Pemkab Bondowoso Bentuk Tim Ahli Cagar Budaya

Pemkab Bondowoso Bentuk Tim Ahli Cagar Budaya

BONDOWOSO - Dinas Pariwisata, Pemuda Olahraga dan Perhubungan (Disparporahub) Bondowoso, mulai membentuk tim ahli cagar budaya daerah. Hal itu berkaitan untuk penetapan dan pengapusan cagar budaya mana yang akan jadi ikon kota tape ini.

Hery Kusdaryanto Kasi Sejarah dan Purbakala Disparporahub mengatakan, sejak November kemarin sudah ada calon tim ahli cagar budaya daerah Bondowoso. Dari 15 orang, hanya tujuh orang yang berangkat ke Jakarta untuk mengikuti asesment tim ahli purbakala. "November kemarin sudah berangkat ke Jakarta," tambahnya.

Hingga kini, kata dia, masih belum diketahui apakah ketujuh orang tersebut lolos jadi tim ahli purbakala atau tidak. Menjadi tim ahli itu, tambah Hery, harus mendapatkan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). "Ya sampai sekarang kami menunggu," tambahnya.

Unsur tim ahli purbakala tersebut, terdiri dari akademisi, LSM, budayawan dan pegawai dinas yang berkaitan. Keberadaan tim ahli ini, menurut Hery sangat penting bagi Bondowoso, mengingat banyaknya peninggalan batu megalitikum. Keberadaan tim ahli ini juga untuk mengantisipasi kasus-kasus perusakan cagar budaya di Bondowoso. Contohnya, alih fungsi bangunan cagar budaya, termasuk juga pencurian benda cagar budaya.

Selama ini, tambah dia, tidak ada penetapan cagar budaya termasuk juga batuan megalitikum yang ada di Bondowoso. Sebab menurut UU no 11 2010 Tentang Cagar Budaya, penetapan status cagar budaya benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota harus berdasarkan rekomendasi tim ahli cagar budaya.

Sedangkan tim ahli cagar budaya menurut UU nomor 11/2010, adalah kelompok ahli pelestarian dari berbagai bidang ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk memberikan rekomendasi penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan cagar budaya. "Lah di sini membutuhkan tim ahli itu ada prosesnya, ada sertifikat kompetensi secara nasional," tambahnya.

Tim ahli cagar budaya sendiri nantinya akan dilantik berdasarkan Surat Keputusan (SK) dari Bupati. Jika ada penetapan paling tidak benda cagar budaya ini terdaftar secara nasional. "Kalau tidak ada penetapan, ya sulit memberantas kerusakan atau pencurian," imbuhnya.

Arti penetapan tim ahli cagar budaya, tambah pria yang menyelesaikan studi arkeolog Udayana ini, bukan meneliti benda dan menyatakan benda ini cagar budaya atau tidak. "Ya yang sudah ada, dan pasti benda cagar budaya, tim ahli menetapkan," tambahnya.

Dia menyontohkan untuk batu Solor, di mana banyak traveler mengatakan bahwa susunan batu itu merupakan peninggalan megalitikum hingga kini masih jadi perdebatan. Kondisi itu bukan tim ahli cagar budaya yang menetapkan, apakah batu itu megalitikum atau tidak. Melainkan butuh penelitan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), sekaligus menetapkan batu Solor megalitikum atau tidak. "Saya lulusan arkeolog saja tidak bisa menetapkan Solor itu megalitikum atau tidak," tambahnya.

Dari sana, tim ahli akan membuat peringkat benda cagar budaya di Bondowoso. "Berapa kerusakannya, kondisinya. Data yang hendak ditetapkan dan dirangking dari dinas," tambahnya. Dari sana, akan diserahkan tim cagar budaya lalim selanjutnya ke nasional. "Rangking ini untuk menetapkan cagar budaya mana yang jadi ikon Bondowoso," jelas pria berkacama tersebut.

Lanjut Hery, tim ahli cagar budaya daerah juga ada jumlah minimal, yaitu lima orang. "Kalau ada empat, berarti satunya dari tim ahli cagar budaya Jatim," imbuhnya. Hal itu berkaitan dengan diskusi dan menentukan penetapan.

Dia mengakui menjadi tim ahli cagar budaya yang mendapatkan sertifikat dan BNSP tidak mudah. "Kalau tidak salah, tim ahli cagar budaya di Jatim hanya lima orang saja," ucap Herry. Dia mengaku saat masih kuliah di Arkeolog di Udayana, rujukan penelitian batuan megalitikum di Jember dan Bondowoso. Tapi Bondowoso lebih banyak penyebarannya.

Untuk batu megalitikum, Hery menyebut Bondowoso bisa dikatakan terkaya. Sebab jumlahnya sangat banyak, juga dikatakan terlengkap karena jenis batu-batu peninggalannya beragam. Kadang batu-batu peninggalan jaman megalitikum ini berserakan tidak jauh dari jalan kota, sawah-sawah, sungai, dan di tepi-tepi jalan kecil, hingga perkampungan.

Di antara ribuan batuan itu, yang selama ini yang paling dikenal di Bondowoso adalah dua menhir dan arca. Arca itu berada di Desa Pakauman Kecamatan Grujugan, sekitar lima kilometer di sebelah selatan kota Bondowoso. Orang Bondowoso yang mayoritas berbahasa Madura menyebutnya Beto Nyae (batu nyai, red).

baca juga: Legenda Arca Nyai Punggungi Gunung Raung

Beto Nyae memiliki tinggi 153 sentimeter dan tebal 52 sentimeter. Lingkar dadanya berukuran 60 sentimeter, sedang lingkar kepalanya 46 sentimeter. "Arca Beto Nyae berada di tengah sawah, belakang pabrik sumpit," jelasnya.

Batu nyai ini, kata dia, konon dipercaya sebagai Dewi Kesuburan, sehingga beberapa masyarakat yang sawahnya dekat dengan batu nyai masih memberikan sesaji. "Kalau mengetahui arca berjenis kelamin laki-laki yang masih utuh di Musim Mpu Tantular, Sidoarjo, arca itu juga dari Bondowoso," ujarnya. Banyak orang menebak jika itu adalah pasangan dari arca batu nyai, meski secara ilmiah itu belum dipastikan.

- Radar Ijen, 17/12/15