya dalam memasarkan hasil produksinya. Hingga akhirnya, dia mendapatkan jalan untuk memasarkan hasil produksinya di Surabaya. Dari situlah, perlahan-lahan pasarnya mulai terbuka.
Seiring waktu, bisnisnya makin berkembang. Omsetnya tumbuh. Bahkan, dia sudah dipercaya untuk mendapatkan kredit di salah satu bank untuk membesarkan usahanya. Pesanan juga datang dari orang-orang penting di Bondowoso. "Ibu Bupati, Ibu Sekda dan Ibu Kajari sampai sekarang rutin langganan", ujarnya.
Sadar bahwa produknya mulai dilirik orang, Sofiah mulai memperketat kualitas produksinya. Sejauh ini, dia banyak bermain di motif-motif lokal Bondowoso. Diantaranya, motif kopi, daun ketela, hingga strawberry. "Untuk motif binatang, saya biasa pakai capung dan kupu-kupu", ujarnya.
Untuk menjaga batik tak cepat luntur, untuk pewarnaan dia tidak menggunakan metode celup. Tapi dengan metode poset, semacam dikuas. "Proses penguncian warna dengan poset ini, minimal butuh 10 jam. Sehingga secara otomatis warna tidak cepat luntur", ungkapnya. Sementara untuk warna sendiri, dia mengandalkan warna-warna cerah.
Spesialisasi warna cerah dalam lembaran-lembaran batik produksinya membuat Sofiah mendapatkan tawaran pasar di Malaysia. "Karena disana banyak yang suka warna-warna cerah atau berani", ungkapnya. Kini untuk memasarkan di Malaysia, dirinya masih menunggu proses turunnya sertifikat batik mark dari Dekranas.
Sebagai pembatik muda asli Bondowoso, Sofiah tak bisa menahan kegembiraannya saat produknya dipakai oleh peserta dalam pemilihan Kacong Jebbing Bondowoso. Bahkan produknya juga dipakai perwakilan Bondowoso dalam gelaran pemilihan Raka - Raki Jawa Timur 2013.
Namun begitu, ada segelintir harap yang terus menyelinap dalam angannya. Yaitu bagaimana pemerintah daerah juga memiliki peran dalam membesarkan budaya batik di Bondowoso. Setidaknya dengan membuka peluang pasar bagi para pembatik yang sebenarnya tak banyak di Bondowoso.
Selain itu, dia juga berharap agar perhatian pemerintah daerah juga memberikan perhatian terhadap pengusaha batik yang baru tumbuh. Terutama untuk bantuan alat. "Saya rasa perhatian pemerintah daerah masih kurang. Tiga kali saya mengajukan proposal bantuan alat sampai saat ini belum ada realisasi", ujarnya.
Namun yang tak kalah penting baginya adalah bagaimana menumbuhkan kecintaan warga Bondowoso terhadap produk lokal Bondowoso. Hal itu sebenarnya bisa dimulai dengan tauladan dari para elit-elit pemerintah. "Saya sering lihat banyak pejabat Bondowoso yang justru memilih menggunakan batik dari luar Bondowoso", pungkasnya.
- Jawa Pos | Senin, 8 April 2013 -
Facebook: Sofiah Lumbung Batik / Batik Bondowoso
Twitter : @batikbondowoso
Website : www.batikbondowoso.com (toko online)
Twitter : @batikbondowoso
Website : www.batikbondowoso.com (toko online)
